Lantai koridor VVIP rumah sakit itu seharusnya sunyi, namun kini dipenuhi ketegangan yang menyesakkan. Alya melangkah keluar dari ICU, menutup pintu di belakangnya dengan bunyi klik yang tegas. Di hadapannya, Bramantyo tidak pergi. Dia justru kembali dengan artileri yang lebih berat: Salim, pengacara senior klan Prawira yang terkenal licin seperti belut oli. "Nyonya Alya," sapa Salim dengan senyum palsu yang tidak mencapai matanya. Di tangannya, sebuah map kulit hitam terbuka. "Kami turut prihatin atas kondisi Tuan Luciano. Namun, bisnis tidak mengenal koma. Berdasarkan Anggaran Dasar Klan, kami membutuhkan tanda tangan Tuan untuk pencairan dana operasional minggu ini. Atau... penyerahan kuasa sementara kepada Tuan Bramantyo." Bramantyo berdiri di belakang Salim, menyeringai menang. Dia tahu Luciano tidak mungkin menandatangani apa pun dalam kondisi kritis. "Suamiku sedang istirahat, Pak Salim," jawab Alya tenang, meski jantungnya bergemuruh. "Dia tidak menerima tamu." "Ini bukan
최신 업데이트 : 2026-02-15 더 보기