"Sekarang juga bawa aku ke bandara. Ini perintah."Mata Kevin seolah menyemburkan api, tapi, Liana dengan sigap menarik lengan bajunya dan menggeleng pelan.Setelah hening sejenak, Kevin akhirnya menurunkan gengsi dan membungkuk untuk membuka pintu kursi depan dengan tangannya sendiri.Liana langsung duduk di sana tanpa ragu."Maaf ya, Nona. Kevin baru sadar, aku ini orang yang nyelametin dia, jadi aku cukup khawatir sama kondisinya.""Kamu 'kan putri keluarga terpandang, harusnya nggak keberatan, 'kan?"Kevin sama sekali tidak melirikku. Dia menunduk, memasangkan sabuk pengaman untuk Liana, lalu membuka pintu mobilnya sendiri."Kalau mau ikut, naik."Mendengar nada dingin Kevin kepadaku, sudut bibir Liana sedikit terangkat.Aku terkekeh dingin lalu duduk di kursi belakang.Jelas sekali mereka berdua sedang berusaha menekanku.Sayangnya mereka tidak tahu, tujuanku ke bandara adalah menjemput suami baruku yang baru pulang ke tanah air.Aku menghela napas panjang begitu teringat Satria.
Leer más