LOGIN"Tiga ratus juta. Dan layani aku malam ini, sekarang juga." Lila terkesiap. Uang sebanyak itu bisa untuk membantu biaya pengobatan Ibunya. Airmatanya tumpah. Namun, Oliver enggan menanti, "Keputusan ada di tanganmu, Pelayan. Kau dapat uangmu, dan aku dapat... kepuasan." Lila berpikir ia akan bebas setelah malam itu, melainkan Oliver memberikan penawaran lebih gila dengan janji melunasi biaya rumah sakit Ibunya, “Tugasmu adalah menjadi pemuas Jonathan, Ayah tiriku.”
View MoreBab 1
Pukul tujuh malam, Kediaman Miller terasa sunyi dan menekan.
Meski shiftnya sebagai pelayan baru sudah berakhir, Lila Laven masih harus bekerja. Ia butuh uang secepat mungkin.
Gadis berusia 26 tahun dengan kulit putih bersih dan rambut hitam pekat yang sedikit bergelombang tergerai di punggung itu, menyeka keringat tipis di pelipisnya.
Ia mengenakan seragam pelayan berwarna hitam dan putih yang kontras dengan matanya yang bulat dan ceria, kontras pula dengan beban yang dipikulnya.
Ibunya, Susan, terbaring lemah karena kanker dan butuh operasi segera. Biayanya? 1,5 Milyar. Sebuah angka yang mencekik.
Sudah seminggu ia menggantikan ibunya di rumah megah Jonathan Miller, 49 tahun, seorang pengusaha duda yang selalu bersikap ramah, meski matanya terkadang memancarkan sorot aneh.
Memiliki dua pekerjaan sekaligus, pelayan di siang hari di kediaman Miller dan pelayan di bar eksklusif di tengah malam membuat Lila berjalan di atas benang tipis kelelahan.
Malam ini, ia mendapat tugas membersihkan kamar tamu yang jarang dipakai, yang terletak di ujung koridor lantai dua. Ruangan itu gelap dan sedikit berdebu, dimana terlihat jika yang empunya rumah memang tidak punya tamu. Lila mengambil kemoceng dan mulai membersihkan. Ia bergumam pelan, mencemaskan shiftnya di bar.'Ya Tuhan, dari mana aku dapat uang untuk pengobatan Ibu?'
Tiba-tiba, suara pintu depan dibanting dengan keras menggema di kesunyian malam. Langkah kaki berat, cepat, dan tergesa-gesa memecah kesunyian. Langkah itu bukan langkah Tuan Miller. Langkah ini terlalu tegap, terlalu cepat, dan memancarkan aura bahaya. Jantung Lila mencelos. Ia menahan napas, mengira ada perampok. Ia segera meringkuk di balik tirai tebal yang menutupi jendela besar kamar tamu. Pintu kamar itu didorong terbuka dengan sebuah hentakan keras. Bukan perampok. Seorang pria bertubuh tinggi tegap, berbalut setelan mahal yang sedikit kusut, berdiri di ambang pintu. Pria tampan yang baru pertama kali ia lihat, wajahnya tertekuk, rahangnya mengeras, dan mata hitamnya memancarkan kemarahan yang mencekam. Nafasnya terdengar memburu. Lila tidak dapat melihat dengan jelas. “Siapa pria itu?” batinnya, menggigit bibir bawahnya, kedua tangannya mencekam erat pakaian seragam pelayannya. Sedangkan pria tersebut tidak menyadari kehadiran Lila di balik tirai. Ia berjalan gontai menuju ranjang king size di tengah ruangan, mencampakkan tas kerja mewahnya, lalu menyentuh keningnya yang berdenyut. Dia baru saja selamat dari jebakan yang nyaris merenggut nyawanya dalam perjalanan pulang. Kini badannya terasa begitu panas. Ada yang aneh. “Shit! Aku lengah!” geram pria yang merupakan pemilik asli rumah ini. Dia Adalah Oliver James Monfalco, pria berusia 33 tahun. Pria yang terkenal begitu dingin dan di takuti di kalangan para pebisnis dan dunia bawah tanah. Pria yang misterius, tidak pernah menunjukkan jati dirinya di muka public. Saat Oliver mulai melonggarkan dasinya, mata tajamnya menangkap gerakan halus di balik tirai jendela. Ia melihat bayangan tubuh mungil di sana. Mata Oliver seketika berubah dari lelah menjadi tajam dan dingin. Ia tahu betul rumah ini seharusnya kosong saat ini. "Siapa di sana?!" suaranya serak, menusuk. Lila tersentak, lalu perlahan keluar dari persembunyiannya. Ia menunduk takut, jari-jarinya meremas gagang kemoceng. "M-maaf, Tuan. Saya pelayan baru, saya sedang membersihkan kamar ini." Oliver melangkah maju. Satu langkahnya sudah cukup membuat Lila mundur dua langkah. Ia mengamati Lila dari ujung kaki hingga kepala. Tubuh indah di balik seragam pelayan, payudara ranum yang menekan kain, bibir tipis yang bergetar. Wajah polos dan ketakutan itu entah mengapa menarik perhatiannya, memicu sesuatu yang gelap di dalam dirinya. "Pelayan?" Oliver mendengus dingin. "Jonathan sudah bosan dengan pelayan tua dan menggantinya dengan... mainan baru?" Lila mendongak, matanya memancarkan amarah tipis. "Saya tidak mengerti maksud Anda, Tuan. Saya disini menggantikan ibu saya." Oliver tidak peduli. Tidak ada orang yang ia percayai di dunia ini. Ia hampir saja celaka dan situasi saat ini bukannya seperti jebakan yang tertunda. Pria ini haus akan kendali, dan Lila, yang tampak kecil tak berdaya, adalah target yang sempurna. Setidaknya ia berada di kediamannya saat ini. Dan semua berada di bawah kendalinya, termasuk pelayan kecil yang ada di depannya. Dalam sekejap, Oliver menghapus jarak di antara mereka. Ia meraih lengan Lila dengan cengkeraman baja, menyeret tubuh mungil itu menuju tempat tidur. "Lepaskan! Tuan, apa yang Anda lakukan?!" Lila meronta, suara cerianya berubah menjadi jeritan tertahan. Oliver menindih tubuh Lila di atas ranjang empuk. Nafasnya yang panas menerpa telinga Lila. Membuat pelayan cantik itu memukul-mukul dada Oliver, tapi tenaganya tidak berarti apa-apa. "Diam." Perintah Oliver rendah, dingin, dan tegas. Dia mencengkeram rahang Lila, memaksa wanita itu menatap matanya. Kemudian, ia mencium Lila. Ciuman brutal, kasar, seperti menuntut pengakuan dari tubuhnya. Lila merasakan sakit di bibirnya, bercampur dengan aroma whisky dan parfum mahal pria asing yang kini menindihnya. Saat Lila berusaha memalingkan wajah, Oliver berbisik, nadanya terdengar seperti seorang diktator yang tengah menawarkan amnesti. "Kau butuh uang, bukan?" Oliver menarik diri sedikit, matanya yang kelam menatap langsung ke mata bulat Lila yang kini berkaca-kaca. Lila terkejut. "Ba-bagaimana Anda tahu?" "Semua pelayan di rumah ini butuh uang. Tapi kau," Oliver menjilat sudut bibirnya, tatapannya menyapu setiap lekuk tubuh Lila. "Kau terlihat sangat putus asa." Oliver menyelipkan tangan ke saku celananya, mengeluarkan dompet tebal, dan melemparkan selembar cek yang sudah ditandatangani ke atas bantal di samping kepala Lila. "Tiga ratus juta. Dan layani aku malam ini, sekarang juga."Bab 73Lila menjerit keras, suaranya memenuhi kamar saat gelombang kenikmatan itu datang bertubi-tubi. Tubuhnya gemetar hebat, melengkung di bawah tekanan dan dominasi Oliver yang sama sekali tidak memberinya celah untuk bernapas.Namun, Oliver belum puas. Dengan gerakan yang sangat tangkas dan bertenaga, ia memutar tubuh Lila hingga wanita itu kini memunggunginya. Oliver menarik pinggul Lila ke atas, sementara ia sendiri berlutut di belakangnya, memposisikan diri dengan presisi yang mematikan.Tanpa peringatan, Oliver kembali menghujamkan miliknya dari belakang dalam satu dorongan yang sangat dalam dan bertenaga."AKH! TUAN—!" Lila membelalakkan matanya, napasnya seolah tercekat di tenggorokan. Ia mencengkeram sprei dengan kuku-kukunya yang memutih. "Tuan... Akh... Itu... itu sangat dalam... hhh...""Sshh... Rasakan ini, Lila," geram Oliver rendah tepat di tengkuknya. Suara serak pria itu terdengar sangat maskulin dan penuh gairah.Oliver mengambil kendali penuh. Kedua tangan besarny
Bab 72Oliver semakin intens memainkan klitoris Lila hingga wanita mungil itu menjerit dalam gelombang kenikmatan. "Tu...an... Eungh!"Oliver menyeringai puas, ia berpindah posisi, dan mengarahkan miliknya ke mulut Lila, "Now... Do it Lila."Lila dengan nafas tersengal-sengal membuka mulutnya, memegang kendali dari kejantanan Oliver yang berurat itu, tangannya terasa begitu panas saat bersentuhan. "Ugh...""Damn... Lila..." Oliver menggeram kenikmatan dengan permainan mulut Lila yang memanjakan kejantanannya.Oliver memejamkan mata erat, kepalanya mendongak ke belakang saat merasakan kehangatan yang melingkupi miliknya. Jemari tangannya mencengkeram headboard kasur, urat-urat di lengannya menegang seiring dengan geraman rendah yang lolos dari tenggorokannya. Permainan mulut Lila yang awalnya ragu, kini mulai menemukan ritmenya, memberikan sensasi yang hampir membuat Oliver hilang akal dalam sekejap."Lila... keep going..." desis Oliver dengan suara serak yang pecah karena gairah.Lila,
Bab 71Lila terlonjak kaget, detak jantungnya seakan berhenti sesaat ketika mendengar bisikan rendah nan serak itu tepat di depan wajahnya. "Serve me," suara itu bukan sekadar perintah, melainkan mantra yang seolah memiliki daya magis untuk melumpuhkan logika Lila dalam sekejap.Pandangan mereka beradu di bawah temaram lampu kamar. Mata kelam Oliver yang biasanya sedingin es, kini berkilat penuh gairah dan dominasi yang pekat. Lila merasa pening, bukan karena kepalanya yang berat, tapi karena permainan emosi yang Oliver suguhkan begitu tiba-tiba.Ia yang tadinya berusaha keras mendorong dada bidang itu, perlahan merasa tenaganya menguap. Protes yang sudah di ujung lidah tertelan kembali, digantikan oleh napas yang memburu. Kata-kata Oliver barusan seolah menghipnotisnya, menembus lapisan pertahanan harga diri yang selama ini ia bangun kokoh.Tanpa sadar, jemari Lila yang tadi mengepal untuk memukul, kini perlahan terbuka dan berpindah. Ia justru menggenggam erat lengan kokoh Oliver yan
Bab 70"Organisasi?" tanya beberapa petinggi di ruangan itu hampir bersamaan. Mereka saling lirik, merasa asing dengan istilah yang baru saja meluncur dari mulut Jonathan. Meski Oliver membisikkannya dengan sangat pelan, keterkejutan Jonathan rupanya cukup hebat hingga ia tanpa sadar menggumamkan kata keramat tersebut.Suasana rapat yang sudah kacau itu pun semakin tidak menentu. "Pak Jonathan, sebaiknya meeting hari ini ditutup saja oleh Anda," suara salah satu direktur menyela, mencoba menormalkan situasi yang makin canggung.Jonathan tersentak, ia segera menarik napas dalam dan berusaha menormalkan ekspresinya yang sempat pias. "Ah, ya. Maafkan saya. Karena sifat Oliver yang masih kekanakan seperti itu," ucapnya sembari memaksakan sebuah senyum tipis.Jonathan pun menutup meeting yang bahkan tidak dimulai itu. Ia meminta maaf yang sangat dalam atas nama Oliver, bertingkah seolah ia adalah orang tua yang sabar menghadapi anak tiri yang kurang ajar. Namun di balik topeng itu, jantungn
Bab 68Lila akhirnya menyerah. Dengan langkah berat dan hati yang mendidih, ia masuk ke dalam mobil mewah itu. Sepanjang perjalanan, ia hanya menatap keluar jendela, mengabaikan kemewahan interior mobil yang biasanya akan membuat orang awam terpukau.Sopir Oliver membawanya langsung menuju apartemen
Bab 67Setelah menempuh perjalanan jauh yang menguras kantong dan emosinya, Lila akhirnya tiba di depan sebuah club malam tempatnya bekerja. Ia turun dari taksi dengan napas memburu, berniat untuk langsung masuk dan segera memulai sifnya agar bisa melupakan kejadian melelahkan hari ini.Namun, baru
Bab 66Lila yang ditinggalkan begitu saja oleh Oliver hanya bisa mendengus kesal. Ia menghentakkan kakinya ke lantai mahoni, melampiaskan kegeraman pada pria yang emosinya lebih labil daripada ramalan cuaca itu. Lila berjalan menuju meja yang berada di ruang tengah, menyambar tasnya dengan gerakan g
Bab 65Usai mengatakan itu, Oliver merogoh ponsel dari saku celananya dengan gerakan santai namun penuh perhitungan. Ia menekan beberapa digit nomor dan menempelkan benda tipis itu ke telinganya."Aku ingin kau mengadakan rapat dalam waktu 30 menit dari sekarang," ucap Oliver dingin begitu sambungan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews