Mag-log inApakah cinta yang datang dalam waktu yang salah bisa dianggap benar? Elara Vionara Tjoa terjebak dalam pelukan dingin pernikahan yang tidak pernah lagi memberikannya kehangatan. Dua keguguran dan kegagalannya program bayi tabung membuatnya menjadi target tuduhan dan merasakan dirinya tidak layak dicintai. Tidak mau kehilangan rumah tangganya, dia mengambil langkah berani dengan mengikuti konsultasi keintiman. Namun, ketika pria yang seharusnya memperbaiki hubungan suami istri itu muncul—seorang yang mampu membaca luka emosionalnya yang dalam—semua yang Elara yakini mulai goyah. Dia menemukan kedekatan dan pemahaman yang selama ini dicarinya, namun perasaan itu justru mengajaknya melangkah jauh melewati batas norma dan moral yang ada. Di antara harapan untuk menyelamatkan pernikahan dan hasrat yang tak bisa dipendam, pilihan apa yang akan Elara buat?
view moreBeberapa hari setelah Nayla meninggalkan Velora bersama Satria, kehidupan perlahan kembali berjalan seperti biasa bagi orang-orang yang masih ada di sana. Namun, di balik ketenangan yang tampak di permukaan, penyelidikan tentang kecelakaan Adrian masih terus berjalan diam-diam. Potongan-potongan kebenaran yang selama ini tersembunyi mulai tersusun satu per satu, menuntun aparat pada arah yang tidak pernah diduga sebelumnya. Pagi itu— Suara ketukan keras dan berulang kali menggema di seluruh ruang tamu rumah Liliana. Alisnya berkerut tipis, tanda ketidaksenangan karena ketenangan paginya terganggu. “Siapa pagi-pagi begini?” gumamnya dengan nada dingin dan datar. Ketukan itu terdengar lagi, kali ini lebih keras dan terdengar sangat mendesak. Pelayan yang berdiri tidak jauh dari sisi sofa tampak ragu dan gugup. “Nyonya… sepertinya petugas kepolisian yang datang.” Liliana menghela napas pelan, lalu berdiri den
“Kamu yakin ingin melakukan ini, Nay? Tidak ada kata mundur setelah kita masuk ke dalam sana.”Suara Satria terdengar jelas di telepon semalam, tapi kini saat berdiri tepat di depan pintu gereja, pertanyaan itu terngiang kembali di benak Nayla. Namun, kali ini jawabannya sudah terukir teguh di dalam hatinya.Beberapa minggu kemudian.Nayla berdiri di depan pintu gereja tua yang sederhana. Angin sore berhembus pelan menerpa gaun putihnya yang dibuat dengan desain simpel, tapi terlihat elegan. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena takut atau ragu, tapi karena perasaan bahagia yang memuncak memenuhi seluruh hatinya. Selama ini dia hanya bisa membayangkan momen ini dalam mimpi, bahkan sempat berpikir hal ini tidak akan pernah terjadi padanya. Namun. sekarang semuanya menjadi nyata tepat di depan matanya.“Satria sudah menunggu di dalam. Dari tadi dia tidak berhenti melihat ke arah pintu, seolah takut kamu berubah pikiran,” bisik Elara pelan dari sampingnya, berusaha mencairkan suasana.
“Nayla… aku gak mau menunda lagi.” Pernyataan Satria itu terdengar pelan, tapi tegas dan pasti. Jemarinya masih menggenggam tangan Nayla erat sejak kebenaran tentang anak itu terungkap. Saat itu juga, Satria langsung menyatakan perasaannya dengan jujur. Namun, kali ini genggaman itu terasa berbeda—lebih kuat dan lebih mantap, seolah tidak akan pernah melepaskannya apa pun yang terjadi nanti. “Maukah kamu menikah denganku?” tanya Satria dengan suara bergetar karena perasaannya yang mendalam. Nayla terdiam kaku di tempat duduknya. Dia merasa seolah waktu berhenti berjalan mendengar pertanyaan itu. Jantungnya berdegup kencang di dalam dada, sampai dia sendiri bisa merasakan detaknya. “Kamu… serius?” bisik Nayla pelan, hampir tidak terdengar. Dia takut ini hanya angan-angan yang akan hilang sewaktu-waktu. Satria mengangguk cepat tanpa ragu sedikit pun. Tatapannya lurus ke arah wajah Nayla, menunjukkan ketulusan yang nyata. “Aku sudah lama memikirkan hal ini. Aku cuma terlambat me
Nayla tidak langsung menjawab. Jemarinya masih tergenggam di tangan Satria, tapi seluruh tubuhnya terasa kaku dan tegang. Napasnya terdengar pelan, tidak beraturan seolah sedang berusaha mencerna informasi yang terlalu berat untuk dipahami sekaligus. Beberapa hari yang lalu, keadaan Nayla sudah berubah drastis ketika Adrian sendiri yang mengaku jujur.“Aku sudah melakukan vasektomi, Nay. Aku tidak mungkin punya anak lagi.” Kalimat itu terus terngiang di benaknya. Sejak saat itu dia hidup dalam ketidakpastian yang menyiksa, tidak tahu sama sekali siapa ayah kandung dari anak yang dikandungnya. Semua keyakinan yang dia miliki sebelumnya hilang begitu saja. “Kamu… ayahnya?” bisiknya akhirnya, suaranya nyaris tidak terdengar. “Iya,” jawab Satria tegas tanpa ragu sedikit pun. Suasana di antara mereka sunyi, tapi bukan sunyi yang hampa. Ada berbagai perasaan—kejutan, keraguan, harapan, dan ketakutan—yang terasa nyata di seke
Lorong rumah sakit terasa terlalu sunyi bagi Shinta. Bau antiseptik yang tajam membuat kepalanya semakin pusing. Dia berdiri di depan ruang ICU dengan wajah tegang, kedua tangan terlipat di dada. Suasana hatinya tidak baik dan penuh keresahan. Di kursi tunggu, Liliana dud
Ponsel Elara bergetar di atas meja restoran tepat saat dia hendak mengambil segelas air. Layar menampilkan nama Liliana. Jarang sekali Liliana meneleponnya secara langsung, apalagi di malam hari. Elara mengerutkan kening sebelum mengangkat panggilan itu.
Ballroom hotel dipenuhi cahaya lampu kristal yang memantul dari langit-langit tinggi. Kilauannya jatuh lembut di atas gaun-gaun mahal para tamu yang datang malam itu. Meja-meja bundar disusun rapi, dihiasi bunga segar dan lilin kecil yang menyala tenang. Musik klasik mengalun pelan, me
Adrian menyetir dengan perasaan campur aduk.Ingatannya terus kembali pada kejadian semalam. Sejak pertengkaran Elara dengan Shinta kemarin, Adrian tahu Elara butuh waktu untuk menenangkan diri. Cara Shinta memperlakukan Elara benar-benar di luar dugaan. Bahkan seba
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu