Rusdi memutar kunci pintu kamar itu dengan pelan sampai terdengar bunyi 'klik'. Begitu pintu terkunci, bahu Rusdi langsung turun, merasa sedikit lega karena terpisah dari ocehan Adisty di lantai bawah."Taruh tasnya di meja rias saja, Rus," perintah Vivian sambil berjalan menuju cermin besar. Dia melepas sepatu hak tingginya sembarangan, membuat tubuhnya jadi sedikit lebih pendek tapi tetap terlihat padat berisi."Baik, Nya," jawab Rusdi singkat.Rusdi meletakkan tas itu, lalu matanya melirik ke arah Vivian yang sedang memijat lehernya sendiri di depan cermin. Gaun sutra tipis itu menempel ketat di pinggulnya yang lebar dan bokongnya yang menonjol.'Sudah sering lihat, sudah sering pegang, tapi tetap saja bikin celana sempit,' batin Rusdi. Dia hafal betul setiap lekuk tubuh majikannya itu, tapi pemandangan di depannya ini tidak pernah membosankan."Rus, sini sebentar," panggil Vivian lewat pantulan cermin. Matanya menatap Rusdi dengan sayu. "Resleting belakangku macet nih. Tolong buka
Mehr lesen