MasukRaut dingin di wajah Arney sama sekali tidak berkurang.Dengan suara dingin dia berkata, "Orang yang menyelamatkan nyawaku adalah dia. Sejak kapan itu jadi kamu?""Baik, baik, anggap saja pacarmu yang selamatkan kamu. Tapi aku juga nggak punya dendam ataupun masalah sama kamu. Kenapa kamu menyanderaku seperti ini?"Dokter hampir menangis. Kalau sejak awal dia tahu gadis yang terlihat cantik dan pendiam ini ternyata begitu berbahaya, dia pasti tidak akan membiarkan Ray pergi secepat itu."Kalau begitu katakan padaku, di mana dia sekarang? Kenapa sudah selama ini dia belum kembali? Apa dia meninggalkanku begitu saja?"Wajah Arney tetap dingin. Dengan gigi terkatup dia berkata, "Ingin kabur begitu saja tanpa bertanggung jawab? Mimpi!"Di dalam mobil tadi, hampir seluruh tubuhnya sudah dilihat oleh Ray. Terlebih lagi, siapa yang tahu apakah Ray sudah menebak identitasnya dan pergi melaporkan keberadaannya di rumah sakit kepada orang lain?Arney tidak berani mengambil risiko itu. Dia juga t
Aku menjelaskan kondisi Arney kepada dokter dengan cepat."Ke sini!" Dokter mengangguk. Begitu mendengar kata racun ular, ekspresinya langsung berubah serius.Aku segera meletakkan Arney di atas ranjang pasien. Dokter langsung mulai memeriksanya, menanyakan waktu gigitan dan ciri-ciri ular yang menggigitnya.Saat ini kondisi mental Arney masih cukup baik. Dia menjawab semua pertanyaan dengan lancar. Melihat hal itu, aku akhirnya merasa tenang. Aku keluar lebih dulu dari ruang gawat darurat untuk mengurus pembayaran.Ketika kembali, dokter sudah menyelesaikan pemeriksaannya. "Kamu bawa pacarmu ke sini tepat waktu dan penanganan awal yang kamu lakukan juga sangat baik.""Kebetulan rumah sakit kami memiliki serum untuk jenis ular tersebut. Pacarmu sudah dibawa untuk disuntik serum, jadi nggak perlu khawatir. Dia akan baik-baik saja."Mendengar ucapan dokter, aku menghela napas lega. Namun, aku juga teringat kembali pada penampilannya yang berbahaya saat menodongkan belati."Dokter, dia bu
"Tapi melihat caramu meronta tadi, apa jangan-jangan kamu memikirkan hal yang nggak-nggak?"Mendengar pertanyaanku, rona merah malu sempat melintas di wajah wanita cantik itu. Dengan keras kepala dia membalas, "Ng ... nggak! Kamu yang mikir nggak-nggak!""Sudahlah. Berbaring saja di kursi belakang. Sekarang aku antarin kamu ke rumah sakit. Kalau ada bagian tubuhmu yang terasa nggak nyaman selama perjalanan, segera kasih tahu aku. Bertahanlah sedikit lagi, kamu akan selamat."Aku tidak terlalu memedulikan bantahannya. Karena racun di tubuhnya masih belum sepenuhnya aman. Aku kembali ke kursi pengemudi dan menyalakan mobil, lalu melaju langsung menuju rumah sakit di Kota Cloudia.Tanpa kusadari, wanita cantik di kursi belakang terus menatapku tanpa berkedip.'Ternyata pria ini cukup terhormat juga. Memang dia sudah mengambil keuntungan besar dariku, tapi dia benar-benar menyelamatkan nyawaku ....''Hanya saja, cara bicaranya menyebalkan. Apa maksudnya aku yang berpikiran nggak-nggak? Mem
Aku masih membutuhkan obat untuk menghambat penyebaran racun ular ....Obat barat maupun serum antibisa jelas tidak ada. Namun, aku ingat ada sejenis tanaman liar di pinggir jalan yang memiliki efek pereda nyeri dan penawar racun. Sekarang aku hanya bisa mengandalkan keberuntungan!Dengan hati berat, aku mengamati lingkungan di luar mobil ke segala arah. Terutama tumpukan semak dan rumput liar, berharap menemukan tanaman obat yang kucari. Namun di mata wanita itu, tindakanku saat ini terlihat seperti tanda bahwa aku akan melakukan sesuatu yang buruk padanya di tempat ini!"Bajingan! Aku kira kamu orang baik, ternyata kamu juga sampah! Apa yang kamu lihat? Lagi cari apakah ada orang di sekitar sini, lalu berniat melakukan sesuatu padaku, ya? Jangan mimpi! Aku lebih baik mati daripada membiarkanmu berhasil!"Wanita itu merasa takut sekaligus malu, terus memakinya tanpa henti.Saat ini kedua kaki jenjangnya masih berada di pundak Ray. Pose yang memalukan itu malah membuat segalanya semaki
"Pangkal paha?"Aku sedikit tertegun dan tanpa sadar mengalihkan pandangan ke sana.Wanita itu mengenakan celana jeans. Di tempat yang dia tunjuk memang terlihat dua lubang kecil bekas taring ular. Darah masih terus merembes keluar dari sana ...."Kenapa bisa kamu digigit di tempat seperti itu?" Aku benar-benar bingung dan tidak bisa memahaminya sama sekali.Namun, di wajah wanita yang semula dingin itu sudah muncul semburat merah tipis. Sambil menggertakkan gigi, dia berkata, "Bisa nggak kamu cepat sedikit? Aku yang dirugikan saja nggak mengeluh. Kenapa kamu yang jadi pria malah merasa canggung?"Mendengar hal itu, aku pun tersadar.Dia benar. Tidak peduli seberapa memalukannya lokasi gigitan itu, yang terpenting saat ini adalah menyelamatkan nyawa."Baiklah. Tapi celana jeans setebal itu ...."Baru setengah kalimat keluar dari mulutku, wanita itu langsung memotong dengan nada dingin sambil menggertakkan gigi. "Aku lepas! Masuk ke mobil dan tutup pintunya. Jangan sampai ada orang yang
"Jadi lepaskan saja. Aku janji nggak akan pergi ke tempat lain, aku bakal langsung antar kamu ke rumah sakit! Aku dulu seorang pemadam kebakaran, kamu harus percaya sama aku."Begitu kata-kata itu terucap, wanita itu terdiam beberapa detik, lalu perlahan menarik kembali belati di tangannya. Dengan nada dingin, dia berkata, "Aku nggak peduli siapa kamu.""Segera antar aku ke rumah sakit. Kalau nggak, akan kutusuk kamu sampai mati! Jangan meragukanku, dan jangan coba-coba mempermainkanku!""Nggak masalah."Aku mengangguk pasrah.Detik berikutnya, aku langsung menginjak pedal gas dan melaju menuju rumah sakit terdekat di Kota Cloudia, berharap mereka memiliki stok serum antibisa yang sesuai. Kalau tidak ....Meski aku tidak tahu siapa wanita itu, dan dari kebiasaannya membawa belati ke mana-mana terlihat jelas bahwa kemungkinan besar dia bukan orang baik.Namun bagaimanapun juga, itu adalah nyawa seseorang. Menyelamatkan nyawanya terlebih dahulu, lalu melapor ke polisi nanti juga belum te







