Bab 71Lila terlonjak kaget, detak jantungnya seakan berhenti sesaat ketika mendengar bisikan rendah nan serak itu tepat di depan wajahnya. "Serve me," suara itu bukan sekadar perintah, melainkan mantra yang seolah memiliki daya magis untuk melumpuhkan logika Lila dalam sekejap.Pandangan mereka beradu di bawah temaram lampu kamar. Mata kelam Oliver yang biasanya sedingin es, kini berkilat penuh gairah dan dominasi yang pekat. Lila merasa pening, bukan karena kepalanya yang berat, tapi karena permainan emosi yang Oliver suguhkan begitu tiba-tiba.Ia yang tadinya berusaha keras mendorong dada bidang itu, perlahan merasa tenaganya menguap. Protes yang sudah di ujung lidah tertelan kembali, digantikan oleh napas yang memburu. Kata-kata Oliver barusan seolah menghipnotisnya, menembus lapisan pertahanan harga diri yang selama ini ia bangun kokoh.Tanpa sadar, jemari Lila yang tadi mengepal untuk memukul, kini perlahan terbuka dan berpindah. Ia justru menggenggam erat lengan kokoh Oliver yan
閱讀更多