Hujan yang mengguyur halaman balai desa akhirnya reda, tapi dingin yang ditinggalkannya justru menetap di dada setiap orang. Aruna berdiri di bawah atap posko, menatap jalan desa yang mulai sepi. Jejak kaki yang tadi ramai kini menghilang, tersapu air dan lumpur, seolah malam itu tak pernah terjadi. Namun Aruna tahu, yang hilang hanya jejak—bukan niat. Embun duduk di anak tangga, memeluk lututnya. Wajahnya pucat, bibirnya kering. Sejak meninggalkan balai desa, ia hampir tidak bicara. Ketakutan itu tidak lagi samar. Ia sudah berwujud. “Mereka tidak akan berhenti,” ucap Embun akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar. “Aku lihat di mata mereka. Itu bukan cuma marah.” Aruna menatapnya lama. “Aku tahu.” Di dalam posko, Hileon, Bagas, dan Alvaro sedang berdiskusi pelan. Tidak ada lagi nada bercanda. Semua kata dipilih dengan hati-hati, seperti berjalan di atas kaca tipis. “Pak Wiryo barusan kirim pesan,” kata Hileon. “Katanya ada warga yang mulai mendatangi rumah-rumah tua. Bukan bu
Zuletzt aktualisiert : 2026-02-09 Mehr lesen