Share

Berawal Dari Menumpang, Bertumbuh Jadi Cinta
Berawal Dari Menumpang, Bertumbuh Jadi Cinta
Penulis: Dixie

Bab 1

Penulis: Dixie
Sejak membeli mobil baru, rekan kerja cantik yang jalur pulangnya tidak searah menumpang mobilku setiap hari.

Aku sudah tak tahan lagi. Untuk menakut-nakutinya, aku langsung meraba payudaranya yang berukuran 36E hingga hampir merobek atasan.

Tak disangka, rekan kerja perempuan itu bukan saja tidak menghindar, malah menggenggam tanganku dan menyelipkannya ke dalam kerah.

Wajahnya memerah saat mendesah pelan. Dia menghadapku sambil membuka kedua kakinya yang sejak tadi sudah basah.

....

Namaku Ferdinan. Setelah lulus kuliah, aku bergulat di perusahaan selama beberapa tahun, akhirnya berhasil menabung dan membeli mobil pertamaku dalam hidup.

Namun, setelah punya mobil, masalah pun bertambah. Entah kenapa, di kantor ada seorang rekan kerja perempuan yang setiap hari menempel ingin menumpang mobilku pulang kerja.

Setiap kali aku harus memutar jalan lebih jauh. Aku sangat sayang biaya bensin, tetapi juga sungkan untuk mengatakannya.

"Laurence, saran yang kamu berikan padaku itu benar-benar bagus?"

Di seberang telepon, temanku menjawab dengan penuh keyakinan, "Tenang saja. Begitu pakai cara ini, aku jamin perempuan itu nggak akan berani numpang mobilmu lagi."

Begitu kata-kata itu selesai, sosok tinggi yang familier berjalan mendekat ke arahku. Aku buru-buru menutup telepon, lalu perempuan itu naik ke mobil.

Perempuan yang sering menumpang mobilku bernama Monica, terkenal sebagai kecantikan nomor satu di perusahaan.

Monica duduk di kursi penumpang depan, melengkungkan bibirnya dan tersenyum ke arahku. Wajahnya yang halus dihiasi sepasang mata yang tajam. Saat dia tersenyum, sudut matanya sedikit terangkat, bulu matanya bergetar, meninggalkan bayangan kecil di bawah mata.

Wajah yang begitu memesona itu dipadukan dengan payudara 36E yang cukup membuat siapa pun mimisan hanya dengan sekali lihat. Dada besar, pinggang ramping, kaki panjang.

Stoking hitam membungkus erat kakinya yang indah, memancarkan kilau samar. Rok mini ketat merah yang membungkus pinggulnya membentuk kontras tajam dengan interior mobilku yang serba hitam, justru menambah sedikit suasana ambigu.

Melihatku melamun, Monica menyipitkan mata sambil menoleh ke arahku. "Kak Ferdi, kok belum jalan? Masih nunggu orang?"

Mendengar itu, barulah aku tersadar dan langsung menyalakan mobil.

Saat lampu merah, hatiku gelisah, tetapi aku tetap mengikuti saran sahabatku. Aku dengan ragu mengulurkan tangan dan menyentuh paha Monica.

Sentuhan stoking hitam yang licin, masih menyisakan sedikit kehangatan. Paha yang samar terlihat di balik stoking itu terasa lembut. Saat tanganku menyentuhnya, dia bergetar sesaat, tetapi tidak menghindar.

Monica sepertinya terkejut. Dia berseru kecil. Sepasang mata indahnya menatap lurus ke arah tanganku yang menutupi pahanya.

Lampu hijau menyala. Aku pura-pura meminta maaf dan segera menarik tanganku. "Maaf, aku baru belajar nyetir mobil manual, jadi nggak sengaja nyentuh pahamu."

Monica menggigit bibirnya, menatap tanganku seolah-olah memikirkan sesuatu, lalu menggeleng pelan. "Nggak apa-apa."

Apa masih kurang? Ini tidak sama dengan yang kubayangkan. Aku berpikir, lalu kali berikutnya aku menjadi lebih berani, mengulurkan tangan ke sisi dalam pahanya, bahkan terus bergerak ke atas.

Meskipun terhalang stoking hitam, aku tetap bisa merasakan kelembutan kulit di baliknya. Karena gerakanku yang tiba-tiba, dia tampak kebingungan, bahkan secara refleks menjepit kedua kakinya, memperlihatkan ekspresi malu.

Namun, tanganku masih berada di antara pahanya, sehingga gerakan refleksnya justru membuat tanganku yang tadinya ingin berhenti menjadi serbasalah.

Di antara paha wanita itu terasa lembut dan hangat. Samar-samar, aku juga bisa merasakan getaran tubuhnya. Dengan canggung, aku ingin menarik tanganku, tetapi kedua kakinya justru semakin menjepit.

Tanganku meronta sejenak. Bukan saja tidak terlepas, malah menyentuh bagian tersembunyi di balik rok.

Aku terdiam. Di sana, sepertinya basah ....

Monica sangat gugup. Seluruh tubuhnya kaku di tempat. Wajahnya menampakkan rasa takut, lalu dia langsung menggenggam pergelangan tanganku. Dia mengedipkan sepasang mata yang agak basah, bibir kecilnya membuka dan menutup. Dengan nada agak tertekan, dia berkata, "Kak Ferdi, kamu ini ...."

Aku menatap lurus ke depan, ke arah jalan. Karena merasa bersalah, aku tidak berani menoleh padanya, hanya berulang kali meminta maaf, "Maaf sekali, tanganku entah kenapa hari ini."

Monica tidak berkata apa-apa lagi. Melihat dia tak bereaksi, aku diam-diam mengertakkan gigi. Kenapa masih tidak berhasil? Kalau begitu hanya bisa ....

Di persimpangan berikutnya, aku dengan santai menoleh ke luar jendela mobil sambil bersiul seadanya, sementara tangan yang lain menyentuh tubuh Monica. Di balik rok ketat berenda yang membungkus pinggulnya adalah pinggang ramping yang bisa digenggam dengan satu tangan.

Dengan sudut mataku, kulihat Monica menggigit bibirnya. Wajahnya memerah. Dia memejamkan mata, bahkan satu tangannya sudah menyentuh pahanya sendiri, mencengkeram ujung roknya dan menggosoknya bolak-balik, seolah-olah sedang menahan sesuatu.

Stoking yang menempel di sisi paha yang bergesekan dengan kursi pengemudi sudah berlubang. Kulit putih mulus pun terpampang di sana. Tepi stoking menjerat pahanya, meninggalkan bekas merah yang menggoda. Sementara kedua kaki itu bergerak menggesek dengan tak tertahankan.

Mengingat kelembapan yang tadi kusentuh, sulit bagiku untuk tidak menyadari apa yang sedang dia lakukan sekarang. Melihat tubuhnya yang bergetar halus, aku tak kuasa menelan ludah. Dia menyadari tatapanku. Sepasang mata yang basah menoleh ke arahku.

Aku tertegun sejenak, lalu berpura-pura tidak terjadi apa-apa dan menarik kembali pandanganku, bersiap sekali lagi menutupinya dengan alasan tidak sengaja. Namun tepat pada saat itu, di telapak tanganku tiba-tiba ada sesuatu yang lembut dan hangat, bahkan naik turun mengikuti napas.

Dalam sekejap, hatiku berdegup keras. Aku segera menoleh. Kulihat tanganku mencengkeram erat dada Monica. Daging lembut itu hampir meluap dari sela-sela jariku. Sensasi yang ekstrem terus mengalir, ditambah hantaman visual bak gelombang besar, membuatku menginjak rem.

Mobil berhenti di pinggir jalan. Jantungku berdegup kencang karena kegirangan. Kerah berenda yang lebar sedikit bergeser turun, hamparan kulit putih terbuka lebar di hadapanku, bahkan aku seakan-akan bisa melihat warna merah muda pucat di bawah belahan yang dalam itu.

Aku tak lagi bisa mengendalikan diri. Satu tanganku meremas tanpa henti. Saat aku mengira Monica akan memakiku cabul, justru kulihat wajahnya memerah, tubuhnya lunglai bersandar di kursi, dan kedua kaki yang saling bertaut terus bergesekan. Dia menggigit bibirnya, tetapi tetap mengeluarkan erangan-erangan yang membuat darah berdesir.

Monica menggenggam tanganku dan menyelipkannya ke dalam kerah. Dengan terengah-engah, dia berkata, "Kak Ferdinan, kenapa? Kalau memang nggak sengaja, boleh kok diraba dulu semuanya, biar hafal posisinya sebelum lanjut nyetir."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Berawal Dari Menumpang, Bertumbuh Jadi Cinta   Bab 8

    Di jalan yang sepi, mobil itu terus bergoyang.Suhu di dalam mobil sangat tinggi. Rasa pengap hampir membuat orang sulit bernapas. Setelah segalanya berlangsung dengan memuaskan, aku dan Monica bersandar di sandaran kursi, tak mampu menenangkan napas kami yang kacau untuk waktu lama.Aku menatap semua yang ada di hadapanku dengan linglung, tak berani percaya pada apa yang baru saja terjadi. Aku menoleh, melihat Monica yang duduk di sampingku. Kami sama-sama terdiam. Tanpa sadar aku mengulurkan tangan dan menyentuh bahunya.Bahu Monica terasa agak dingin. Aku menghangatkannya dengan telapak tanganku yang hangat. Monica perlahan memalingkan kepala, lalu tersenyum manis ke arahku."Sekarang kita pacaran ya?"Aku mengangguk, tetapi ragu sejenak. Kemudian, aku tiba-tiba mengubah arah pembicaraan.Melihat ekspresiku, Monica tampak sedikit panik. Dia berkata, "Nggak apa-apa. Meskipun kamu nyesal sekarang, juga nggak masalah. Lagi pula, aku sudah menjadi orang seperti ini. Aku nggak nyesal."P

  • Berawal Dari Menumpang, Bertumbuh Jadi Cinta   Bab 7

    Aku tidak menjawab, melainkan menggenggam erat pergelangan tangan Monica, menekannya ke sandaran kursi. Jemari kami saling bertaut.Perlahan, Monica memejamkan mata.Suhu di dalam mobil semakin meningkat. Keringat mengalir dari dahiku.Pakaian Monica berangsur-angsur menjadi berantakan dan bagian dadanya terbuka lebar. Dia terengah-engah dengan gugup, tetapi tetap mengambil inisiatif melingkarkan lengannya di leherku.Dia mendekat ke telingaku, menggigit daun telingaku, lalu berbisik, "Gendong aku ke kursi belakang."Mendengarnya, aku menjilat bibirku. Memanfaatkan saat di luar tak ada orang, aku menggendongnya ke kursi belakang.Monica berbaring di sana. Matanya masih kemerahan. Bekas air mata di wajahnya terlihat jelas. Dia menggigit bibirnya, mengangkat ujung roknya dengan inisiatif sendiri, lalu menarik tanganku dan perlahan-lahan melepas stokingnya yang sudah rusak."Maaf, tadi aku sudah gegabah. Sampai merobek stokingmu. Di luar dingin ya?"Monica menggeleng pelan. "Nggak apa-apa

  • Berawal Dari Menumpang, Bertumbuh Jadi Cinta   Bab 6

    Monica menatapku dengan ragu. Satu tangannya segera menyeka air mata di wajahnya. Namun, begitu air mata itu terhapus, air mata baru kembali mengalir. Dia menunduk. Tetesan air mata jatuh satu per satu ke lantai."Aku lihat kamu begitu terburu-buru, takut kamu kenapa-napa sendirian. Setelah kupikir-pikir, akhirnya aku mencarimu sampai di sini."Aku berhenti sejenak, lalu menyentuh leherku dengan agak canggung. "Aku sudah keliling ke beberapa rumah sakit. Kukira aku nggak akan menemukanmu. Aku sampai takut kamu kenapa-napa. Benar-benar membuatku panik."Di mata Monica berkilat cahaya aneh. Dia berdiri, merapikan roknya.Aku menunjuk ke arah ruang rawat di belakangnya. "Kenapa kamu nangis di sini? Apa orang tuamu ...."Aku belum selesai berbicara, Monica sudah mengangguk."Sejak kecil setelah orang tuaku cerai, aku ikut ayahku. Beberapa tahun kemudian ayahku juga meninggal. Di dunia ini, tinggal nenek dan aku yang hidup saling bergantung. Sekarang beliau ...."Monica menangis tersedu-sed

  • Berawal Dari Menumpang, Bertumbuh Jadi Cinta   Bab 5

    "Kak Ferdi, hari ini Monica lagi-lagi numpang mobilmu, 'kan?" Nada suara sahabatku di seberang telepon terdengar sangat cemas.Aku jadi agak bingung mendengarnya. Aku mengiakan, lalu menjawab, "Akhir-akhir ini dia memang selalu numpang mobilku. Bukannya kamu sudah tahu?""Aku juga baru dengar. Monica pernah pinjam 20 juta dari seorang rekan kerja pria yang dulu dekat dengannya dan sampai sekarang belum dikembalikan."Begitu kata-kata itu keluar, jantungku langsung berdegup kencang. Saat mengatakan ini, suaraku bahkan sedikit bergetar. "Serius? Monica kelihatannya bukan orang seperti itu."Walaupun 40 juta bukan jumlah yang terlalu besar, bagiku yang baru saja punya sedikit tabungan dan membeli mobil, kehilangan 40 juta begitu saja benar-benar berat.Di seberang sana, Laurence menghela napas. "Dulu pria itu juga begitu. Setiap hari dikejar Monica dan Monica terus bilang suka padanya. Pada akhirnya dia nggak bisa menahan diri dan uang 20 juta itu diambil, tapi dia nggak dapat keuntungan

  • Berawal Dari Menumpang, Bertumbuh Jadi Cinta   Bab 4

    Belum sempat aku merasakan panas yang begitu memuncak, dering telepon yang menusuk telinga tiba-tiba memutus semuanya.Monica mengangkat telepon dengan panik. Setelah mendengar jelas apa yang dikatakan pihak seberang, ekspresinya berubah agak kaku dan canggung.Dia merapatkan bibirnya. Seolah-olah sedang menghadapi sesuatu yang mendesak, ekspresinya menjadi sangat serius.Aku tak bisa mendengar apa yang dibicarakan di seberang sana, hanya tahu itu suara seorang pria. Setelah telepon ditutup, Monica duduk tegak, merapikan ujung roknya, lalu mengambil tas dan bersiap pergi.Melihat semua itu, aku menjadi agak panik. Bagaimanapun juga, aku masih tergoda olehnya sampai tak bisa menahan diri. Kalau begini terus, bagaimana jadinya nanti?Lagi pula, mana ada orang yang cuma gara-gara satu telepon, lalu meninggalkan pria begitu saja? Bebek yang sudah sampai di mulut tentu tak bisa kubiarkan terbang.Namun, aku tak menyangka mata Monica akan memerah. Dia menatapku dan berkata, "Kak Ferdi, di ru

  • Berawal Dari Menumpang, Bertumbuh Jadi Cinta   Bab 3

    Melihat perempuan jelita kelas satu di hadapanku, aku mengertakkan gigi, lalu membalikkan tangan dan menggenggam tangannya. "Kamu menggoda setiap pria di perusahaan seperti ini?"Aku mencengkeram pergelangan tangannya dan menatapnya tajam. Monica tidak langsung menjawab, melainkan terengah-engah sambil bersandar ke belakang, menggesekkan bagian di antara kedua kakinya ke tanganku.Rambut hitam keritingnya yang tebal seperti sulur liar yang tak terjinakkan, terurai begitu saja di bahunya. Sepasang mata indah yang panjang dan sipit itu terangkat sudutnya, sedikit menyipit, membawa kesan lelah yang santai sekaligus godaan yang samar.Monica menatapku sambil membalas dengan ringan, "Menurutmu kamu bukan yang spesial?"Aku melepaskan genggaman di pergelangan tangannya, benar-benar tak mengerti. "Kenapa aku yang spesial?"Meskipun nadaku dingin, aku tetap tak bisa mengendalikan mataku, terus melirik ke arah dada Monica. Kemudian, pandanganku turun, jatuh pada ujung rok yang terangkat karena

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status