Sekretaris Sexy Milik CEO Dingin

Sekretaris Sexy Milik CEO Dingin

last updateÚltima atualização : 2026-01-11
Por:  Isabella HartAtualizado agora
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Classificações insuficientes
22Capítulos
10visualizações
Ler
Adicionar à biblioteca

Compartilhar:  

Denunciar
Visão geral
Catálogo
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP

Nadira melamar pekerjaan dengan satu tujuan sederhana: bertahan hidup. Ia tidak pernah menyangka bahwa satu keputusan itu akan menyeretnya ke dalam dunia seorang CEO dingin yang terbiasa mengendalikan segalanya. Pria itu nyaris tak pernah tersenyum, bersikap arogan, dan menjaga jarak—namun tatapannya terlalu tenang untuk diabaikan. Di balik sikap dinginnya, tersimpan perhatian yang perlahan menekan batas profesional. Semakin Nadira berusaha menjaga jarak, semakin ia terjebak dalam permainan yang tidak ia pahami aturannya. Karena bagi seorang CEO yang terbiasa menguasai segalanya, memiliki satu sekretaris saja sudah cukup untuk menjadi obsesi.

Ver mais

Capítulo 1

EPISODE 1 TATAPAN PERTAMA

Happy Reading ☺️

Hari itu seharusnya biasa saja.

Nadira berdiri di depan gedung Mahendra Group dengan map cokelat di tangan dan napas yang sedikit tertahan. Gedung itu menjulang tinggi, kaca-kacanya memantulkan langit pagi yang kelabu. Ia menatap pintu masuknya selama beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.

Ini kesempatan terakhir, Nadira.

Jangan gugup. Jangan gagal.

Ia melangkah masuk, sepatu hak rendahnya berdenting pelan di lantai marmer. Aroma kopi dan pendingin ruangan menyambutnya. Orang-orang berlalu-lalang dengan wajah serius, setelan rapi, dan langkah cepat—dunia yang terasa asing tapi menantang.

Saat Nadira hampir mencapai meja resepsionis, sebuah benturan kecil terjadi.

“Ah—maaf!”

Map di tangannya hampir terjatuh jika sebuah tangan besar tidak lebih dulu menahannya.

Nadira mendongak.

Dan di sanalah semuanya berubah.

Pria di depannya tinggi, berwajah tegas dengan rahang kokoh dan mata gelap yang menatapnya tanpa berkedip. Setelan hitamnya sederhana tapi mahal. Auranya… dingin. Tenang. Mengintimidasi.

“Tidak apa-apa,” ucap Nadira cepat, gugup.

Pria itu tidak langsung menjawab. Tatapannya seolah menelusuri wajah Nadira, berhenti terlalu lama untuk ukuran orang asing. Ada sesuatu dalam sorot matanya—tajam, dalam, seakan sedang mengunci sesuatu yang tidak ingin ia lepaskan.

“Apa kamu terluka?” tanyanya akhirnya, suara rendah dan datar.

Nadira menggeleng. “Tidak. Terima kasih.”

Pria itu menyerahkan mapnya. Ujung jarinya hampir menyentuh kulit Nadira. Sentuhan singkat, nyaris tak terasa—namun cukup membuat Nadira menegang tanpa alasan jelas.

“Semoga wawancaranya lancar,” ucap pria itu singkat sebelum melangkah pergi.

Nadira menatap punggungnya yang menjauh, masih sedikit linglung.

Aneh…

Kenapa dadanya terasa sesak?

Ia menggeleng pelan, mencoba mengusir perasaan tak masuk akal itu, lalu melanjutkan langkah menuju resepsionis.

Ia tidak tahu.

Pria yang baru saja ia temui adalah Arka Mahendra—Direktur Utama Mahendra Group.

Dan sejak tatapan pertama itu, Arka tahu satu hal dengan sangat jelas:

Ia tidak ingin kehilangan perempuan itu.

Wawancara berjalan lebih menegangkan dari yang Nadira bayangkan. Pertanyaan datang bertubi-tubi—tentang pengalaman, ketahanan mental, hingga kesiapan bekerja di bawah tekanan.

Namun Nadira menjawab semuanya dengan jujur dan tenang.

Dua hari kemudian, sebuah email masuk ke kotak pesannya.

Selamat, Anda diterima sebagai Sekretaris Direktur Utama.

Nadira menutup mulutnya, menahan teriakan kecil yang hampir lolos. Tangannya gemetar saat membaca ulang email itu berkali-kali.

Ia berhasil.

Hari pertama bekerja, Nadira datang lebih pagi. Seragam kerja rapi, rambut tersanggul sederhana. Ia berdiri di meja sekretaris yang terletak tepat di depan ruang Direktur Utama.

Saat pintu ruang itu terbuka, langkah kaki berat terdengar.

Nadira mendongak.

Dan napasnya seakan tertahan.

Pria itu.

Pria yang pernah bertabrakan dengannya.

Ia berdiri dari kursinya. “Selamat pagi, Pak.”

Tatapan itu kembali. Tatapan yang sama. Dingin, tenang, namun membuat Nadira merasa seperti sedang diperhatikan lebih dari seharusnya.

“Pagi,” jawab Arka singkat. “Kamu sekretaris baru?”

“Iya, Pak. Nama saya Nadira.”

Arka mengangguk kecil. “Arka Mahendra.”

Nadira membeku sesaat.

Direktur… utama?

Jadi pria itu—

“Silakan duduk,” ucap Arka dingin, lalu melangkah masuk ke ruangannya tanpa menoleh lagi.

Nadira duduk perlahan, jantungnya berdegup tidak beraturan.

Ia tidak tahu mengapa, tapi berada sedekat ini dengan atasannya membuatnya tidak nyaman… sekaligus bingung.

Di balik pintu kaca buram ruang kerjanya, Arka berdiri memunggungi meja. Tangannya mengepal pelan.

Takdir benar-benar punya selera humor yang buruk.

Perempuan yang sejak dua hari lalu tak bisa ia lupakan…

kini berada tepat di luar ruangannya.

Menjadi sekretaris pribadinya.

Dan Arka tahu, menjaga jarak profesional dengan Nadira—

akan menjadi pertarungan paling sulit dalam hidupnya.

Di luar ruangannya, Nadira berusaha menenangkan diri. Ia membuka laptop, menyusun agenda hari itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar.

Kenapa dia harus jadi atasanku?

Nadira menghela napas pelan. Ia tidak boleh bersikap aneh. Pria itu—Arka Mahendra—adalah Direktur Utama, dan ia hanyalah sekretaris baru. Tidak lebih.

Beberapa menit kemudian, telepon meja berdering.

“Nadira.”

Suara itu terdengar dari balik gagang, datar dan singkat.

“Iya, Pak.”

“Masuk.”

Nadira berdiri, merapikan blazer, lalu melangkah masuk ke ruangan Arka. Ruangan itu lebih dingin dari yang ia bayangkan. Dinding abu-abu gelap, meja kerja besar, jendela tinggi dengan pemandangan kota.

Arka berdiri membelakangi meja, menatap keluar jendela.

“Kamu sudah baca kontrak kerja?” tanyanya tanpa menoleh.

“Sudah, Pak.”

“Kamu tahu jam kerja di posisi ini tidak mengenal waktu?”

“Iya.”

“Kamu tahu tekanan dan tuntutannya?”

“Iya.”

Arka akhirnya berbalik. Tatapannya menelusuri wajah Nadira, seakan mencoba membaca sesuatu yang lebih dalam dari sekadar jawaban formal.

“Kalau begitu, satu hal lagi,” ucapnya pelan. “Saya tidak menyukai kesalahan.”

Nadira menegakkan bahu. “Saya akan berusaha semaksimal mungkin, Pak.”

Bukan jawaban yang berlebihan. Tidak defensif. Tidak takut.

Untuk sesaat, Arka terdiam.

Menarik.

“Kamu bisa mulai dengan menyusun ulang agenda saya minggu ini,” katanya sambil menyerahkan sebuah map. “Ada beberapa jadwal yang ingin saya ubah.”

“Baik, Pak.”

Saat Nadira menerima map itu, jari mereka kembali bersentuhan—singkat, nyaris tidak disengaja.

Namun Arka menarik tangannya lebih cepat dari sebelumnya.

“Keluar,” ucapnya dingin.

Nadira mengangguk dan segera keluar, tidak menyadari bahwa di balik ekspresi datar Arka, ada napas yang tertahan.

Ini tidak seharusnya seperti ini.

Arka duduk di kursinya, menyandarkan punggung, menutup mata sejenak. Ia jarang—bahkan hampir tidak pernah—terganggu oleh kehadiran orang lain. Namun sejak pagi, fokusnya pecah.

Sekretarisnya.

Perempuan itu.

Ia membuka mata, menatap pintu kaca buram di depannya.

Jatuh cinta pada pandangan pertama adalah hal paling tidak rasional yang pernah ia alami. Dan lebih buruknya lagi, ia tidak bisa mengabaikannya.

Sementara itu, di mejanya, Nadira bekerja dengan penuh konsentrasi. Ia mencocokkan jadwal rapat, menelpon beberapa pihak, dan menyusun ulang agenda Arka dengan teliti.

Setiap kali pintu ruang Direktur terbuka, refleks Nadira selalu menegang.

Kenapa aku segugup ini?

Saat jam makan siang tiba, Nadira belum beranjak dari kursinya. Ia masih memeriksa ulang email dan catatan rapat.

“Kamu tidak makan?”

Suara itu datang tiba-tiba.

Nadira mendongak. Arka berdiri di depannya.

“Ah… sebentar lagi, Pak.”

Arka mengamati meja Nadira yang penuh catatan. “Jangan biasakan melewatkan makan.”

“Itu urusan saya, Pak,” jawab Nadira refleks, lalu langsung menyesal.

Ia menunduk. “Maaf.”

Arka terdiam beberapa detik, lalu berkata, “Sepuluh menit. Setelah itu lanjutkan.”

Nadira mengangguk cepat.

Saat Arka kembali masuk ke ruangannya, Nadira menatap punggungnya dengan perasaan aneh.

Dingin. Tegas. Menyebalkan.

Tapi… perhatian?

Nadira menggeleng kecil, menepis pikiran itu.

Tidak mungkin.

Di dalam ruangannya, Arka berdiri kembali di depan jendela. Bibirnya terkatup rapat.

Ia baru saja melanggar prinsipnya sendiri.

Mencampuri urusan pribadi karyawan.

Dan itu semua karena satu orang bernama Nadira.

Hari pertama itu berakhir tanpa insiden besar. Namun saat Nadira membereskan mejanya dan bersiap pulang, Arka memanggilnya sekali lagi.

“Besok datang lebih pagi,” katanya.

“Baik, Pak.”

Arka menatapnya beberapa detik lebih lama sebelum berkata, “Kamu… bekerja dengan baik hari ini.”

Itu bukan pujian yang berlebihan. Tapi cukup membuat Nadira terkejut.

“Terima kasih, Pak.”

Saat Nadira melangkah pergi, Arka menatap pintu yang tertutup perlahan.

Hari pertama saja sudah begini.

Ia tahu satu hal dengan pasti—

Hubungan profesional ini tidak akan sesederhana yang ia harapkan.

Nadira berjalan menuju lift dengan langkah pelan. Hari pertama kerja itu terasa jauh lebih melelahkan dari yang ia perkirakan—bukan karena tugasnya, tapi karena keberadaan Arka Mahendra yang entah kenapa terus memenuhi pikirannya.

Ia menekan tombol lift, menunggu pintu tertutup.

Di dalam, ia menyandarkan punggung ke dinding, menghembuskan napas panjang.

“Aneh,” gumamnya pelan. “Kenapa cuma tatapan saja rasanya seperti dia selalu… mengawasi?”

Nadira menggeleng, mencoba menertawakan pikirannya sendiri. Ia hanya sekretaris baru. Terlalu dini untuk menarik kesimpulan apa pun.

Namun di lantai atas, Arka masih berada di ruang kerjanya meski jam kerja telah usai. Ia berdiri di dekat meja, menatap agenda yang sudah disusun rapi oleh Nadira.

Terlalu rapi.

Terlalu teliti.

Arka menutup map itu perlahan.

Sekretaris sebelumnya bekerja dengan baik, tapi tidak pernah membuatnya merasa kehilangan kendali seperti ini. Nadira berbeda—tenang, cerdas, dan tanpa sadar menembus pertahanannya yang selama ini kokoh.

Ia mengambil ponselnya, berniat pergi, lalu berhenti.

Arka menatap kursi sekretaris di luar ruangannya melalui kaca buram.

“Ini baru hari pertama,” ucapnya lirih. “Dan aku sudah ceroboh.”

Namun jauh di dalam hatinya, Arka tahu—

ia tidak sedang ingin berhati-hati.

Ia justru penasaran…

seberapa lama Nadira bisa tetap menjadi sekadar sekretaris baginya.

Expandir
Próximo capítulo
Baixar

Último capítulo

Mais capítulos

Para os leitores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sem comentários
22 Capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status