LOGINAliyev benar-benar dianggap suami dan menantu sampah oleh Keluarga Tasumov setelah kekalahan memalukan pada sayembara itu. Namun, lima tahun setelah dia kembali dari Gloristan dalam mempelajari seni bela diri terbaik, semuanya berubah. Ada luka yang harus diobati. Ada dendam yang harus dibalas. Ada cinta yang harus diperjuangkan. Dan ada misi yang harus diselesaikan. “Bukan sekedar menjadi Pengawal Raja, tapi aku akan menjadi Raja.”
View More“Hadiahnya satu peti emas!”
“Musnahlah kemiskinan di keluarga kita!” “Tidak akan pernah melarat selamanya!” Setelah teriakan itu menggema di rumah buruk Keluarga Tasumov, lantas semua anggota keluarga pun melemparkan pandangan menohok ke arah Aliyev. Bergeming, perlahan lirikan mata Aliyev menangkap wajah istrinya, Leila Tasumov. Bukannya membela Aliyev yang terpojok, Leila justru mengernyit dan berkata kasar. “Suamiku! Hadiahnya satu peti emas! Satu peti emas! Apa kau mengerti?” Ada sebuah sayembara besar di Negeri Holystan. Jika ada yang mampu mengalahkan Sang Pengawal Raja dalam oktagon, maka akan mendapatkan hadiah besar : Satu peti emas! Penguasa Holystan ingin menguji seberapa kuat pengawalnya, dan kira-kira apakah ada orang yang lebih kuat lagi di negeri ini. Hadiahnya memang sangat besar, hanya saja itu akan menjadi sangat mustahil, sebab Sang Pengawal Raja adalah petarung terkuat. Maka sore ini Aliyev tertegun saat menyaksikan mertua, ipar, dan bahkan istrinya menyuruhnya agar mengikuti sayembara gila itu. Mertua pria, Zaur Tasumov, menatap ngeri dan berkata, “Kau masih punya waktu satu minggu untuk latihan!” Mertua wanita, Emina, berdiri sambil berkacak pinggang. “Kau punya pengalaman menjadi kuli selama dua tahun. Badan mu pasti kuat.” Ipar satu-satunya, Omar Tasumov, melempar telunjuknya seraya berkoar, “Tidak ada pilihan. Jika kau menolak, kau tidak akan dianggap lagi di keluarga ini!” Lagi, pandangan Aliyev mengarah ke istrinya berharap ada pembelaan. Namun, Leila malah tetap konsisten bersekutu dengan keluarganya. “Kau sudah setahun menganggur. Sudah terlalu banyak beban yang kau berikan padaku. Jadi seharusnya kau bisa paham sendiri!” Seakan-akan tubuh Aliyev diangkat ke langit kemudian dijatuhkan ke tanah. Terhempas, dan sakit. Kini pandangan Aliyev jatuh lemas ke lantai, pikirannya ke mana-mana. Tarikan napasnya cukup dalam, meresapi pilu yang menyiksa batinnya, menusuk sakit. Tidak ada pilihan bagi Aliyev selain mengikuti sayembara besar tersebut. Jika dia benar-benar berhasil, maka Keluarga Tasumov akan menjadi salah satu keluarga terkaya di negeri ini. Satu peti emas adalah harta yang sangat besar dan dirasa tidak akan habis sampai tujuh turunan. Tapi bagi Aliyev sendiri pertarungan itu tidak mudah. Lagipula ada ratusan lainnya yang mendaftar. Peluang berhasil sangat kecil, bahkan baginya itu sangat mustahil. Dengan tangan gemetaran akhirnya Aliyev tidak bisa menahan diri untuk tidak bicara. “Ayah mertua, tapi ….” Belum sempat Aliyev menyempurnakan kalimatnya, sekejap Zaur bangkit dari kursi, berdiri dengan marah seraya berkata marah : “Tidak ada pakai tapi-tapian! Keikutsertaan mu adalah mutlak di sayembara itu!” Zaur menatap mata menantunya dengan sangat bengis dan murka. “Tiga tahun kau jadi menantu sampah, menumpang, dan jadi benalu di rumah ini. Dan sekarang kau mau menolak perintah kami? Dasar tidak tahu diri!” dampratnya kasar. Aliyev tertunduk lesu, tidak berani menatap balik, dan tidak berani mengeluarkan satu kata pun. Ceritanya, sebenarnya antara Aliyev dan Leila sama-sama saling mencintai pada awalnya. Hanya saja, nasib buruk dan kemiskinan yang pada akhirnya merusak hubungan pernikahan antara mereka berdua. Hari demi hari terlewati, kebahagiaan tak kunjung datang, tak diberi momongan, tak diberi kekayaan. Puncaknya adalah hari ini. Setelah tiga tahun lamanya, akhirnya Keluarga Tasumov menuntut agar Aliyev bisa melakukan sesuatu demi kebahagiaan keluarga kecil ini. Mereka tak peduli apa pun hasilnya, setidaknya ada pembuktian bahwa Aliyev ingin mengubah nasib menjadi lebih baik. Tiba-tiba Leila bicara dengan nada tegas. “Jika kau tidak mau, aku akan sangat kecewa dan marah!” Sungguh ini masalah besar bagi Aliyev. Maka tidak ada yang bisa dilakukan kecuali mengikuti apa kata mereka. Dia diancam bakalan diusir dari rumah kalau menolak dan parahnya istrinya tambah muak padanya. Jadi jalan keluarnya adalah dia memang harus ikut sayembara, dan apa pun hasilnya, dia tidak tahu apa yang nanti terjadi. Maka selama satu pekan ke depan dia mempersiapkan diri sebisa mungkin. Dia berolahraga semampunya. Latihan meninju, gulat, dan sebagainya. Bukan cuma pada masalah dia tidak punya keahlian bela diri sama sekali, tetapi dia juga sangat minim pengalaman, kecuali pernah sekali berkelahi sama kakak iparnya dan sekali lagi waktu di pasar sama salah seorang penjual sayur lantaran dia diejek duluan. Selebihnya dia sangat tidak bisa diandalkan. Badannya kurus kering. Pukulannya lemah. Pergerakannya lambat. Dan jika dipukul sekali saja di bagian rahang oleh pria kuat, dia pasti pingsan. Namun, dia punya sedikit mental dan impian untuk tetap hidup bahagia bersama istrinya. *** Dan hari itu pun tiba. Siang hari di Negeri Holystan, lebih tepatnya di Arena Tarung MMA, ribuan orang memadati kursi penonton, menyaksikan betapa hebat Sang Pengawal Raja : Gadzi Kusanov. Dengan tinggi hampir dua meter dan bobot tak kurang dari 100 kg serta otot yang amat kekar dia sudah berhasil mengalahkan peserta ke-87 dari total 250. Tadi ada yang kalah KO hanya dengan satu terjangan, ada yang kalah dengan satu tinjuan, ada pula yang tercekik hampir mati. Semuanya kalah di hadapan Gadzi Kusanov. Di dalam oktagon, dia sangat perkasa. Sementara Raja Tamerlan duduk di kursi kehormatan sambil menikmati anggur manis. Sang Raja bangga terhadap pengawalnya, akan tetapi dia masih menunggu kira-kira apakah ada orang yang lebih kuat daripada Gadzi untuk dijadikan pengawal. Raja rela mengeluarkan setetes hartanya berupa satu peti emas hanya untuk memastikan bahwa tidak ada yang lebih tangguh dari pada Gadzi. Di waktu bersamaan, di sisi gedung lainnya, Aliyev tengah gugup tak kentara, menunggu gilirannya tiba. Meskipun dia tahu bahwa dia tidak mungkin mati, namun masalahnya adalah tentang masa depannya bersama Leila. “Tadi aku sudah buatkan masakan daging kesukaan mu,” kata Leila. “Seharusnya kau tahu diri. Kalahkan dia dan bawa semua emas itu ke rumah!” Di sampingnya, Aliyev menegakkan bahu sembari menarik napas panjang, berupaya menyingkirkan rasa takut yang menerjang. Begitu ada panggilan nomor 105 tiba, akhirnya Aliyev berdiri, lalu berjalan dengan menguatkan diri, sementara Keluarga Tasumov yang ada di sana tak peduli apa pun hasilnya. Jika Aliyev menang, mereka akan kaya, atau jika Aliyev kalah, toh mereka akan senang karena sampah itu akan pergi. TRING!!! Ronde Pertama! Napas Aliyev termegap saat melihat badan raksasa itu berada di depannya dan siap menghancurkannya. Aliyev mundur dua langkah. Bukan mengatur kuda-kuda, tapi karena takut. Ah, batinnya, ini sungguh pertarungan yang konyol, sudah ada seratus empat orang yang kalah tadi, yang benar saja!? Gadzi menaikkan satu alis, menggerenyotkan bibir, lalu berkata remeh. “Kau seperti lalat. Kecil dan menjijikkan!” Bukan. Aliyev ibarat semut yang hendak diinjak gajah. Dia tahu bakal kalah. Tapi setidaknya gigit dulu. Serang dulu. Aliyev melompat dan melepas tinjuan lurus pas ke arah wajah. Wuuush! Namun, dia memukul angin sebab Gadzi cerdik dengan langsung menghindar. Sepersekian detik kemudian. BUG! Satu pukulan uppercut tepat mengarah ke dagu Aliyev sehingga membuatnya melayang ke udara. Ada bercak darah segar yang meluncur. Setelah itu Aliyev tergeletak. Kalah cepat sama seperti para peserta sebelumnya. Pertarungan selesai. Aliyev kalah memalukan. Dan yang lebih memalukan lagi adalah ketika berada di rumah Keluarga Tasumov, Aliyev pun dicecar habis-habisan. Semua orang memarahinya dengan penuh kesetanan. “Menantu sampah!” maki Zaur. “Menantu tak berguna!” cela Emina. “Ipar pecundang!” sergah Omar. Terakhir, Leila menatapnya dengan penuh kekecewaan. “Pergi kau dari sini!” Sebelum keluar dari rumah ini Aliyev memberikan sejumlah barang simpanan miliknya untuk istrinya yang meskipun kecil nilainya tapi setidaknya dia masih mau membuktikan bahwa dia masih cinta pada istrinya. *** Satu-satunya tempat yang Aliyev tuju adalah Gloristan, sebuah negeri yang mencetak petarung hebat, dan salah satu alumninya adalah Gadzi Sang Pengawal Raja. Maka dari itu dia telah bersumpah pada dirinya sendiri untuk mengubah dirinya sehebat mungkin. Dia telah bersumpah agar suatu hari nanti dia bisa membuktikan bahwa dia bukanlah sampah yang tak berguna. Dan dia ingin membuktikan bahwa dirinya adalah petarung hebat yang begitu dihormati. Setelah lima tahun kemudian, akhirnya dia meninggalkan Gloristan dengan segala kerja keras dan disiplin. Badan yang dulunya kurus sekarang menjadi sangat kekar. Tidak ada lagi Aliyev yang lemah. Sekarang dia sudah menjadi sangat kuat. Di gerbang Negeri Holystan yang megah, di bawah terik mentari yang menyengat, sambil tersenyum dia berkata, “Bukan cuma satu peti emas, tapi satu gunung emas. Dan bukan sekedar menjadi Pengawal Raja, tapi aku akan menjadi Raja!”Setelah berhari-hari melakukan diskusi, akhirnya pihak penyelenggara HolyMMA pun memutuskan bahwa pertarungan perebutan sabuk antara Zukhov dan Aliyev bisa dilaksanakan sesegera mungkin.Jadwal yang cocok adalah di Holy165 dan tepatnya dilaksanakan dua bulan lagi. Ini dilakukan waktu tersebut dirasa ideal sebab mereka baru menjalani pertarungan sehingga mereka bisa ada cukup waktu untuk pemulihan dan latihan.Sebelum jadwal ini dipastikan, Tom telah melapor terlebih dahulu pada Aliyev guna mengetahui apakah Aliyev setuju, dan Aliyev menjawab bahwa dirinya setuju untuk segera menghadapi Zukhov dalam perebutan sabuk juara divisi Heavyweight.Aliyev mengundang Tom berkunjung ke apartemen miliknya siang hari itu.“Tom, masyarakat telah mengetahui pengumuman dari jadwal tersebut. Aku melihat mereka sangat antusias. Bagaimana menurut mu?” Aliyev kemudian menyeruput kopi hitamnya.Tom yang tadinya melihat pemandangan indah Negeri Holystan kini mengalihkan pandangannya ke arah Aliyev yang sed
Aliyev terperanjat saat namanya disebut dan yang menyebut barusan adalah Zukhov. Tidak hanya Aliyev, begitu pula Tom dan semua penonton di sana, kaget saat Zukhov menantang Aliyev pada laga perebutan sabuk berikutnya nanti. Zukhov melanjutkan, “Aku menonton pertandingan dia minggu lalu. Kelihatannya dia biasa-biasa saja. Tapi aku melihat dia adalah petarung yang berbeda. Penilaian diriku tidak mungkin keliru. Jadi siapa pun kalian yang berada di HolyMMA, pertemukan lah antara aku dan Aliyev!”Tantangan itu datang langsung dari Zukhov sang Penghancur. Tom dan Aliyev sejatinya memang mengharapkan laga tersebut, tapi tidak secepat itu juga. Tom memperkirakan paling tidak tahun depan walaupun bisa diusahakan lebih cepat. Namun nyatanya Zukhov yang malah memberikan tantangan tersebut, membuat nama Aliyev semakin tinggi di mata orang-orang. Zukhov mengedarkan pandangan ke semua orang dan kembali berkata, “Jadwalkan lah pertarungan kami. Maka seluruh pasang mata di dunia akan tertuju pa
Inilah yang biasa dilakukan oleh Aliyev ketika tidak bertanding atau pun latihan, yakni menyaksikan pertandingan MMA peserta lain untuk mempelajari setiap apa saja yang ada di sana setiap detiknya.Kalau pertandingan kecil saja dia tonton, apalagi yang bertarung saat ini adalah Zukhov, pria yang katanya akan menjadi calon suami dari Leila. Sebelumnya Aliyev sudah menonton semua pertarungan Zukhov sebanyak dua puluh empat laga secara total semenjak dia menggeluti MMA Profeisonal.Dengan dua puluh satu kemenangan dan tiga kekalahan, menjadikannya sebagai petarung yang berada di rangking teratas sekaligus pemegang sabuk juara. Jarang ada petarung yang mampu mencapai keduanya.Ada dari mereka yang bisa melekatkan sabuk di pinggang saja, atau sebaliknya, hanya berada di rangking pertama saja. Nah Zukhov berbeda. Dia pemegang sabuk sekaligus menempati rangking teratas kelas Heavyweight di HolyMMA.Aliyev kurang puas menyaksikan Zukhov dari layar ponselnya. Kini dia akan menyaksikan secara l
Zaur yang berada di depan televisi malah menyeringai marah saat melihat menantu sialan itu menang tak terkira. “Kok bisa dia menang?! Banyak orang bisa menilai siapa lah yang pantas menang. Tapi aneh, seperti ada yang aneh.”Emina mencebik malas dan berkomentar pedas, “Aku rasa dia tidak pantas menang. Sungguh menyebalkan melihat dia bisa menang. Awas kalau kau ketemu dengan Zukhov. Ya aku ingin mantan menantu tak berguna ini nanti bisa bertemu dengan Zukhov. Aku tidak sabar menunggunya.”Tidak ada kebanggaan dan rasa segan untuk Aliyev atas apa yang terjadi saat ini. Kemenangan itu sama sekali tidak membuka pintu hati dari Keluarga Tasumov buat Aliyev. Tidak sedikit pun.Bagi Zaur dan Emina, Aliyev tetaplah sama seperti halnya dahulu, yaitu tidak berguna dan tidak bernilai.Bagi mereka kemenangan ini tidak lain hanyalah berita kosong yang tidak perlu dibesar-besarkan.Bahkan meskipun satu dunia menyanjungnya namun mereka tetap menganggapnya rendah.Emina berkata dengan malas, “Dia pi












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.