LOGIN"Satu malam di gang sempit mengubah Alya Kirana dari perawat berhati malaikat menjadi tawanan iblis. Demi melunasi utang 10 miliar adiknya, dia harus menyerahkan tubuh dan darahnya pada Luciano Prawira..."
View MoreTongkat naga emas itu terlepas dari genggaman Bramantyo. Suara logam yang menghantam lantai marmer memecah kesunyian yang mencekik ruang VVIP tersebut, bergema seperti dentang lonceng kematian. Bramantyo mundur selangkah, napasnya tercekat. Mulutnya terbuka setengah, namun tidak ada satu pun suara yang keluar dari tenggorokannya. Di sebelahnya, Salim sang pengacara mulai gemetar hebat hingga kacamata tebalnya nyaris jatuh. Mereka datang untuk melihat mayat seorang raja, namun yang menyambut mereka adalah iblis yang sedang berada di puncak kekuatannya. Selamat siang, Paman, sapa Luciano. Suaranya terdengar sangat tenang, tidak ada nada teriakan, namun cukup membuat udara di ruangan itu terasa membeku. Kau datang sedikit terlambat. Jam besuk untuk orang mati sudah ditiadakan. Luciano melangkah maju. Gerakannya begitu mulus, cepat, dan penuh tenaga. Tidak ada sedikit pun tanda-tanda kelumpuhan atau sisa luka di tubuhnya. T-Tuan Luciano... Anda... Anda sudah pulih... gagap Salim, me
Api berkobar melahap laboratorium bawah tanah itu, mengubah sarang pualam Victor menjadi neraka yang menyala merah. Suara tembakan dan jeritan tertahan menggema di kejauhan, pertanda bahwa perintah sang Don sedang dieksekusi tanpa ampun oleh pasukan garis depan. Namun bagi Luciano, dunia luar sudah tidak ada artinya. Di dalam bangku belakang mobil SUV lapis baja yang melaju membelah badai Jakarta, seluruh fokusnya hanya tertuju pada wanita yang terbaring lemah di pangkuannya. Napas Alya terdengar putus-putus. Wajahnya sepucat mayat, dan kemeja putihnya telah berubah warna menjadi merah pekat oleh darahnya sendiri. Berikan vial itu, Rian! bentak Luciano dari kursi belakang. Rian, yang duduk di kursi penumpang depan, memutar tubuhnya dan menyerahkan tabung kecil berisi cairan biru keemasan itu. Tangan Luciano yang gemetar menerima vial tersebut. Ia menatap cairan itu, cairan yang dibayar dengan kelumpuhan istrinya. Tanpa ragu, Luciano menggigit tutup vial hingga pecah, persis sepe
Mesin ekstraksi itu akhirnya berhenti berdengung. Bagi Alya, suara itu terasa seperti datang dari alam bawah air. Pandangannya mengabur, telinganya berdenging hebat, dan napasnya tersengal-sengal di sela sabuk kulit yang masih digigitnya kuat-kuat. Keringat dingin membasahi seluruh meja operasi baja. Victor memutar katup terakhir dengan gerakan santai. Ia mencabut jarum panjang itu dari tulang belakang Alya dalam satu tarikan mulus. Darah segar seketika merembes dari lubang kecil di punggung Alya, menodai kulit putihnya dengan warna merah yang kontras. Selesai, ucap Victor, melepaskan sarung tangannya yang berdarah dan membuangnya ke tempat sampah medis. Kau bertahan lebih baik dari dugaanku, Nyonya Prawira. Sebagian besar pria militer akan pingsan di menit kedua. Alya memuntahkan sabuk kulit dari mulutnya. Bibirnya robek dan berdarah karena gigitannya sendiri. Ia mencoba mendorong tubuhnya untuk bangun, namun kenyataan mengerikan itu langsung menghantamnya. Dari pinggang
Keheningan di laboratorium bawah tanah itu terasa lebih mencekik daripada ruang kedap udara. Alya menatap wajah Victor yang menyunggingkan senyum malaikat pencabut nyawa. Tawaran itu bergema di kepalanya berulang kali. Setengah liter cairan sumsum tulang belakang. Tanpa anestesi. Risiko kelumpuhan delapan puluh persen. Jika dia setuju, dia akan menukar sepasang kakinya yang sehat dengan kaki Luciano yang kini mati rasa. Dia akan menjadi tawanan di atas kursi roda, tidak akan pernah bisa melarikan diri dari sang Don Mafia seumur hidupnya. Tetapi jika dia menolak, dalam tujuh hari, pria yang memeluknya erat di tengah halusinasi paranoid tadi pagi itu akan hancur menjadi debu. Alya memejamkan mata. Bayangan Luciano yang rela menenggak racun dan menodongkan pistol ke kepalanya sendiri di dermaga berkelebat di benaknya. Iblis itu membuang nyawanya demi satu tarikan napas Alya. Kini, alam semesta menagih utang yang setimpal. Lakukan, ucap Alya, membuka matanya. Suaranya terdengar sanga
Lensa kamera jurnalis langsung berkedip, menangkap sosok Luciano yang bersandar angkuh di atas ranjang VVIP. Bramantyo melangkah maju, tongkat naga emasnya mengetuk lantai dengan bunyi ketukan yang pongah. Di belakangnya, tiga dokter spesialis dari komite independen menatap Luciano dengan pandanga
Pelukan Luciano akhirnya mengendur setelah beberapa menit yang terasa seperti hitungan jam bagi Alya. Pria itu menyandarkan kembali kepalanya pada tumpukan bantal, namun matanya tetap mengunci sosok Alya yang kini melangkah mundur untuk merapikan peralatan medis yang sengaja ia berantakkan. Alya
Fajar hari kedua menyingsing dengan warna kemerahan yang suram di ufuk timur Jakarta. Cahaya redup itu masuk melalui celah tirai yang sengaja dibuka sedikit oleh Alya, menyinari lantai marmer yang kini sudah bersih dari pecahan kaca. Alya terbangun dengan leher yang kaku. Ia tertidur dengan posis
Kamar VVIP nomor 1208 sudah tidak berbentuk lagi. Pecahan kaca dari botol obat berserakan di lantai, bercampur dengan cairan infus yang menggenang. Monitor EKG yang berharga ratusan juta telah terguling ke lantai dengan layar yang retak, mengeluarkan bunyi dengung statis yang mengganggu
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.