LOGINApakah cinta yang datang dalam waktu yang salah bisa dianggap benar? Elara Vionara Tjoa terjebak dalam pelukan dingin pernikahan yang tidak pernah lagi memberikannya kehangatan. Dua keguguran dan kegagalannya program bayi tabung membuatnya menjadi target tuduhan dan merasakan dirinya tidak layak dicintai. Tidak mau kehilangan rumah tangganya, dia mengambil langkah berani dengan mengikuti konsultasi keintiman. Namun, ketika pria yang seharusnya memperbaiki hubungan suami istri itu muncul—seorang yang mampu membaca luka emosionalnya yang dalam—semua yang Elara yakini mulai goyah. Dia menemukan kedekatan dan pemahaman yang selama ini dicarinya, namun perasaan itu justru mengajaknya melangkah jauh melewati batas norma dan moral yang ada. Di antara harapan untuk menyelamatkan pernikahan dan hasrat yang tak bisa dipendam, pilihan apa yang akan Elara buat?
View MoreSore itu, langit di pinggiran kota Sanvara diselimuti warna jingga yang lembut. Cahaya matahari yang hampir tenggelam mengintip di antara pepohonan. Udara terasa tenang, hanya sesekali terdengar suara tawa anak-anak dari lapangan kecil tidak jauh dari sana. Di teras rumah, Elara duduk sambil melipat pakaian Albert yang baru dijemur. Wajahnya tampak damai. Sementara di sampingnya, Revan duduk dengan sikap yang tidak biasa. Tangan Revan menggenggam sebuah tablet tipis, jemarinya sesekali mengetuk permukaannya seperti sedang menimbang sesuatu yang berat untuk disampaikan. Elara melirik sekilas. “Sejak tadi kamu aneh. Ada yang sedang kamu pikirkan?” Revan menghela napas panjang. Tatapannya lurus ke halaman depan, tapi pikirannya jelas melayang jauh ke masa lalu. “Ada sesuatu yang selama ini kusimpan. Aku menunggu waktu yang tepat untuk menunjukkannya padamu.” Kerutan halus muncul di dahi Elara. “Apa?” Revan menoleh, menatapnya lekat. Di matanya ada keraguan, sekaligus keyakina
Pertemuan tidak terduga di sekolah pinggiran kota Sanvara itu jadi titik balik hidup Revan. Sejak hari itu, Revan tidak akan lagi membiarkan Elara hilang dari pandangannya. Meski wanita itu tidak pernah terang-terangan menyambut, tapi dia juga tidak lagi kabur seperti dulu.Elara tetap tenang dan penuh rahasia, persis seperti ingatan Revan. Setiap kali dia datang membawa bantuan atau buku, Elara selalu melayani dengan sopan. Sikap dinginnya justru semakin membuat Revan yakin masih ada perasaan tersimpan di hati Elara. Ada tembok yang dibangun Elara. Namun, Revan memilih sabar meruntuhkannya pelan-pelan dengan cara hadir dan bisa diandalkan, bukan menuntut jawaban.Dua minggu kemudian, Revan membuat keputusan yang mengejutkan: dia menyewa rumah kosong tepat di sebelah kediaman Elara. Rumah itu kecil, catnya sudah pudar, dan atapnya bocor kalau hujan, tapi bagi Revan, ini jauh lebih berharga dari apartemen mewah mana pun.Saat truk barang berhenti, Elara yang sedang menyiram tanaman me
Revan masih diam terpaku di tempat, matanya tidak lepas dari pagar bambu yang baru saja tertutup rapat itu. Hujan turun semakin deras, suaranya berisik menghantam atap dan kaca mobil, tapi pandangan pria itu tetap terkunci pada rumah kecil di depannya. Elara punya anak. Pikiran itu terus menghantam kepalanya berulang kali tanpa ampun, membuat dadanya terasa sesak. “Anak yang manis, ya?” seru Pak Haris dengan nada gemas. Suara itu membuat Revan tersentak pelan dari lamunan kelamnya. Dia menoleh perlahan ke samping. Tenggorokannya terasa kering kerontang, seolah seharian tidak minum air. “Dia… anak Bu Elara?” tanya Revan, suaranya keluar serak dan berat. “Iya, dong,” jawab Pak Haris sambil terkekeh kecil. “Albert itu pintar sekali, Pak. Aktif juga, lho. Kelakuannya persis banget sama ibunya.” Albert. Nama itu terasa asing, tapi sekaligus menusuk tajam ke dada Revan. Matanya kembali beralih
“Empat tahun… dan kamu bener-bener hilang tanpa kabar, Elara,” gumam Revan pelan. Empat tahun bukan waktu sebentar. Buat orang lain, mungkin itu cukup untuk melupakan masa lalu dan memulai hidup baru. Namun, untuk Revan, empat tahun rasanya seperti jalan panjang yang gak ada ujungnya. Dia hidup bagai mesin. Bangun, kerja, rapat, ambil keputusan, terus mengulangi hal yang sama setiap hari. Di mata orang lain, hidupnya sempurna. Pendiri yayasan sosial terbesar di Velora. Pengusaha muda sukses. Pria tenang yang kelihatan kuat. Padahal di dalam hatinya, ada bagian kosong yang tidak bisa diisi siapa pun. Sejak Elara pergi empat tahun lalu, hidup Revan seperti hilang arah. Wanita itu pergi begitu aja. Tanpa ada alasan. Tanpa pamit. Hanya meninggalkan surat pendek berisi permintaan maaf dan satu kalimat yang sampai sekarang masih terngiang di kepala Revan, “Jangan cari aku lagi.” Namun, Revan justru melakukan hal yang sebaliknya. Dia menc
“Aku gak pantas pegang apa pun yang Papa tinggalkan buat aku,” ucap Nayla pelan. Beberapa hari kemudian. Langit tampak mendung, seolah ikut mencerminkan suasana hati yang berat. Nayla berdiri di depan gerbang rumah besar itu dengan tangan gemetar memegang sebuah amp
“Aku kira kamu cuma salah jalan,” ucap Elara pelan, tetapi justru itu yang membuat terasa lebih tajam, menusuk tepat ke ulu hati. Dia menatap Nayla tanpa berkedip. Tatapannya tidak lagi hangat seperti sebelumnya. Tidak lagi seperti kakak yang selalu berusaha memahami dan meli
“Masih banyak yang belum aku ceritakan.”Nayla menunduk, malu menatap mata Elara.Elara menunggu. Memberi ruang. Nayla menelan ludah. Matanya mulai berkaca-kaca.“Aku … sering ke club malam.”Kalimat itu keluar begitu saja. Tanpa pembuka yang basa basi, tanpa usaha memperhalus perkataannya juga.El
“Maaf mungkin gak bisa menghapus luka. Tapi aku pengen berhenti nyakitin kakak.” Cahaya putih lampu rumah sakit menyorot lembut ke seluruh ruangan UGD. Pendingin ruangan berdengung. Perawat melayani pasien yang membutuhkan bantuan. Nayla membuka kelopak matanya yang






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews