Elara menatap refleksi dirinya di kaca toko. Wajah yang masih pucat, tapi mata sudah mulai menyala dengan kilatan yang lama hilang. Hari ini, dia akan mulai hidup untuk dirinya sendiri. Pagi ini, Elara tidak menemukan Adrian di mana pun. Dia mengirim pesan: “Kamu semalam gak pulang?” Tidak ada tanda-tanda pesannya dibuka, meninggalkan goresan samar dihatinya. Dia menghela napas dan membuka pintu toko. “Setiap pagi ketika aku membuka pintu toko ini, rasanya seperti aku membuka pintu menuju dunia yang benar-benar milikku sendiri. Di sini, aku tidak perlu menjadi istri Adrian atau menuruti keinginan Mama Shinta.” Aroma bunga segar langsung menyambutnya, lily putih yang harum, mawar merah penuh warna, dan anyelir ungu segar dari kebun. Tangannya bergerak dengan refleks terbiasa: mengganti air vas, merapikan pita, menyapu sisa daun dan kelopak di meja display. “Tubuhku masih lemah, tapi setiap gerakan membuatku merasa hidup kembali. Bunga-bunga ini seperti mengenali diriku, mereka t
Last Updated : 2026-01-04 Read more