ログインDiterima kerja sebagai baby sitter. Kupikir majikanku adalah bos kecil yang lucu dan menggemaskan, tapi ternyata diluar dugaan. Aku justru disuruh merawat seorang bujang lapuk yang arogan.
もっと見る“Kasih sisa makanan ke mereka aja. Mungkin bisa buat makan malam. Aku yakin mereka sering kelaparan, nggak bisa makan enak.”
Budhe Umayah memberi perintah pada Bi Nurul. Yang diperintah pun manut saja, buru-buru membungkus semua makanan sisa khitanan itu dengan plastik bening lalu memberikannya pada Emak yang masih sibuk cuci piring di dapur.
"Yang ini tinggal kuah-kuahnya aja, Mbak. Masa iya dimasukin sekalian? Apa nggak dibuang saja?" Bi Nurul masih menimbang-nimbang sayur sop di hadapannya.
"Masukin aja semuanya. Lumayan itu masih ada sari-sari dagingnya, Nur. Mereka terbiasa makan sama tempe, jadi makan begini sudah cukup mewah.” Budhe Umayah menyahut. “Biar irit juga. Jadi, jatah masaknya bisa ditabung buat beli rumah. Kasihan 'kan, udah nyaris 20 tahun menikah, mereka masih betah ngontrak."
Rasanya begitu sesak tiap kali melihat Emak dan Bapak begitu diremehkan keluarga besar hanya karena kemiskinan kami. Tapi aku tidak bisa melakukan apa pun.
Budhe Umayah adalah istri dari kakak Emak. Keluarga mereka punya usaha bengkel motor dan mobil yang menghasilkan. Sementara Bi Nurul adalah adik ipar Emak. Keluarga mereka adalah juragan lele di kampungku.
Padahal, usaha-usaha tersebut adalah dari hasil penjualan tanah warisan Emak dari kakek. Tapi mereka bukannya membantu saudara sendiri, justru menghina.
"Las, kalau sudah beres ganti halaman belakang ya! Tadi ada beberapa tamu yang makan-makan di sana. Jangan lama. Nanti kukasih upah. Lumayan, bisa buat bayar kontrakan."
Emak tak menjawab sepatah kata pun. Beliau hanya mengangguk lalu buru-buru ke halaman belakang sesuai perintah kakak iparnya.
"Kamu juga, ngapain bengong di situ–eh, kamu lihatin Hasbi?" tuduh Budhe.
Beberapa orang langsung menoleh ke arahku.
"Sadar diri kamu, Na. Lihatin dia sampai lepas bola matamu pun tak akan membuat dia melirikmu. Kalian berbeda, bagai langit dan bumi. Jadi, jangan mimpi terlalu tinggi!"
Tuduhan itu akhirnya menyulut kemarahanku. Aku nyaris membalas ucapan Budhe, hanya saja lagi-lagi Emak menyikut lenganku, memintaku mengalah dan diam.
"Fokus saja sama kerjaanmu. Nggak usah lirik sana sini segala. Ganjen banget jadi perempuan,” lanjut Budhe Umayah lagi. ”Mending kamu buruan beresin dapur. Itu sampah di ruang tamu sama ruang tengah juga masih banyak.”
Aku menghela napas pelan dan perlahan bangkit.
Namun, belum juga sedetik, aku mendengar suara nyaring Budhe Umayah kembali berkumandang.
"Na! Budek ya!? Diajak ngomong orang tua kok diam saja.” Budhe membentak. “Begitu tuh didikan orang yang nggak SD aja nggak tamat!"
"Cukup, Budhe!” Akhirnya aku tidak tahan. “Kalau tak menghinaku dan keluargaku sehari saja, apa akan membuat Budhe muntah-muntah? Kenapa sih terus menghina Emakku?”
Dadaku naik turun karena emosi.
“Asal Budhe tahu, Emak memang nggak sekolah karena dia mengalah. Dia rela di rumah saja agar kedua saudara lelakinya bisa sekolah! Harusnya Budhe berterima kasih pada Emak, bukannya–”
Plak!
Belum selesai bicara, tangan mulus itu sudah menampar pipiku di depan orang banyak. Meski begitu, tak ada satu pun yang berniat menolong sebab mereka memang tak ingin berurusan dengan Budhe yang cukup disegani di kampung ini.
"Tutup mulutmu! Nggak sadar apa kamu, bisa sekolah sampai lulus SMA juga karena aku, budhemu!” bentak Budhe begitu kesal. “Kalau nggak aku yang biayain kamu sekolah, nasibmu akan sama seperti emakmu itu. Bodoh dan miskin. Tahu kamu!?"
“Meski Budhe yang bayar, tapi aku–”
Emak buru-buru menarik pergelangan tanganku lalu minta maaf pada Budhe atas kelancanganku.
Padahal aku cuma ingin mengatakan bahwa meski dibayari oleh Budhe, tapi aku tak ongkang-ongkang kaki.
Aku belajar keras, bahkan mengerjakan semua tugas dan pekerjaan rumah anak Budhe yang dibangga-banggakan itu. Dia terima beres karena memang malas berpusing ria. Aku juga membantu di tokonya sepulang sekolah.
Aku bukannya tidak tahu terima kasih. Namun, Budhe sudah keterlaluan.
"Man! Nasehati anak sulungnya itu supaya belajar sopan santun. Anak sekolahan kok nggak punya unggah-ungguh. Kaya nggak pernah dididik saja!"
Saat Bapak datang, Budhe langsung mengadu.
Bapak yang baru saja masuk rumah setelah membereskan halaman, mendadak terdiam lalu menatapku lekat saat mendengar bentakan Budhe Umayah. Meski hanya dengan menatapku dan tanpa bicara sepatah katapun, aku tahu jika Bapak ingin aku mengalah.
Aku membisu.
"Na ...." Emak menggoyang lenganku dengan mata berkaca.
"Riana nggak salah, Mak. Ngapain minta maaf segala?" protesku untuk ke sekian kalinya.
"Mengalah dan minta maaf belum tentu salah kok, Nak. Itu hanya secuil bentuk hormat pada orang yang lebih tua," bisik Emak lirih sembari mengusap lenganku.
"Tapi seharusnya sebagai orang tua juga memberi contoh yang layak, Mak. Bukan menghina-hina orang begitu.” Kutarik perlahan tangan Emak, tapi wanita bermata teduh itu justru terisak. Dia tak beranjak dari tempat duduknya dan tetap memintaku untuk minta maaf.
Melihatnya seperti itu, jelas aku tak tega. Akhirnya, aku pun mengikuti perintahnya untuk minta maaf pada wanita modis itu meski sebenarnya enggan.
"Aku minta maaf kalau banyak salah, Budhe." Aku berucap lirih, mencoba meredam kekesalan dalam dada.
"Kenapa? Takut nggak bisa bayar kontrakan dan nggak bisa makan?" Wanita paruh baya itu justru menyindir.
"Nggak usah dibantu kalau masih belagu, Ma." Sesil, sepupuku, tiba-tiba menimpali. Dia melirikku sinis lalu membuang muka. "Oh ya, Na. Jangan pernah menggoda Mas Hasbi ya! Ingat, kamu itu siapa dan dia itu siapa. Dia bakal nikahin aku dua tahun lagi setelah dia lulus kuliah. Jangan jadi perempuan penggoda!”
Aku tidak menanggapi.
Sejak dulu dia memang terlalu berambisi dengan Mas Hasbi. Kakak tingkatku itu memang memiliki pesona yang di atas rata-rata. Selain tampan, kaya dan ramah, dia juga pintar soal akademik.
Pesonanya membuat banyak teman seangkatan bahkan adik ataupun kakak kelas jatuh hati. Mungkin aku pun sama, hanya saja benar kata Sesil, aku cukup tahu diri.
"Ambil nih! Ingat, ajari anakmu sopan santun dan jangan belagu kalau kamu masih butuh duitku!"
"Iya, Mbak. Nanti akan kuajari kedua anakku untuk lebih menghormati orang lain, apalagi orang yang lebih tua dari mereka," ujar Emak lembut dengan senyum tipis.
“Tahu sendiri kan, selama ini mereka bergantung pada kita? Hasil dari jualan kopi sama cuci setrika berapa sih? Jangan sok.” Budhe menatap tajam pada Emak yang melangkah perlahan sembari sedikit membungkukkan badan saat mengambil amplop putih itu dari atas meja.
Tak ingin ribut lagi, Emak membawa kami pulang. Bapak yang baru mengambil motornya dari halaman belakang hanya menatap kami bergantian.
"Ada apalagi?" tanyanya singkat.
"Biasalah, Pak. Mak Lampir sama nenek sihir!" sahut Liana, adikku, yang mendapatkan cubitan Emak. Takut jika dua perempuan itu kembali mendengar ucapan Liana.
"Mbak, aku doakan Mbak lekas dapat kerja supaya mereka tak terlalu merendahkan kita," ucap Liana dengan mata berkaca.
Aku mengangguk pelan lalu buru-buru mengambil handphone jadulku saat terdengar ada sebuah pesan masuk di sana.
[Mbak Riana ya? Bapak meminta Mbak Riana untuk sudah ada di rumah sebelum pukul tujuh pagi besok. Ada beberapa hal yang akan Bapak jelaskan, terutama soal Mas Rama.]
[Dan gaji serta bonus Mbak juga.]
Aku tersenyum tipis saat membaca pesan itu.
Waktunya untuk membuktikan pada keluarga besar Emak yang sombong itu jika aku juga bisa sukses tanpa harus terus tunduk, mengalah dan merendahkan harga diri di depan mereka.
Aku ingin lihat bagaimana reaksi Budhe Umayah, jika mereka tahu aku akan bekerja di bawah naungan Pak Ginanjar, pengusaha properti sukses di kampung sebelah yang tak sengaja kutolong saat kecelakaan kemarin malam.
Apalagi sebagai asisten pribadi putra sulungnya.
Lampu-lampu gantung di aula pernikahan masih menyala, namun suasananya telah jauh berbeda. Kursi-kursi yang tadinya penuh tamu kini mulai kosong, menyisakan kerabat dekat yang sibuk berpamitan. Di sudut ruang VIP, Hanif duduk dengan kancing jas yang sudah terbuka. Wajahnya kaku. Tangannya terus menggenggam ponsel, menunggu kabar yang tak kunjung datang."Minum dulu, Mas," Dea mengangsurkan segelas air putih, lalu duduk di samping suaminya. "Wajahmu tegang sekali."Hanif menerima gelas itu tanpa meminumnya. "Mana mungkin aku tidak tegang?”"Ibu sudah bilang, Laksmi adalah adiknya. Wajar jika seorang kakak merasa khawatir," sahut Dea lembut, mencoba mengusap lengan Hanif yang terasa keras karena emosi.Hanif mendengus. “Beliau bahkan bukan adik kandung,” ucapnya. “Hanya sepupu yang kemudian dirawat oleh keluarga Ibu.”“Dan sekarang, setelah dia sekarat, dia mengirim anaknya untuk menagih bantuan? Benar-benar tidak tahu malu.”Hanif tidak bisa menerima kenyataan bahwa di hari bahagianya
“H-halo?” Naura mengangkat panggilan telepon itu dengan jantung berdebar.“Dengan saudari Naura, wali Ibu Laksmi?”“Benar.”"Kami ingin menginformasikan bahwa kondisi pasien memburuk. Dokter ingin saudari Naura segera ke rumah sakit untuk tindakan lebih lanjut.”Naura merasa suara di sekelilingnya tiba-tiba hening, tidak bisa diproses otaknya. Ia tidak ingat bagaimana ia menjawab ataupun mengakhiri panggilan. Karenanya, ia tidak tahu kalau Bu Farida mengambil alih telepon dan berbincang dengan pihak rumah sakit setelahnya.Saat dirinya sadar, Naura sudah ada dalam mobil menuju rumah sakit.Naura duduk di kursi belakang, bersama Bu Farida. Di depan, Rama mengemudi tanpa banyak bicara. Riana sesekali menoleh ke belakang, tapi tidak berkata apa-apa.Naura menatap jendela. Jalanan tidak terlalu macet tapi terasa sangat panjang.Seharusnya ia bisa bergerak lebih cepat. Waktu terbuang sia-sia karena Naura sempat ragu meminta pertolongan keluarga kakak ibunya lantaran sang ibu menolak keras.
Karpet merah di bawah lutut Naura terasa kasar. Jahitan benangnya menggores kulit melalui celana jeans tipis, tapi Naura tidak bergerak. Di sekelilingnya, ia mendengar tamu-tamu berbisik. Mungkin mulai bergosip, tidak hanya sekadar bertanya-tanya, tapi mulai membuat asumsi sendiri. Namun, Naura tidak peduli—ia sudah kehabisan rasa malu sejak lama. Meski begitu, Naura menunduk. Ia tidak berani menatap wanita paruh baya di hadapannya. "Ibu saya sedang sekarat." Naura mengulurkan amplop putih kusut itu dengan kedua tangan. "Gagal hati akut. Dokter bilang waktunya singkat, harus segera ditindak. Tapi saya tidak punya biaya. Di sini ada surat-suratnya semua, Ibu bisa cek sendiri." Tidak ada yang menyambut amplop itu. Naura menelan ludah. "Mohon bantuannya, Bu. Kalau soal biaya, saya sanggup cicil. Saya kerja. Saya serius." Suara Naura mulai retak di ujungnya. "Atau kalau Ibu mau syarat apa pun, saya dengarkan. Andalah satu-satunya harapan saya." Dalam hati, Naura tahu bahwa ib
Naura memandangi keluarga bahagia di hadapannya dengan perasaan aneh. Gadis itu masih berdiri tak jauh dari pintu depan aula sejak sepuluh menit yang lalu, tidak bergerak. Mau maju enggan, tapi untuk mundur dia tidak bisa. Tidak peduli orang-orang mulai menatap aneh pada dirinya.Jelas saja. Pakaian Naura tidak bisa dibilang layak untuk dikatakan sebagai tamu acara pernikahan Hanif dan Dea, sepasang mempelai yang sedang berbahagia.Tapi jika tidak di sini, Naura tidak yakin ia sanggup bertemu dengan keluarga itu di lain waktu."Mbak, kalo nggak berkepentingan, jangan berdiri di situ." Akhirnya ada seorang yang menegurnya. Seorang bapak-bapak."Eh, maaf, Pak." Naura buru-buru mengambil satu langkah ke samping. "Tapi saya ada perlu dengan keluarga Pak Ginanjar. Apakah bisa dibantu?"Pria di hadapan Naura memandang gadis itu dari atas sampai bawah, membuat Naura tanpa sadar menggigit bibir. Rambutnya sedikit acak-acakan, diikat menjadi cepol sembarangan. Paling tidak wajahnya bersih, tapi teta












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
レビューもっと