Di sudut merah, tim medis dan pelatih Zukhov bekerja ekstra cepat menyumbat pendarahan di pelipis kiri sang juara bertahan. Napas Zukhov memburu berat, matanya menyala merah oleh kemarahan dan rasa malu yang membakar. Sepanjang karier profesionalnya, belum pernah ada yang mematikan gerakannya dengan begitu mudah, apalagi melukainya di ronde pertama."Dengar, Zukhov! Jangan terbawa emosi!" bentak pelatih kepalanya seraya menekan es ke leher Zukhov. "Aliyev sengaja memancingmu! Jaga jarak, gunakan jangkauan tanganmu, dan jangan buru-buru melancarkan takedown!"Namun, nasihat itu tak membalas amarah di dada Zukhov. Di sudut biru, Aliyev duduk tenang menerima bilasan air dari Guru Murad. "Dia akan makin agresif dan ceroboh di ronde kedua ini," bisik Guru Murad tajam. "Manfaatkan kesombongannya. Selesaikan pertarungan ini."DONG! Lonceng ronde kedua berbunyi.Zukhov melompat keluar dari sudutnya bagaikan banteng terluka. Ia tidak lagi mematuhi instruksi pelatihnya. Dengan raungan keras, Zu
Terakhir Diperbarui : 2026-09-10 Baca selengkapnya