Belum sempat aku merasakan panas yang begitu memuncak, dering telepon yang menusuk telinga tiba-tiba memutus semuanya.Monica mengangkat telepon dengan panik. Setelah mendengar jelas apa yang dikatakan pihak seberang, ekspresinya berubah agak kaku dan canggung.Dia merapatkan bibirnya. Seolah-olah sedang menghadapi sesuatu yang mendesak, ekspresinya menjadi sangat serius.Aku tak bisa mendengar apa yang dibicarakan di seberang sana, hanya tahu itu suara seorang pria. Setelah telepon ditutup, Monica duduk tegak, merapikan ujung roknya, lalu mengambil tas dan bersiap pergi.Melihat semua itu, aku menjadi agak panik. Bagaimanapun juga, aku masih tergoda olehnya sampai tak bisa menahan diri. Kalau begini terus, bagaimana jadinya nanti?Lagi pula, mana ada orang yang cuma gara-gara satu telepon, lalu meninggalkan pria begitu saja? Bebek yang sudah sampai di mulut tentu tak bisa kubiarkan terbang.Namun, aku tak menyangka mata Monica akan memerah. Dia menatapku dan berkata, "Kak Ferdi, di ru
Magbasa pa