로그인Apakah cinta yang datang dalam waktu yang salah bisa dianggap benar? Elara Vionara Tjoa terjebak dalam pelukan dingin pernikahan yang tidak pernah lagi memberikannya kehangatan. Dua keguguran dan kegagalannya program bayi tabung membuatnya menjadi target tuduhan dan merasakan dirinya tidak layak dicintai. Tidak mau kehilangan rumah tangganya, dia mengambil langkah berani dengan mengikuti konsultasi keintiman. Namun, ketika pria yang seharusnya memperbaiki hubungan suami istri itu muncul—seorang yang mampu membaca luka emosionalnya yang dalam—semua yang Elara yakini mulai goyah. Dia menemukan kedekatan dan pemahaman yang selama ini dicarinya, namun perasaan itu justru mengajaknya melangkah jauh melewati batas norma dan moral yang ada. Di antara harapan untuk menyelamatkan pernikahan dan hasrat yang tak bisa dipendam, pilihan apa yang akan Elara buat?
더 보기At that time, I was called "the ndon-ga" because of my pride, the influence I had, and the lack of emotions in me.
My family was very poor at the time, so I didn't have doughnut money like my friends, I didn't have pocket money to afford what every girl should have at a certain age.All I had was my charisma, my pride and my influence that I decided to use to get back at this injustice that life had done me.At the age of sixteen, I was in high school in Douala with my friends.
We went through sixth, fourth, third and then second grade together and we weren't about to part ways. One day during recess, they went to the canteen to buy food and as I had nothing as usual, I stood in front of the window and an idea came into my head while I was looking at a little girl who seemed to be rich: she had a big pink bag with a new outfit and rasta (braids with locks) on her head, but it was forbidden at school. But hey, corruption exists when you have money.She was eating a cake with a yoghurt pot and her friend who was with her was eating the "sakiss" (corn + peanuts).The two girls in question must have been between ten and eleven years old. I went to stand in front of them and blocked the passage...- Hey, don't let anyone pass!
"I'm going to tell my dad, he's the governor of the country," said the rich girl!
The other one said nothing.
- Ah, my father runs shoes at the market and my mother is a housewife. As for me, I'm a fucking nobody! So what you're going to do is you're going to give me your cake, okay? Because your daddy is going to buy you some more! And if you say a word to him, you're gonna be sorry!
I snatched her cake and left.
Her friend calmed her down and gave her some corn to eat: It's amazing how poor people like to share, unlike rich people who are stingy.My friends came over and saw me eating.
- JESSY: So you had the cake in your bag?
- No, I forced it out of a little rich girl who was walking through the yard.
- PATRICK: You're already taking things from people?
- Everything has a beginning... Eat and leave me alone!
The days passed, the weeks passed. I didn't limit myself to snatching food from the students, but I also stopped them to take their money, their bracelets, chains and necklaces that I would sell once outside the school.
I wasn't afraid that they would report me because I was confident enough of the terror I represented. I was told that I was like a boy because of my style of dress and the way I was cold-blooded, but a girl was supposed to be gentle.While the girls wore dresses, I wore pants and a shirt like the boys.The school representatives had reproached me for this, but to no avail.I refused to change because it was my style and it represented me better.Several months later...
It was the last day of the school year: the day of the report cards.
Parents and relatives of the students were there. My father was at work and my mother was at school with me.She had left my brothers and sisters at the neighbor's house to come. We started by handing out the first five report cards and I noticed that the little rich girl whose food I used to snatch was among them and I started to look at her and so did she and then she went back to sit next to a man and what I thought was weird was that she pointed at me while talking to him. I put my head down so he wouldn't notice me because I knew what she had said to him.The other students' report cards were handed out in class and I came out twentieth in my class out of a hundred students with a thirteen out of twenty average. I may have been weird, but I was still smart.My mom congratulated me and took my report card to go home with it. She liked to brag about my good grades. I stayed with my friends to talk because I didn't want to go home quickly.I was chatting with them when Jessy's boyfriend from another school came over. She kissed him.
- JESSY: Finally you're here!
- Yes baby, I'm here! How are you doing?
- JESSY: I'm fine and you my love?
Ah love! I had never known love. Boys were afraid of me, no one dared to approach me even though I was beautiful and quite intelligent.
But they were not attracted by my behavior at all.Anyway, I didn't care about that!Patrick on his side was chatting with his "women" as he used to say.
Indeed, he had several girl friends but no girlfriend. He was a rather serious and reserved boy. He had decided to preserve himself for his future wife. The idea of jumping from girl to girl did not pass in his head, but he could be friends with them without any ulterior motive.As for me, I was thinking about my fate. The little rich girl had reported me to the man she was with.
I was afraid that this would be reported to the school officials because I was afraid that it would make too much noise and that the other students from whom I had taken things would also report me. In fact, I was afraid that my parents would find out.To get rid of the stress I had, I started to draw on the floor because I liked to do it and it was my passion.
I was drawing a man and a woman inside a heart.I was concentrating until I heard a voice: "Hey you, are you the one who spent the time to tear the snack of my little sister? I wasn't afraid of the students but when I heard that voice, I knew it wasn't a student but, someone who was there to defend a student I had hurt.I knew right away what was going on...My heart started beating fast and my body started shaking.I looked up to see the person who had spoken, although I suspected who it might be, and then...“Saya hanya ingin melindungi masa depan anak saya.”Suara Liliana terdengar pelan, tapi cukup jelas untuk membuat seluruh ruang sidang kembali sunyi senyap. Tidak ada lagi nada menyangkal, tidak ada lagi kemarahan atau keangkuhan yang biasa dia tunjukkan. Hanya satu kalimat yang diucapkan dengan datar, menimbulkan dampak yang terasa begitu berat di tengah ruangan.Hakim menatapnya tajam dari atas meja persidangan.“Apa maksud dari ucapan Anda itu?”Liliana menarik napas panjang, seolah melepaskan seluruh beban yang selama ini dia pendam sendirian. Tatapannya tidak lagi keras dan menusuk seperti sebelumnya, melainkan terlihat kosong dan lelah.“Saya tidak pernah berniat mencelakai Adrian,” katanya perlahan, menekankan setiap kata dengan jelas.“Saya hanya ingin memastikan tidak ada yang menghalangi masa depan Nayla, anak kandung saya.”Jantung Elara berdegup kencang, pikirannya berputar cepat mencoba memahami makna di balik kalimat itu.“Apa maksudnya…?” bisik Elara pelan hampir tidak
“Saya tidak pernah menyuruh siapa pun menyabotase mobil itu.” Suara Liliana terdengar jelas dan tegas di seluruh ruang sidang. Tidak ada getar, tidak ada ragu, seolah dia benar-benar yakin bahwa semua yang terjadi hanyalah kesalahpahaman yang sebentar lagi akan terungkap dan selesai begitu saja. Dia duduk dengan punggung tetap tegak, wajahnya datar, dan tatapannya lurus ke depan—mempertahankan wibawanya meskipun kini berada di posisi terdakwa. Ruang sidang dipenuhi keheningan yang terasa sangat tegang dan menyesakkan. Di bagian kursi pengunjung, Elara duduk berdampingan dengan Mira. Jemarinya saling menggenggam erat sejak persidangan dibuka, seolah mencari kekuatan satu sama lain. “Aku masih tidak percaya ini benar-benar terjadi,” bisik Mira pelan, matanya tidak lepas dari sosok Liliana yang terlihat begitu tenang. Elara tidak menjawab seketika. Pikiran dan perasaannya sedang berkecamuk hebat. Sekeras apa pun konflik dan perselisiha
Beberapa hari setelah Nayla meninggalkan Velora bersama Satria, kehidupan perlahan kembali berjalan seperti biasa bagi orang-orang yang masih ada di sana. Namun, di balik ketenangan yang tampak di permukaan, penyelidikan tentang kecelakaan Adrian masih terus berjalan diam-diam. Potongan-potongan kebenaran yang selama ini tersembunyi mulai tersusun satu per satu, menuntun aparat pada arah yang tidak pernah diduga sebelumnya. Pagi itu— Suara ketukan keras dan berulang kali menggema di seluruh ruang tamu rumah Liliana. Alisnya berkerut tipis, tanda ketidaksenangan karena ketenangan paginya terganggu. “Siapa pagi-pagi begini?” gumamnya dengan nada dingin dan datar. Ketukan itu terdengar lagi, kali ini lebih keras dan terdengar sangat mendesak. Pelayan yang berdiri tidak jauh dari sisi sofa tampak ragu dan gugup. “Nyonya… sepertinya petugas kepolisian yang datang.” Liliana menghela napas pelan, lalu berdiri den
“Kamu yakin ingin melakukan ini, Nay? Tidak ada kata mundur setelah kita masuk ke dalam sana.”Suara Satria terdengar jelas di telepon semalam, tapi kini saat berdiri tepat di depan pintu gereja, pertanyaan itu terngiang kembali di benak Nayla. Namun, kali ini jawabannya sudah terukir teguh di dalam hatinya.Beberapa minggu kemudian.Nayla berdiri di depan pintu gereja tua yang sederhana. Angin sore berhembus pelan menerpa gaun putihnya yang dibuat dengan desain simpel, tapi terlihat elegan. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena takut atau ragu, tapi karena perasaan bahagia yang memuncak memenuhi seluruh hatinya. Selama ini dia hanya bisa membayangkan momen ini dalam mimpi, bahkan sempat berpikir hal ini tidak akan pernah terjadi padanya. Namun. sekarang semuanya menjadi nyata tepat di depan matanya.“Satria sudah menunggu di dalam. Dari tadi dia tidak berhenti melihat ke arah pintu, seolah takut kamu berubah pikiran,” bisik Elara pelan dari sampingnya, berusaha mencairkan suasana.
“Aku tidak bisa menanggung ini sendirian lagi, Kak.”Suara itu terdengar samar dari arah dalam rumah.Elara melanjutkan langkah untuk terus masuk. Pandangannya langsung menangkap sesuatu yang aneh, meskipun dia belum bisa menyimpulkan dengan jelas. Beberapa baran
Semua terjadi begitu cepat. Seolah dunia tidak memberi waktu bagi Elara untuk sekadar bernapas. Pagi itu, notifikasi di ponsel Mira berbunyi tanpa henti. Awalnya hanya satu dua pesan. Lalu bertambah. Dan dalam hitungan menit, berubah menjadi puluhan. Semua mengirimkan video d
Nayla duduk di bangku luar kamar VIP dengan tangan terlipat di dada. Di dalam kamar perawatan, Leonardus sedang berbicara dengan Elara. Hubungan Elara dan Leonardus membaik. Hati Nayla panas terbakar api yang tak kasat mata. Dia selalu berada di sisi Leonardus. Mengurusnya, menemani rapat keluarga
“Adrian.” Suara Leonardus masih serak, tetapi cukup terdengar jelas.Adrian yang berdiri di dekat tempat tidur segera mendekat. “Ya, Pa?”Leonardus menoleh kepadanya. Tatapannya tampak jauh lebih serius dibanding beberapa saat sebelumnya.“Papa ingin bert
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
리뷰