“Makasih Dhik untuk harapannya. Semoga lo juga dipertemukan dengan wanita yang mencintai lo sepenuh hati dan lo pun mencintainya.” “Dan sebenarnya gue berharap wanita itu lo. Tapi ya, hati lo ternyata memang nggak pernah ditakdirkan buat gue.” Sekar menatap Dhika yang kini duduk di hadapannya dengan kepala menunduk. Ada rasa tak enak yang diam-diam meneyelusup ke dalam hatinya. Setelah ini hubungan pertemanan mereka pasti akan berubah, padahal ia begitu nyaman berteman dengan Dhika. Pria itu juga merupakan rekan kerja yang dapat diandalkan. “Gue balik dulu ke ruangan ya, Kar. Oh iya, satu hal lagi. Kalau nanti dia nggak kasih kepastian sama lo, lari ke gue aja ya.” Ia hanya menggeleng sambil tersenyum kecil. Jika nanti ia dan Jagat tak berakhir bersama, tak akan sekalipun ia menghampiri Dhika. Bukan karena Dhika kurang baik, tapi karena pria itu pantas mendapatkan wanita yang benar-benar mencintainya dan tak menjadikannya sebagai pelarian. Setelah kepergian Dhika, ia hanya duduk
Ler mais