Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi

Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi

last updateLast Updated : 2026-02-11
By:  Koihana Reika Updated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 rating. 1 review
63Chapters
275views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Apakah cinta yang datang dalam waktu yang salah bisa dianggap benar? Elara Vionara Tjoa terjebak dalam pelukan dingin pernikahan yang tidak pernah lagi memberikannya  kehangatan. Dua keguguran dan kegagalannya program bayi tabung membuatnya menjadi target tuduhan dan merasakan dirinya tidak layak dicintai. Tidak mau kehilangan rumah tangganya, dia mengambil langkah berani dengan mengikuti konsultasi keintiman. Namun, ketika pria yang seharusnya memperbaiki hubungan suami istri itu muncul—seorang yang mampu membaca luka emosionalnya yang dalam—semua yang Elara yakini mulai goyah. Dia menemukan kedekatan dan pemahaman yang selama ini dicarinya, namun perasaan itu justru mengajaknya melangkah jauh melewati batas norma dan moral yang ada. Di antara harapan untuk menyelamatkan pernikahan dan hasrat yang tak bisa dipendam, pilihan apa yang akan Elara buat?  

View More

Chapter 1

Bab 1. Gagal Lagi.

"Gagal lagi?"

Elara berhenti di lorong rumah sakit. Tepat di depan pintu dokter tempatnya berkonsultasi. Kalimat itu terdengar begitu menusuk hati Elara.

Kalimat singkat dan terdengar datar, bahkan disampaikan dengan suara yang biasa, tapi justru karena itu rasanya seperti air garam yang ditumpahkan di atas luka.

Elara sudah menduga kalimat itu akan dia dengar, tapi mendengarnya di tengah keramaian bahkan di depan banyak orang yang lewat, membuat kegagalannya makin membuatnya hancur.

Dia seakan harus mempertanggungjawabkan itu semua di depan banyak orang.

Di lorong itu, Elara merasa bukan lagi seorang pasien, tapi berubah seperti terdakwa yang sedang menunggu keputusan dari mertua.

Elara yang baru saja keluar dari ruang dokter bahkan kata-kata dokter itu masih terngiang di kepalanya.

Kalimat kegagalannya di program bayi tabung untuk ketiga kalinya.

"Maaf, belum berhasil."

Suntikan hormon yang harus diberikannya tepat waktu, jadwal kontrol tidak boleh terlewat, tubuhnya harus bisa menyesuaikan diri selama berbulan-bulan. Ternyata semuanya kembali ke titik awal.

Gagal.

Elara ingin sekali memberikan jawaban. Bukan dengan amarah, tapi pengakuan jika, “Aku manusia biasa. Aku juga ingin program ini berhasil.”

Namun, semua itu hanya tersangkut di tenggorokannya saja.

"Elara?" tanya Shinta yang sudah diliputi marah dan juga kesal.

Alisnya menukik dan menatap Elara penuh kekecewaan.

"Kamu dengar mama tidak?"

Elara ingin mencoba tersenyum, tapi bibirnya tidak bisa diajak kerja sama.

"Ma… bisa tidak kita bicara nanti saja? Aku masih—"

"Masih apalagi? Butuh waktu buat menerima hasil barusan?” Shinta memotong perkataan Elara.

Suaranya lirih untuk menjaga reputasinya, tapi terasa tajam saat wanita tua itu melanjutkan kata-katanya, “Waktu tidak akan bisa membuat rahimmu tiba-tiba berhasil menghadirkan keturunan untuk keluarga Huang.”

Beberapa orang yang melewati mereka memilih untuk berpura-pura tidak memperhatikan apa yang terjadi.

Namun, Elara tetap saja mereka sangat malu.

Tubuhnya kaku, kakinya terasa tertancap di lantai, tidak mampu digerakan.

"Mama…" suaranya hampir tidak terdengar. Dia sangat ingin memohon sedikit muka untuknya.

"Aku—"

"Setidaknya jadilah menantu yang bisa berguna," lanjut Shinta.

"Sudah tiga tahun kamu menikah dengan Adrian, Elara. Tiga tahun."

Dia berhenti sebentar lalu melanjutkan dengan nada yang lebih sinis, “Tapi hamil saja masih tidak juga berhasil.”

Kesunyian yang mencekik Elara membuat genggaman tangannya makin mengerat. Map hasil pemeriksaan semakin tampak kusut digenggamannya.

Dia bingung, mana yang lebih menyakitkan?

Kata-kata Shinta, mertuanya atau suara yang hadir dari dalam dirinya, “Mungkin memang kamu gak layak.”

"Aku sudah sangat berusaha sebaik mungkin, Ma,” ujar Elara pelan.

“Aku benar-benar sudah memberikan yang terbaik yang bisa aku lakukan.”

Shinta berdecak pelan sebelum berbicara.

“Kalau itu kamu sebut sebagai usaha yang terbaik, mama gak bisa membayangkan gimana kalau kamu sudah menyerah!”

Beberapa saat kemudian, Elara melihat Adrian keluar dari lift. Langkahnya panjang dan penuh percaya diri. Bahunya tegap dengan wajahnya yang minim ekspresi.

Kemeja biru langit yang berbalut jas mahal, makin membuat penampilan Adrian, suaminya menyakinkan jika dia laki-laki yang penuh wibawa dan karisma.

Andai saja semua penampilan itu adalah keadaan yang sebenarnya.

Adrian memilih berdiri di sebelah Shinta, ibunya.

“Bagaimana? Apa kata dokter?” tanyanya singkat sambil menatap sekilas Elara.

Shinta segera menyahut sebelum Elara menjelaskan, “Gagal lagi!” dengan emosi yang ditahannya.

Adrian menarik nafas pelan. Tatapannya jatuh pada map yang ada di tangan Elara.

"Sudah dikonfirmasi dokter?"

"Sudah," jawab Elara.

Dia mencoba untuk tetap tegar, dengan suara lirih.

Adrian mengangguk sekali, lalu mengusap bagian belakang lehernya—kebiasaan yang muncul kalau dia tidak nyaman dan bingung mau berkata apa pada istrinya.

"Mama hanya khawatir dengan keturunan keluarga."

Elara menunggu, berharap suaminya akan melakukan sesuatu untuknya.

Namun, ternyata hanya itu saja. Tidak ada pembelaan untuk dia atau kata-kata penghiburan untuknya. Seakan rasa sakit yang dirasakan bukanlah prioritas utamanya.

Adrian justru menunduk melihat ponsel dan jempol bergerak cepat mengetik dan mengirimkan pesan.

“Adrian! Kamu tidak mau mengatakan apa-apa lagi?” tanya Shinta dengan suara yang mulai naik.

“Kalian sudah menghabiskan banyak biaya untuk semua ini!”

"Prosedur medis memang memiliki risiko kegagalan, Ma," jawab Adrian tanpa mengangkat pandangannya dari ponsel.

"Kita sudah tahu itu sejak awal."

"Tapi mau sampai kapan?"

Shinta mendekat padanya sambil berkata dengan tegas, "Kamu anak laki-laki satu-satunya keluarga Huang, Adrian. Nama keluarga tidak boleh berhenti di kamu."

Kata-kata itu sebenarnya tidak diarahkan langsung ke diri Elara, tapi rasanya sangat menusuk perasaan dia.

Kepalanya pusing, dadanya terasa sesak, tapi dia tetap berdiri di tempatnya.

“Ma… tolong jangan berkata seperti itu,” ujarnya pelan mencoba menghentikan pembahasan ini.

Shinta menatap Elara tajam dan berkata, “Apa yang mama katakan ada yang salah?”

Elara terdiam tidak mampu menjawab. Ada suara kecil di kepalanya yang berkata, “Semua memang salahmu.”

“Ma, sudah cukup ya. Kita bisa bicarakan ini nanti di rumah saja.” Adrian mengusap pangkal hidungnya seperti menahan rasa kesal di hatinya.

“Jangan membuat suasana jadi lebih buruk di sini.”

Elara tidak tahu apakah itu untuk menenangkan atau malah sindiran untuknya.

"Baiklah," jawab Shinta.

"Tetapi masalah ini tidak akan selesai hanya karena kita pulang."

"Aku tahu, Ma," jawab Elara dengan suara lemah.

Elara sangat ingat saat keguguran pertama terjadi.

Waktu itu kamar tidur mereka masih berbau cat baru.

Elara menangis pelan di bawah selimut, Adrian duduk di tepi ranjang dan memeluknya selama lima menit sebelum berdiri dan berkata, "Besok aku ada presentasi penting. Aku perlu tidur."

Keguguran yang kedua lebih parah. Adrian lebih sering sibuk dengan ponsel atau laptop ketimbang memberikan kata-kata dukungan untuknya.

Saat dokter mengatakan bahwa stres dan kurangnya kedekatan dengan pasangan bisa menjadi salah satu penyebabnya, Adrian hanya mengangguk saja.

Bahkan saat dokter menyinggung tentang hubungan suami-istri di antara mereka, Adrian hanya tersenyum kaku.

Malam itu, saat jadwal masa suburnya, Adrian justru tertidur dengan laptop yang masih menyala di mejanya.

Sejak detik itu, Elara tidak berharap lagi mendapatkan dukungan dalam bentuk apapun, dari pelukan atau kata-kata penghiburan.

Dia mulai belajar menyimpan rasa sakitnya sendiri, bahkan menyebutnya sebagai tanda dia sudah dewasa dan siap menghadapi segala permasalahannya sendiri.

Hubungannya dengan Adrian tidak pernah putus, bahkan tidak terlintas di benaknya untuk mengajukan perpisahan. Namun, hal itu membuat hubungan mereka semakin berjarak dan hanya sebagai rutinitas saja.

Rutinitas yang diperlukan dan dilakukan dengan cepat, sepi, tanpa adanya sentuhan yang membuatnya merasa diinginkan saat berhubungan intim.

"Elara."

Suara Adrian menariknya kembali ke kenyataan.

"Kita pulang sekarang."

Shinta sudah berjalan duluan, tumit sepatunya membuat suara beradu dengan lantai.

Adrian mengikuti dengan cepat, seperti ingin segera keluar dari tempat yang penuh dengan emosi seperti itu. Elara berjalan paling belakang, langkahnya lambat dan berat.

Di luar gedung, angin sore menyentuh wajahnya.

Rumah sakit ramai dengan orang yang berlalu-lalang, tapi bagi Elara, semua itu seperti berada di dunia lain yang jauh sekali.

Di parkiran, Adrian berdiri di sebelah mobilnya sambil kembali fokus melihat ponsel. Cahaya layarnya memantulkan wajahnya.

Shinta sedang menelepon seseorang, Elara masih bisa menangkap kata "gagal" yang keluar dari mulutnya berkali-kali.

Begitu masuk mobil, suasana jadi sangat sunyi. Adrian mengetik sesuatu yang panjang di ponselnya.

Baru setelah beberapa saat dia berkata, "Nanti malam kita bicara dengan jelas."

"Ya," jawab Elara hampir tidak terdengar.

Mobil mulai berjalan. Pohon-pohon di pinggir jalan lewat satu demi satu. Di kaca jendela, pantulan wajah Elara terlihat samar—matanya bengkak, bibirnya kaku, dan wajahnya penuh dengan rasa bersalah yang tidak tahu harus diberikan ke siapa.

Di dalam hati, Elara bertanya pada dirinya sendiri, ‘Kalau sudah seperti ini… berapa lama lagi aku bisa bertahan?’

Ponselnya bergetar di pangkuannya. Ada pesan masuk dari Mira, sahabatnya:

"Ra, kamu beneran masih mau bertahan? Aku tahu ada tempat konsultasi keintiman yang baru dibuka. Katanya hasilnya memuaskan.”

Elara melihat layar itu lama. Kata yang tertulis di pesan, yaitu "konsultan keintiman", terdengar asing baginya.

Dia menarik napas pelan, tidak tahu apakah ini langkah yang benar untuk menyelamatkan pernikahannya—atau tandanya hubungan yang dia jaga sudah sampai pada titik terendah yang belum pernah dia bayangkan.

Mobil terus berjalan ke arah rumah yang biasa mereka tinggali, tapi untuk pertama kalinya, Elara tidak tahu lagi mana arah rumah yang sebenarnya untuknya.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Papa Buaya
Papa Buaya
Gas update Thor
2026-01-05 17:00:16
0
0
63 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status