LOGINEllena mau tidak mau menerima kesepakatan dengan Reon untuk jadi tunangan pura-pura mantan kekasihnya itu. Semua dilakukan untuk mendapatkan biaya pengobatan sang nenek yang merawat Ellena selama ini. Dalam ruangan tertutup dan jam kerja panjang, mereka terjebak dalam gairah lama, godaan yang tidak pernah padam, luka yang belum sembuh, serta rahasia masa lalu perlahan terungkap. "Elle..." "Ahh! Pak Reon... Berhenti!" Apakah hubungan Ellena dan Reon akan berakhir sama seperti dulu? Kandas di tengah jalan? Ataukah mereka akhirnya bisa bersatu meski harus melewati batas profesional?
View More"Ellena, saya bahkan tidak yakin kamu bisa bekerja."
Napas Ellena tercekat begitu suara bariton di hadapannya naik beberapa oktaf. Dulu, suara itu setiap waktu membisik halus penuh damba di telinga Ellena. Air matanya mau jatuh—berkumpul di pelupuk membentuk embun tipis, entah karena hatinya yang perih atau egonya yang mulai runtuh karena sosok itu. Lelaki bernama Reon yang duduk penuh dominasi di kursinya melemparkan setumpuk kertas yang tidak terlalu tebal ke meja. Tepat di hadapan Ellena, dokumen itu berhamburan. "Gak ada relevan sama sekali dengan presentasi kamu." Sinis Reon, matanya menusuk seakan menghunuskan pedang. "Apa yang saya sampaikan di meeting memang tidak masuk di otak kamu atau telinga kamu?" Reon mendecak kesal. "Kamu mau ganti rugi kalau proyek ini gagal?" Tangannya memukul-mukul meja sampai segala yang di atasnya bergetar. Sekretaris pertama yang berdiri di samping Ellena, bernama Laura menundukkan wajah, tapi diam-diam dia mengangkat satu sudut bibirnya sehingga tercipta seringai samar tanpa ada yang menyadari. Sementara itu, Ellena hanya menautkan jemari di depan tubuhnya, wajah wanita berkulit putih pucat itu mengarah lurus ke depan. Tapi pandangannya sama sekali tidak berani menatap Reon. Mata Ellena yang mulai basah justru tertuju pada dokumen berserakan yang dilempar ke hadapannya secara kasar. Laki-laki itu merupakan atasan di perusahaan tempat Ellena bekerja sebagai sekretaris kedua. Sekaligus, orang yang sebenarnya paling tidak mau Ellena temui lagi. Ya, Reon. Dareon Sankara Adinata. Sosok mantan kekasih yang punya pengaruh cukup besar dalam kehidupan Ellena. Cinta pertama di masa SMA yang penuh kenangan manis juga pahit dan berujung pada perpisahan yang sangat tidak menyenangkan kala itu. Sudah enam tahun lamanya, tapi rasanya seolah terjadi kemarin. Memori ketika Ellena memutuskan Reon dengan cara paling menyakitkan, membuat laki-laki itu tersiksa batin, lalu membuangnya. Hingga Reon harus melintasi benua dan menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di Cambridge, Massachusetts kemudian di Oxford. Satu minggu yang lalu Ellena senang bukan main karena akhirnya mendapatkan panggilan kerja dari ratusan lamaran yang dia lamar di berbagai aplikasi. Tapi tak pernah Ellena sangka dia akan bertemu lagi dengan mantan kekasihnya itu. Padahal Ellena hanya mau mendapatkan pekerjaan yang layak untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan pengobatan neneknya. "Kamu dengar gak yang saya bicarakan?" bentak Reon. Ellena sampai terlonjak sedikit begitu badan pria tinggi itu maju dan membanting telapak tangan di permukaan meja. Akhirnya Ellena menaikkan pandangannya sehingga iris kecoklatan gadis itu bertemu dengan pemilik bola mata hitam di balik meja. "I–iya, Pak, saya mendengar," jawab Ellena gelapan. Rasa kaget dan perih di dadanya bercampur jadi satu. Embusan napas kasar dari hidung tinggi Reon terdengar. Matanya masih tertuju pada wajah pucat Ellena. "Laura kamu boleh pulang, kalau kamu…," pria itu menjeda kalimatnya, "…selesaikan semua dokumen itu sampai jam 8. Jangan kepikiran untuk pulang sebelum rampung." Perintah Reon itu mutlak. Apa yang laki-laki itu mau harus dituruti, tidak boleh ada penolakan. Ellena tahu persis. Sebab, apa yang ada pada Reon tidak banyak yang berubah. Hanya tubuhnya yang menjulang tinggi dan lebih kekar. Serta hubungan mereka yang kandas. Ellena keluar dari ruangan itu. Langkah heelsnya mengetuk lemah di lantai area transisi di mana mejanya berada. "Duluan, ya, Ellena," ujar Laura dengan senyum manis yang terbit di bibir merah muda perempuan itu. "Iya hati-hati, Kak," timpal Ellena. Gadis cantik itu menurunkan diri ke kursinya dan mulai berkutat dengan monitor. Napasnya terasa berat. Lagi-lagi dia harus lembur. Tapi, dia sadar akan tanggung jawab pekerjaannya. Dan, tak terasa sudah tiga jam Ellena duduk di depan layar PC dengan jemari lentiknya yang berteman mesra dengan keyboard. Dia begitu fokus melakukan revisi besar-besaran dari dokumen yang diberikan Reon. Salutnya, fokus Ellena tidak pecah sama sekali. Matanya hanya tertuju pada monitor sejak tadi. Padahal, orang kebanyakan akan mudah terdistraksi di tiga puluh menit pertama saat melakukan sesuatu. Entah itu, menggaruk kepala, mendesah frustasi, mungkin ke pantry untuk menyeduh kopi susu dingin, atau sekadar meregangkan punggung. Ketika pekerjaan Ellena akhirnya selesai, barulah gadis itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi lalu mengeluarkan napas lega. "Akhirnya." Gumamnya. Ellena segera beranjak dari kursi dan merapikan dokumen yang selesai dia ia print dan didekap ke dalam dekapannya. Ellena mengetuk dua kali pintu ganda besar, lalu mendorongnya pelan. "Permisi, Pak Reon." Langkahnya hati-hati memasuki ruangan Reon. Berniat ingin memperlihatkan hasil revisian. Namun, tiba-tiba semua dokumen di tangannya jatuh berserakan di lantai. Pasalnya, Reon entah dari arah mana langsung muncul dan mendesak Ellena ke dinding. "Enggh…" satu desahan kaget lolos dari bibir Ellena. Pupilnya membesar. "Sampai kapan kamu mau pura-pura, Elle?" suara dalam Reon terdengar. Ellena bisa merasakan aroma mint dari napas hangat bosnya itu. Jantung Ellena seketika menggedor kuat seperti ingin mendobrak keluar. Punggung Ellena bisa merasakan dinginnya dinding menusuk tembus ke dalam kemejanya. Tapi yang jauh lebih berbahaya, di hadapannya sekarang, Reon—mantan kekasih yang dulu selalu menciptakan gelayar panas di dada Ellena kini begitu dekat dengan gadis itu. "P–Pak Reon…"Setelah belasan jam penerbangan dari Singapura, Ellena dan ketiga manajemen senior RCA Investments akhirnya tiba di bandara Zurich. Pesawat mereka mendarat sekitar pukul enam pagi. Langit masih kelabu kebiruan, matahari baru merangkak naik di balik siluet pegunungan Alpen dan lampu runaway masih menyala kuning pucat, memantul di lapisan salju tipis. Itu pertama kalinya juga bagi Ellena melihat salju. Bukan dari layar ataupun film, tetapi salju asli. Begitu pintu pesawat dibuka, udara musim dingin langsung menyergap tajam, kering dan menggigit. Napas yang keluar dari hidung dan mulut berubah jadi uap putih. Ellena refleks memeluk mantel tebalnya lebih rapat.Tiga manajemen senior di depannya sudah terlihat siap seperti mau pemotretan majalah bisnis.Melinda—Wakil Direktur Keuangan mengenakan mantel wol panjang, turtleneck hitam dan boots kulit ramping. Rambutnya rapi dengan makeup tipis profesional. Kiandra—Wakil CIO memakai coat abu-abu gelap tailored fit, syal kasmir, koper kecil
Awalnya, Ellena masih belum percaya kalau namanya masuk list untuk ikut perjalanan dinas. Bahkan saat Laura sudah mengirimkan detailnya via email, Ellena juga belum yakin. Bisa saja namanya tiba-tiba diganti untuk beberapa hari ke depan. Tapi, hari itu… saat dia berdiri di lantai bandara, Ellena merasa jantungnya berpacu kuat menyadari bahwa dia benar-benar akan keluar negeri. Ellena bahkan belum pernah naik pesawat sekali pun. Baginya, bandara cuma tempat yang selama ini dilihat dari drama Korea atau vlog orang lain. Tapi sekarang, dia berada di tengah suara pengumuman penerbangan yang bersahut-sahutan, koper berderak dan orang-orang yang berlalu-lalang dengan jas mahal dan paspor di tangan.Ellena menelan saliva sembari menguatkan genggaman pada tiket pesawatnya. Udara dingin AC menyapu wajahnya yang sedikit… pucat—mungkin karena ini akan jadi pengalaman pertamanya naik pesawat. Berbagai pikiran negatif perlahan menyusup di pikiran
Ellena terlihat sekuat tenaga untuk menahan diri agar tidak meraup bibir Reon. Bagaimana tidak? Jarak mereka hanya terpisah beberapa inci dan Reon tidak berhenti menggodanya tipis-tipis. Untung, pertahanan Ellena tidak rapuh. Keraguan masih jadi benteng tertinggi untuk menerima ajakan balikan dengan Reon meski semua kesalahpahaman mereka telah usai. "Pak Reon… saya harus antarkan dokumen ini ke Kak Laura," Ellena menatap Reon serius. Lelaki itu mengangkat alisnya sekilas. "Kamu boleh pergi, kalau kamu gak bicara formal sama aku saat lagi berduaan begini."Ellena menghela napas panjang. Ya, Dareon Sankara harus dituruti kemauannya. "Reon… tolong minggir, aku mau keluar dan bawa dokumen ini ke Kak Laura," kata Ellena dengan tegas. Reon menyeringai lembut, sementara itu Ellena segera keluar dari dominasi tubuh Reon.Setelah Ellena melewati pintu, gadis itu akhirnya bisa bernapas lega. Dia lanjut melangkah menuju lift, membawa dokumen di tangannya. Saat jam makan siang, Ellena dan
Malam semakin larut, semua tamu sudah pulang, menyisakan kesunyian seperti biasa di unit apartemen itu. Mata Ellena tidak kunjung tertutup dan kesadarannya masih masih melingkupi. Gadis itu akhirnya bangun, turun dari ranjang dan melangkah ke meja kerja di sisi kamar. Selanjutnya, dia meraih buku sketsa serta kotak pensil warna yang merupakan kado dari Reon. Lampu nakas menyala hangat dengan memantulkan cahaya kekuningan di dinding krem. Ellena kemudian duduk bersandar di sisi kasur dengan lutut ditekuk di depan dada sambil meletakkan buku sketsa di atasnya. Sampul buku sketsa itu tebal, warna biru muda, teksturnya seperti kulit asli. Saat dibuka, kertasnya halus dan berat—bukan kertas biasa. Jenis yang membuat orang takut salah coret.Jemari Ellena mengusap halaman pertama pelan, hampir seperti menyentuh sesuatu yang rapuh.Senyum kecil terbit di bibirnya sebelum dia mulai menggerakkan pensil di tangannya. Perlahan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore