Laura dan Ellena berdiri bersebelahan di depan meja kerja Reon. Sang empunya sedang menatap layar monitor dengan sorot mata yang menusuk. Tidak ada suara yang keluar dari bibir Reon, tapi keheningan yang menggantung seakan mencabik-cabik napas kedua sekretaris itu. Beberapa saat, Reon akhirnya beranjak dari kursi, satu tangannya bertumpu ringan di permukaan meja. Tatapan lelaki itu datar, dingin dan nyaris tanpa emosi. "Rapat itu bukan tempat berasumsi," ujar Reon pelan, tapi setiap kata terukur seperti pisau yang sengaja dibuat menyayat perlahan. "Sedikit saja yang meleset sudah cukup menciptakan keputusan yang fatal." Reon menoleh pada Laura. "Kamu tetap harus koordinasi dengan Ellena," kata Reon singkat, nyaris mengejek. "Kamu pernah bilang mau membimbing dia, kan?" "I–iya, Pak," sahut Laura pelan. Pandangan Reon kini bergeser ke sekretaris keduanya. "Dan kamu…" Reon menjaga nadanya tetap stabil, "beruntung kamu punya back up, tapi jangan terus jadikan keberuntu
Last Updated : 2025-12-21 Read more