Se connecter"Tiga ratus juta. Dan layani aku malam ini, sekarang juga." Lila terkesiap. Uang sebanyak itu bisa untuk membantu biaya pengobatan Ibunya. Airmatanya tumpah. Namun, Oliver enggan menanti, "Keputusan ada di tanganmu, Pelayan. Kau dapat uangmu, dan aku dapat... kepuasan." Lila berpikir ia akan bebas setelah malam itu, melainkan Oliver memberikan penawaran lebih gila dengan janji melunasi biaya rumah sakit Ibunya, “Tugasmu adalah menjadi pemuas Jonathan, Ayah tiriku.”
Voir plusSuatu hari, cinta yang seharusnya tidak pernah terlahir di dunia akhirnya muncul begitu saja tanpa seorang pun bisa menghentikannya.
Tatapan sinis dan gerakan protes terjadi hampir di seluruh penjuru Wilayah Sabit. Semua itu ditujukan kepada keputusan sang Sultan menikahi wanita dari Wilayah Purnama yang merupakan musuh bebuyutan Wilayah Sabit.
Sang Sultan yang baru naik tahta langsung menjadi kontroversi seluruh penjuru dunia. Namun, peristiwa itu tetap terjadi dan berlanjut hingga lahirnya Raskar.
***
Tempat ini adalah area paling menarik perhatian dari seluruh area di dalam Institut Teknologi Buyar. Sebagai salah satu pusat pendidikan Pendekar paling berkualitas tinggi, tentu saja bukan sembarang orang bisa keluar masuk sesuka hatinya.
Saat ini, banyak orang berkumpul di area tersebut. Area ini disebut sebagai Area Arena Tangguh di mana tempat para Pendekar pemula hingga elit profesional menjalani ujian paling keras dan brutal.
Terdiri dari banyak arena dengan pelindung tinggi yang didukung oleh Tekno Pusaka membuat tempat itu begitu menegangkan dan juga sakral di saat bersamaan.
Banyak sorakan terjadi silih berganti. Suara dentuman dahsyat juga terdengar setiap kali orang-orang bersorak. Seakan-akan, kedua suara itu sudah saling melengkapi satu dengan yang lainnya.
Namun, semua sorakan dan dentuman dahsyat tiba-tiba menjadi hening tepat ketika salah satu arena menjadi sorotan semua orang.
Arena tersebut milik Pendekar pemula yang seharusnya tidak terlalu menarik perhatian semua orang. Akan tetapi, kali ini jelas berbeda karena sosok itu ada di sana.
“Urgh…!”
Suara lirih tak berdaya seorang pemuda yang terlempar melayang sebelum jatuh tersungkur di atas arena tersebut.
Lemas dan tak berdaya seperti sosis panggang, pemuda tersebut jelas sangat menderita sekali dengan keadaan yang sedang menimpanya.
Boom!
Tak jauh darinya, suara hentakan kaki terdengar dengan keras hingga menimbulkan debu di sekelilingnya. Sosok buram pemuda lainnya perlahan menunjukkan dirinya.
“Ha-ha-ha! Dasar semut rendahan! Apa ini produk akhir yang keluar dari perut wanita rendahan Wilayah Purnama itu, hah?!”
Seorang pemuda berusia sekitar 12 tahun dengan gagah berdiri menertawakan penderitaan pemuda yang tergeletak di atas arena itu.
Pemuda 12 tahun itu bernama Toni Fanto. Salah satu Pendekar pemula yang begitu terkenal karena kekuatannya serta keganasannya setiap kali bertarung di atas arena.
Adapun pemuda yang tersungkur itu adalah Raskar. Dia benar-benar terlihat begitu pucat dengan memar bertumpuk di wajahnya hingga sulit untuk mengenali sosoknya.
Jika bukan karena perlindungan dari kostum Tekno Pusaka miliknya, cederanya mungkin akan lebih parah daripada yang terlihat sekarang.
Raskar perlahan mencoba untuk bangkit kembali meski tertatih-tatih dan terlihat meliuk-liuk sempoyongan tak jelas arahnya.
“Urgh…. A–aku belum kalah! J–juga, jangan berani-berani kau menghina ibuku!” tegas Raskar dengan ganas menatap tajam ke arah Toni.
Meski kata-katanya terdengar begitu jantan, pandangan matanya semakin buram dan sulit baginya melihat dengan jelas.
Belum lagi postur tubuhnya yang terlihat lemah dan bisa saja tersungkur lagi kapan pun bila Raskar tidak punya tekad kuat yang tersisa.
“Hah? Apa kau bilang tadi? Aku tidak dengar dan tak ingin dengar apa pun dari mulutmu! Coba lihatlah keadaan dirimu sendiri sebelum bersikap sok di hadapanku!” sahut Toni dengan bangga menunjukkan jari tengahnya ke arah Raskar.
Semua orang yang melihat itu memiliki berbagai ekspresi yang rumit. Namun, sebagian besar orang tampak menikmati pemandangan di mana Toni mempermalukan Raskar.
“Hmph! Apa hebatnya seorang Pendekar Tingkat 2 menindas Pendekar Tingkat 1. Dia bahkan sempat kesulitan melawan bocah Tingkat 1 itu.”
Seseorang tampak mengejek sikap sombong Toni yang tidak selayaknya ditunjukkan oleh seorang Pendekar Tingkat 2 di hadapan musuhnya yang lebih lemah.
“Hah? Apa maksudmu berkata seperti itu? Salah sendiri bocah terkutuk itu karena berani menantang Toni. Siapa suruh dia bersikap jagoan seperti itu? Ternyata hanya pecundang! Bueh!”
Seorang lainnya seakan dengan sengaja menyindir balik sambil meludah dengan tatapan sinis tetap diarahkan kepada Raskar.
“Ha-ha-ha! Betul juga perkataanmu. Salahkan diri sendiri karena tidak tahu diri!”
“Tidak tahu diri? Bocah terkutuk itu lebih dari sekadar tidak tahu diri. Dia jelas tidak tahu malu sama sekali!”
“Pecundang sepertinya masih berani sok keren di sini, keluar saja sana!”
“Keturunan Wilayah Purnama tidak pantas berada di tempat ini. Pergi keluar dan kembali ke tempat asalmu!”
“Pergi! Pergi!”
Suara-suara sorakan berubah menjadi ejekan secara serempak dilontarkan tepat kepada Raskar. Dia jelas mendengar hal itu, tapi tetap diam menatap tajam ke arah Toni.
Toni sendiri tampak begitu menikmati sorakan yang mendukungnya serta ejekan kepada Raskar. Semua itu terdengar seperti alunan musik berkualitas tinggi.
“Ha-ha-ha! Lihatlah baik-baik! Ini adalah kenyataan yang harus kau dengar dan ingat sepanjang hidupmu! Kamu semut tidak penting di hadapanku seorang Toni Fanto!” tegas Toni dengan senyum mengejek melihat Raskar.
Raskar terdiam mendengar itu sebelum terbata-bata berkata, “A–aku bilang, jangan berani-berani kau menghina ibuku!”
Perkataan Raskar sebenarnya terdengar cukup jelas meski suaranya cukup serak dan kata-katanya sedikit terbata-bata.
Meski begitu, Toni tetap semakin mengejeknya. “Apa? Aku tidak dengar apa pun. Jangan banyak omong, cepat maju sini biar aku selesaikan semuanya dengan cepat! Ha-ha-ha!”
Suara lantang Toni memang sengaja dibuatnya agar para penonton mendengarnya dengan jelas. Rasa bangga dan sombong menindas Raskar sudah memenuhi hatinya.
“Betul itu. Cepat bertarung lagi!”
“Tunggu apalagi, hah? Maju dan selesai pertarungan membosankan ini!”
“Dasar bocah terkutuk! Cepat menyerah saja kalau sudah tidak mampu lagi!”
“Maju Toni! Habisi dia! Tunjukkan kekuatan sebenarnya Pendekar elit Wilayah Sabit!”
“Musnahkan semut keturunan Wilayah Purnama sekarang juga!”
“Toni! Toni!”
Semua orang terutama para penonton semakin menjadi-jadi bersorak mendukung Toni dan mulai mencaci maki Raskar hingga tak terhitung jumlah katanya.
Toni tak mampu lagi menahan rasa bangga dipuja oleh semua orang. Tatapannya penuh arogansi ketika melihat sosok Raskar seperti daging talenan di matanya.
“Ha-ha-ha! Semua orang ingin kamu kalah hari ini, Raskar! Karena hatiku sedang bahagia, satu pukulan saja sudah cukup untukmu. Bagaimana?”
Toni berjalan dengan tenang mendekat ke arah Raskar dan bersiap untuk melayangkan satu pukulan pamungkas dengan sekuat tenaga.
“He-he-he! Meski aku bilang satu pukulan, ini adalah pukulan paling kuat yang sudah aku latih selama ini. Soal ibumu, wanita murahan sepertinya tidak layak menjadi ratu Wilayah Sabit. Raskar, terima hadiahku ini!”
Toni memang sangat licik. Dia mengirimkan pesan telepati ke dalam pikiran Raskar yang jelas berbeda dengan sikap sok baiknya di hadapan semua orang.
Ini sudah kesekian kalinya Toni melakukan semua aksi sok jagonya itu. Setiap kali dia akan menang, tak pernah lupa untuk mendaratkan hinaan yang begitu pedas masuk ke dalam hati Raskar yang selalu ditindasnya.
Raskar sangat terguncang mendengar cacian seperti itu. Jika orang lain hanya menghina dirinya saja, dia tidak akan merasa begitu marah.
Namun, apabila ibunya yang dihina, hatinya akan hancur penuh amarah yang sulit diredakan. Itu adalah batas garis bawahnya yang tidak boleh disentuh oleh siapa pun.
“Toni Fanto! Aku, Raskar, putra Sultan ke-99 tidak akan pernah melupakan semua penghinaan hari ini. Ingat itu, dasar pria berwajah munafik seperti orang utan!” teriak Raskar dengan lantang sebagai bentuk balasannya menerima pesan telepati sebelumnya.
Bab 83Langkah kaki Oliver terdengar saat ia kembali menapakkan kakinya di gedung pencakar langit milik perusahaannya. Atmosfer dingin dan berwibawa seketika menyelimuti koridor.Sesuai dengan arahan dan strategi matang yang disusun bersama Austin Harold, Oliver kembali mengeksekusi rencana besarnya. Ia menyetujui langkah ekspansi perusahaan menuju pasar Eropa—sebuah keputusan bernilai fantastis yang melibatkan Austin secara langsung sebagai investor utama di balik layar.Baru saja Oliver mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya, pintu ruang kerja berdesain elegan itu terdorong terbuka secara kasar.“Ck! Manusia ini sangat tidak sabaran!d” batin Oliver begitu melihat sosok Jonathan Miller melangkah masuk ke dalam ruangannya dengan tergesa-gesa. Wajah pria paruh baya itu dipenuhi oleh ketamakan yang sulit disembunyikan.“But it’s ok! Semakin kau tidak sabaran, membuat semuanya lebih cepat selesai!” tambah Oliver di dalam hatinya dengan kilatan dingin di mata."Aku dengar kontraknya su
Bab 82Langkah kaki mereka akhirnya terhenti di depan sebuah pintu kaca buram dengan papan nama bertuliskan Ruang Perawatan Intensif.Di tengah ruangan yang hening dan steril itu, sosok Susan terbaring tak berdaya di atas ranjang medis. Suara monitor detak jantung yang berbunyi teratur bip... bip... bip... menjadi satu-satunya melodi yang memecah kesunyian di ruangan tersebut.Dada Lila terasa sesak luar biasa setiap kali menyaksikan kondisi ibunya yang seperti ini. Ia melangkah mendekat ke sisi ranjang, menatap wajah pucat sang ibu dengan pandangan sendu.Padahal ia baru saja bisa berbicara dengan sang Ibu. Tapi… sekarang…Nathaniel berdiri di belakang Lila, memperhatikannya wanita mungil itu."Lila... Ibu kamu—" ujar Nathaniel mencoba membuka suara, menaruh nada iba di sela kalimatnya.Namun sebelum Nathaniel sempat menyelesaikan ucapannya, Lila menyela dengan suara rendah. "Hmm, Dokter Nathaniel... bisa Anda berikan waktu untukku?"Dokter Nathaniel terdiam sejenak. Sorot matanya ya
Bab 81Aroma khas cairan antiseptik langsung menyambut indra penciuman Lila begitu ia melangkah melewati pintu kaca otomatis. Langkah kakinya terdengar di atas lantai marmer putih yang berkilau.Setelah melewati pagi yang penuh badai emosi dan kecanggungan di apartemen Oliver, suasana rumah sakit yang relatif tenang ini memberikan sedikit ruang baginya untuk bernapas, walau dadanya masih dihimpit rasa cemas yang tak kunjung usai.Namun, ketenangan sejenak itu tidak bertahan lama."Lilaa!" suara familiar milik Dokter Nathaniel terdengar memanggil namanya dari arah koridor utama. Pria berselimut jas putih dokter itu baru saja menyadari kedatangan Lila di lobi rumah sakit.Lila menoleh dan serta-merta menghentikan langkahnya. “Dokter Nat?” gumamnya pelan.Melihat Lila berhenti, Nathaniel bergegas berlari kecil memangkas jarak agar bisa segera tiba di tempat wanita itu berdiri. Wajah tampannya mengisyaratkan kekhawatiran yang begitu nyata.“Ya, bagaimana kabarmu? Kamu baik-baik saja, kan?
Bab 80“Pagi, Tuan Austin,” sapa Oliver sopan, memecah perhatian pasangan suami istri tersebut.Austin menoleh, lalu sebuah senyuman ramah terukir di wajah tegasnya. “Ah, kamu sudah di sini, Oliver. Duduklah.”Istri Austin, Bella, menyadari bahwa suaminya kini harus beralih ke urusan yang lebih serius. Ia tersenyum lembut, lalu mengusap bahu Austin pelan. “Ya sudah, aku balik ke kamar ya, hubby. Kamu lanjutkan dulu kerjaan kamu.”Bella pun berdiri dari tempat duduknya, memajukan wajah dan mengecup pipi suaminya dengan penuh kasih sayang.“Iya, love. Ini tidak akan lama,” balas Austin hangat sembari meraih jemari Bella dan mengecup punggung tangan istrinya penuh kelembutan.“Take your time,” bisik Bella manis. Sebelum benar-benar berlalu meninggalkan area tersebut, jemari cantiknya membelai pipi Austin sekilas, memberikan ruang pribadi bagi para pria untuk berdiskusi.Oliver yang sudah mendudukkan dirinya di sofa hanya bisa menjadi penonton bisu. Interaksi penuh kehangatan dan keharmoni
Bab 59Ting!Pintu lift terbuka di lantai teratas yang jauh lebih tenang. Bastian dengan sigap melangkah keluar lebih dulu untuk membukakan pintu ruangan luas yang berlapis kayu mahoni gelap, mempersilakan bosnya masuk dengan sikap takzim."Tunggu di sini," titah Oliver singkat begitu mereka sampai
Bab 43"Berikan padaku, Lila." Suara Oliver terdengar seperti perintah sekaligus tuntutan yang tak terbantahkan. Ia meremas payudara Lila dengan intensitas yang membuat napas wanita itu tercekat.Tanpa menunggu jawaban, Oliver mencengkeram pinggang Lila dan menegakkan punggung wanita itu, memaksany
Bab 42"Jelaskan!" perintahnya tajam.Lila mengepalkan tangannya di atas pangkuan, mencoba mencari keberaniannya kembali. "Tuan... itu hanya balas budi. Dia menyelamatkan Ibu saya dan dia butuh bantuan untuk menghindari perjodohan ibunya. Tidak lebih!"Oliver tertawa hambar, suara tawa yang paling m
Bab 23Lila menghela napas panjang di depan cermin kecil kamarnya. Dengan susah payah ia mengendap-ngendap, untungnya ia berhasil sampai tanpa ketahuan.Tatapan Lila jatuh pada benda kecil yang tadi diberikan Oliver sebelum ia keluar. Sebuah salep pereda nyeri bermerek mahal."Ternyata dia masih pu
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentaires