Sepasang kaki Listya bagai di luar kendalinya saja. Kakinya begitu patuh mengikuti Andreas berjalan menuruni tangga.Herry merasa gusar, lalu kembali memanggil Listya. Namun belum sempat menunggu balasan dari Listya, Andreas juga menoleh untuk menatapnya. “Oh, ya, mohon kembalikan ponsel Listya kepadaku,” ucap Andreas sembari mengulurkan tangannya.Herry merasa ragu sejenak. Dia menggertakkan giginya, tidak bersedia menyerahkan ponsel Listya. Hanya saja, dia berkata lagi pada Listya, “Apa kamu benar-benar mau pergi bersama Andreas? Setelah kamu keluar dari pintu rumah ini, apa kamu tahu apa akibat yang mesti kamu hadapi?”Hati Listya sungguh kacau. Hanya saja, Andreas tidak berhenti lama. Dia langsung menarik paksa Listya berjalan keluar rumah Keluarga Herdianto. Dia tidak memberi Listya ruang apalagi menanyakan pendapat Listya.Setelah keluar dari pintu rumah Keluarga Herdianto, angin malam datang menerpa. Cuaca memang dingin, tetapi Listya malah merasa sangat puas. Hanya saja, rasa p
閱讀更多