เข้าสู่ระบบEllena mau tidak mau menerima kesepakatan dengan Reon untuk jadi tunangan pura-pura mantan kekasihnya itu. Semua dilakukan untuk mendapatkan biaya pengobatan sang nenek yang merawat Ellena selama ini. Hubungan pura-pura mereka pelan-pelan membuka pintu lama yang pernah dipaksa tertutup rapat. Kini, dalam ruangan sunyi dan jam kerja panjang, mereka terjebak dalam gairah lama, godaan yang tidak pernah padam, luka yang belum sembuh, permainan ego, serta rahasia masa lalu yang perlahan terungkap. "Elle..." "Ahh! Pak Reon... Berhenti!" Apakah hubungan Ellena dan Reon akan berakhir sama seperti dulu? Kandas di tengah jalan? Ataukah mereka akhirnya bisa bersatu meski harus melewati batas profesional?
ดูเพิ่มเติมEllena pikir hidupnya sudah berakhir ketika dilempar ke laut, tenggelam membawa semua rasa kehilangan dan dendamnya. Namun, dia sadar kalau jantungnya masih berdetak. Suara ombak yang menghantam sesuatu di luar sana terdengar samar di telinganya. Kelopak mata Ellena bergerak, berat, seolah ditarik kembali dari tempat yang sangat dalam. Cahaya redup menembus pandangannya yang masih kabur.Ketika matanya terbuka sempurna, langit-langit kayu asing menyambutnya. Napas gadis itu tersengal pelan.Ellena berkedip beberapa kali, mencoba fokus. Bau obat-obatan samar tercium di udara, bercampur dengan aroma asin laut.Dalam satu sentakan, Ellena langsung duduk. Kepalanya berdenyut dan napasnya memburu. Ia menoleh cepat ke sekeliling.Ruangan itu luas tapi sunyi. Dinding-dindingnya dipenuhi rak tinggi berisi buku-buku tua, beberapa botol kaca, alat-alat medis sederhana, dan cairan-cairan kimia yang tersusun rapi di atas meja pan
Sudah beberapa hari berlalu, Reon masih tidak bisa menerima kenyataan kalau Ellena sudah pergi untuk selamanya. Lelaki itu berdiri di tengah ruang tamu, tatapannya kosong menyapu setiap sudut, mengulang semua kenangan bersama Ellena juga neneknya. Dia mulai melangkah pelan tanpa arah, lalu berhenti di depan sebuah lukisan istrinya yang tergantung di dinding. Wajah yang dulu melengkapi hidupnya… kini hanya diam dalam rangkaian warna.Tangan Reon terangkat menyentuh bingkai itu untuk beberapa lama. Lalu perlahan dia menariknya turun dan memeluknya, seolah itu satu-satunya cara untuk memastikan bahwa Ellena masih ada di sampingnya… di pelukannya. Namun, sayang kenyataan terlalu cepat menghantam. Napas Reon mulai tidak teratur dan akhirnya dia runtuh. Tangisnya kembali pecah, lebih dalam dan hancur. "Elle…"Dia kemudian berjalan tertatih ke kamar, lalu jatuh di atas ranjang. Lukisan Ellena masih ia peluk erat.
Reon tidak berhenti mencari keberadaan Ellena. Dari satu tempat ke tempat lain. Dari satu kemungkinan ke kemungkinan lain.Ponsel di tangannya tidak pernah jauh. Setiap dering membuat Reon langsung menjawab. Setiap pesan dibuka dalam hitungan detik.Mengira itu Ellena. Namun ternyata bukan. Sampai satu panggilan datang dari nomor tidak dikenal. Apakah ini jebakan lagi? Reon mengangkat telepon itu. "Ya?"Beberapa detik Reon hanya mendengarkan. Lalu, wajah lelaki itu semakin pucat. Retinanya terasa panas. "Apa…?" suara Reon pelan, malah hampir tidak keluar. "Tidak mungkin…" Tangannya mulai gemetar. Dia berdiri diam di samping mobilnya, dunia seolah berhenti berputar.Reon mendapatkan kabar bahwa istrinya, Ellena Satya telah tiada. Beberapa jam kemudian, Reon sudah berada di lokasi bersama Vino asistennya. Di ruang kantor otoritas pelabuhan.Seorang pet
Langit sore tampak pucat di atas sana. Angin berhembus pelan, menggoyangkan rumput-rumput liar di sekitar makam yang masih terlihat baru. Tanahnya belum sepenuhnya padat, bunga-bunga di atasnya masih segar.Reon berdiri di depan makam dengan napas berat. Matanya terpaku pada nama yang terukir di nisan."Nek… maaf…" lirih Reon, "aku selalu terlambat," ujarnya parau, tangannya perlahan mengepal di samping tubuhnya.Reon menunduk sedikit, kelopak matanya mulai panas. Selain kehilangan, dia juga tidak bisa membayangkan betapa rapuhnya Ellena. Dia tahu istrinya itu sangat menyayangi neneknya, dia rela melakukan apapun. Kini, nenek istrinya telah tiada dan Reon tidak ada di samping Ellena saat berduka. "Maaf, Nek… ma—af…" suaranya pecah. Namun, sekarang, di mana dia bisa menemukan Ellena? Istrinya… tidak bisa dihubungi, tidak menjawab telepon ataupun membalas pesan, seolah menghilang begitu saja dari dunia.
Mobil hitam yang dikendarai Reon akhirnya berhenti di depan sebuah hotel modern yang berdiri tidak jauh dari area terminal. Lampu-lampu bangunan memantul di kaca mobil, sementara suara pesawat yang lepas landas terdengar samar dari kejauhan.Waktu tempuh hotel ke bandara hanya sekitar li
Sudah dua jam berlalu, kamar hotel itu masih dipenuhi suara penyatuan Ellena dan Reon. Hanya saja kini mereka di posisi yang berbeda. Kali ini Ellena tengkurap di ranjang dengan kedua kakinya yang terangkat. Sementara itu, Reon menggenjot miliknya dengan kencang dari belakang. "Reon… ah
Ellena akhirnya kembali, dia menarik kopernya untuk keluar dari area kedatangan. Di tengah hiruk pikuk bandara, iris kecokelatan gadis itu langsung menangkap sosok yang berdiri menunggu di balik pagar pembatas. Ya, itu suaminya. Dareon Sankara Adinata yang selalu jadi magnet bagi setiap orang. Wa
Meski rambut perempuan itu berwarna ungu muda dan mengenakan kacamata gradasi, Ellena dengan mudah mengenalinya. Ya, itu Graciella dan di samping perempuan tersebut, seorang pria matang berkulit putih segar—jauh lebih tua dengan postur tegap dan aura tenang—jenis pria yang kehadirannya langsung t






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็นเพิ่มเติม