Saat Sintia masih melancarkan aksinya, dari ujung jalan Dea dan Dimas berjalan kaki dengan peluh membasahi dahi. Dimas menenteng dua kantong kresek besar berisi sayur-mayur, telur, dan dada ayam, sementara Dea membawa kantong berisi buah-buahan. Mereka baru pulang dari pasar. Tiap minggu, mereka memang belanja ke pasar berdua untuk stok selama seminggu ke depan. "Mbak, habis ini mbak yang rebus ayamnya ya, aku mau mandi dulu abis itu cek pesanan atau packing," ucap Dimas dengan senyum cerah."Iya, Dim. Makasih ya. Nanti kita buat sop sama goreng ayam," balas Dea lembut.Langkah keduanya mendekati gerobak Bang Oji. Seperti biasa, Dea memasang senyum ramahnya untuk menyapa para tetangga."Mari, Ibu-ibu, Bang Oji. Sayurnya seger-seger amat hari ini," sapa Dea sopan, menundukkan kepalanya sedikit.Namun, alih-alih balasan ramah seperti hari-hari sebelumnya, keheningan mencekam seketika menyergap. Ibu Lis membuang muka, sibuk membolak-balik tempe seolah tempe itu benda paling menarik
Terakhir Diperbarui : 2026-03-26 Baca selengkapnya