Mereka keluar dari rumah itu. Matahari sudah cukup tinggi, cahayanya jatuh lurus di halaman depan, seperti tuduhan Liliana yang selalu menusuk hati.“Rasanya lega, tidak harus terburu-buru untuk segera pergi dan lari menjauh dari rumah,” ucap Elara. “Bagus kalau kakak merasa seperti itu.” Nayla tersenyum tipis. “Karena itu keputusan kakak.”“Iya. Kamu benar,” sahut Elara.Belum sempat Elara membuka pintu, Nayla sudah meraih gagang pintu pengemudi. “Aku yang nyetir,” katanya singkat, tanpa memberi pilihan. Elara menoleh, melihat tatapan Nayla yang penuh keyakinan. “Kamu yakin?” tanya Elara. “Aku sangat yakin.” sahut Nayla. Elara menyerahkan kunci mobilnya, bukan karena tidak punya pilihan, melainkan karena dia percaya pada Nayla.Nayla mengemudikan mobil agak cepat. Elara duduk di kursi penumpang, tubuhnya bersandar sambil memperhatikan jalanan.“Aku
Last Updated : 2026-01-30 Read more