Happy Reading ☺️ Pagi itu, Nadira tahu ada yang berubah. Ia merasakannya sejak melangkah masuk ke lobi kantor—tatapan-tatapan yang terlalu cepat berpaling, bisik-bisik yang terpotong setengah kalimat, dan senyum tipis yang terasa dipaksakan. Semua tampak rapi di permukaan, tapi ada riak halus yang tak bisa ia abaikan. Ia menghela napas, menegakkan bahu. Kerja saja. Jangan pikirkan yang lain. Di meja kerjanya, ia membuka agenda hari itu. Belum sempat menyusun prioritas, ponsel kantor bergetar. “Nadira,” suara Arka terdengar dari interkom. “Ke ruangan saya.” “Baik, Pak.” Begitu pintu tertutup, Arka berdiri di dekat jendela, punggungnya menghadap kota yang masih diselimuti sisa hujan. Ia berbalik ketika Nadira masuk. “Hari ini akan ada tamu,” ucapnya singkat. “Saya butuh kamu standby.” “Investor?” Arka menggeleng. “Bukan.” Nada itu membuat Nadira menahan pertanyaan. Ia mengangguk dan mencatat. “Dan satu hal lagi,” tambah Arka, matanya menatap Nadira lebih lama dari biasanya.
Last Updated : 2025-12-19 Read more