Share

Pembalasan Untuk Suami Mati Palsu
Pembalasan Untuk Suami Mati Palsu
Penulis: Sea

Bab 1

Penulis: Sea
"Mira, hidup Kevin memang singkat, tapi selama itu dia selalu ada di sampingmu. Bahkan waktu hujan deras pun dia tetap naik gunung buat survei lapangan demi kamu. Sekarang dia sudah nggak ada, kamu jangan sampai menikah lagi, Kevin pasti sedih."

"Oh ya, soal saham Kevin, lebih baik dialihkan ke kami berdua saja. Kami bakal nemenin kamu dan bareng-bareng jaga semua yang Kevin tinggalin."

Mendengar suara yang begitu kukenal, aku langsung duduk tegak di atas tempat tidur.

Aku benar-benar terlahir kembali ke hari ketika Kevin pura-pura mati dan bawa kekasihnya kabur jauh.

"Liana ke mana?"

Mendengar pertanyaanku, Tama dan Rian sama-sama tertegun.

"Kevin meninggal kamu sama sekali nggak peduli, yang kamu tanyain malah ke mana perginya seorang pembantu."

"Apa kami para suami asuh ini, benar-benar nggak berharga sama sekali di matamu!"

Aku nggak buru-buru saat melihat wajah mereka yang merah padam karena marah dan malu. Aku justru tersenyum tipis.

"Kalau Kevin sudah mati, tarik kembali semua saham yang sebelumnya dialihkan ke dia."

"Rika, ikut aku ke kantor catatan sipil. Cabut identitasnya, lalu urus surat kematian."

Rika, asistenku langsung berlari mengikutiku, sementara Tama dan Rian terpaku membeku di tempat.

"Mira, Kevin baru meninggal. Kok kamu bisa setega itu tarik kembali semua miliknya. Bukannya seharusnya dibagi ke kami?"

Menatap mata mereka yang memerah, langkah kakiku sama sekali tidak berhenti.

Di kehidupan sebelumnya, saat mendengar kabar kematian Kevin, aku menangis sampai pingsan dan memutuskan untuk hidup menjanda seumur hidup.

Sementara saham milik Kevin, atas berbagai isyarat, justru dialihkan kepada Tama dan Rian.

Ketika aku melihat Kevin bersama pembantu bernama Liana dan keluarganya di Provens, aku langsung merasa ada yang tidak beres.

Setelah menyuruh orang-orangku memeriksa pembukuan secara mendesak, barulah aku tahu dua suami asuh itu manfaatkan saham yang kualihkan kepada mereka untuk memberi Kevin biaya hidup 10 miliar setiap bulan, agar dia bisa membawa pembantunya hidup santai di luar negeri.

Di kehidupan sebelumnya aku hanya bekerja keras untuk orang lain, maka di kehidupan ini, kabar kematian itu justru datang tepat seperti yang kuharapkan.

Mobil baru saja tiba di kantor catatan sipil ketika kabar dari perusahaan masuk. 30% saham atas nama Kevin telah sepenuhnya ditarik kembali dan menjadi milikku.

Aku mengangguk puas lalu menyerahkan berkas-berkas itu ke tangan petugas.

"Ini semua dokumen mendiang suami saya, Kevin. Tolong bantu saya hapus data kependudukannya."

Petugas itu menatap foto Kevin dengan sorot mata penuh penyesalan.

"Masih muda, lulusan kampus ternama, dan menantu Keluarga Andrian. Sayang banget, ya."

Setelah itu, petugas tersebut langsung memasukkan data dengan cekatan dan mengeluarkan stempel resmi, bersiap untuk mencap.

Tepat di saat krusial itu, Tama dan Rian bergegas datang.

"Jangan dicap!"

Melihat keringat yang menetes di dahi mereka berdua, hatiku mendadak terasa perih.

Aku memang memilih Kevin sebagai suami, tetapi jika bicara soal perasaan dan perlakuan, aku tidak pernah sedikit pun memperlakukan mereka dengan buruk. Selain saham, apa pun yang Kevin miliki, mereka juga mendapatkannya.

Namun, sejak awal mereka justru bersekongkol menipuku selama 60 tahun penuh!

Saat mereka rutin mengirim uang kepada Kevin agar dia bisa merawat Liana dengan nyaman di luar negeri, aku justru terus menanamkan modal untuk mereka, berharap mereka bisa menjalani hidup yang layak.

Ketika mereka mengobati rindu lewat video dan foto, aku seorang perempuan terkaya, masih turun ke dapur dan memasak untuk mereka dengan tanganku sendiri.

Saat mereka berdalih pergi bahas urusan bisnis demi bisa berkumpul, aku diam-diam mengakuisisi perusahaan gim yang mereka sukai sebagai kejutan.

Aku menganggap mereka sebagai keluarga, sementara mereka memperlakukanku seperti orang bodoh.

Kini saatnya mereka melihat kenyataan. Tanpa nama besar Keluarga Lukas, mereka hanyalah anak-anak panti asuhan yang kupungut dan kubesarkan.

"Tama, Rian, kalau ngomong sama aku, pakai bahasa yang sopan."

Tama ternganga lebar, amarah jelas memenuhi sorot matanya.

"Kami anggap kamu orang paling dekat, jadi kenapa kamu ngomong dan nyuruh kami pakai nada kayak gini?"

Rian pun mengerutkan kening dalam-dalam.

"Mira, kamu kenapa hari ini? Apa karena Kevin meninggal, jadi kamu terlalu terpukul?"

Aku tersenyum dingin. Kelembutan yang biasa kuberikan pada mereka kutarik kembali, digantikan wibawa sebagai putri tunggal keluarga terkaya.

"Apa pun yang kulakukan, memangnya aku perlu jelasin ke kalian?"

Keduanya terdiam dengan wajah penuh keterkejutan. Kuku mereka menekan telapak tangan, sebelum akhirnya menundukkan kepala dengan patuh.

"Iya, Nona. Kami cuma kaget dengar kabar Kevin meninggal, jadi kebawa emosi …."

Aku tidak minat mendengar penjelasan lebih lanjut dan langsung mengangkat tangan untuk menghentikan mereka.

"Cap saja."
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pembalasan Untuk Suami Mati Palsu   Bab 8

    Melihat bahwa usahanya menunjukkan sikap baik kepada Satria sekaligus menjelekkan aku gagal, Liana akhirnya berhenti berpura-pura."Itu semua cuma kebetulan. Aku waktu itu kaget, jadi ngomong tanpa mikir.""Lagian Mira juga nggak kenapa-kenapa, 'kan? Kenapa kalian sampai blokir kartu Kevin? Jelas-jelas kalian sengaja. Kalian jahat banget!"Aku tersenyum tipis lalu ikut membuka pintu mobil."Kalau soal jahat, apa aku masih kalah sama kamu yang numpang jasa orang lain dan nutupinya belasan tahun?"Sambil berkata begitu, aku mengeluarkan setumpuk dokumen dan menghantamkannya tepat ke wajah Kevin.Kevin hanya melirik sekilas, tapi ekspresi penuh amarahnya langsung membeku. Detik berikutnya, tubuhnya mulai gemetar."Mira … ternyata kamu …."Liana buru-buru mendekat untuk melihat isi berkas itu. Dia langsung terpaku di tempat begitu matanya menangkap tulisan di dalamnya."Nggak … bukan begitu, Kevin. Yang nyelametin nenek waktu itu benar-benar aku."Sambil bicara, Liana mengguncang lengan Ke

  • Pembalasan Untuk Suami Mati Palsu   Bab 7

    Untungnya, Satria tidak kehilangan banyak darah. Dia hanya pingsan sesaat akibat benturan. Keributan itu pun segera dihentikan.Karena khawatir dengan keadaanku, Satria terus mengikuti tim medis dan menjagaku. Tanpa disadari olehnya, Kevin dan dua orang lainnya sudah menghilang tanpa jejak.Dia tidak tahu apa yang sebenarnya kupikirkan, sehingga tidak berani bertindak gegabah dan hanya menunggu sampai aku sadar.Setelah mencerna semua yang terjadi, aku kembali menanyakan kondisi Liana.Ternyata Liana sama sekali tidak apa-apa. Dia hanya mengalami sedikit lecet di lengan, sudah keluar dari rumah sakit, lalu pergi bersama Kevin dan yang lainnya.Aku menundukkan pandangan dan tertawa kecil.Kartu kredit milik mereka bertiga sudah lama kuhentikan. Semua hak istimewa mereka di Keluarga Andrian juga sudah kucabut.Terbiasa hidup serba mewah, mereka pasti tidak akan pergi begitu saja.Jika tebakanku tidak meleset, sekarang mereka pasti sedang bersembunyi di vila yang dulu kubelikan untuk mere

  • Pembalasan Untuk Suami Mati Palsu   Bab 6

    "Soal kejadian waktu itu, Liana ceritain semuanya ke aku dengan jelas. Dia tahu nenekku pakai baju apa hari itu, bahkan tahu persis berapa biaya rumah sakitnya. Kamu tahu kenapa dia bisa ingat sedetail itu? Karena 10 juta itu persis sama dengan biaya makan siangmu hari itu.""Kamu kebiasaan hidup di atas, ngeremehin orang miskin. Kamu maksa aku masuk ke Keluarga Andrian sebagai menantu yang jadi bahan tertawaan. Kamu nggak ngerti apa-apa!"Sambil berteriak, Kevin tiba-tiba menerjangku seperti orang gila dan menekanku ke ranjang."Mira, demi tetap tinggal di Keluarga Andrian, aku sudah ngorbanin semua harga diriku. Tapi, Liana itu batas terakhirku. Aku nggak bakal biarin dia kenapa-kenapa.""Hari ini, sekalipun langit runtuh, kamu tetap harus nyumbang kulit buat Liana!"Matanya dipenuhi kebencian saat ia menekan mulut dan hidungku sekuat tenaga, berniat mencekikku sampai pingsan.Aku menggigit telapak tangannya sekuat tenaga. Kevin meringis kesakitan dan terpaksa melepas, tapi seluruh t

  • Pembalasan Untuk Suami Mati Palsu   Bab 5

    Diliputi kesedihan, Satria pergi ke luar negeri. Begitu mendengar kabar Kevin meninggal, dia segera memindahkan perusahaannya kembali ke dalam negeri, tanpa ragu mulai mengejarku.Di bawah pengaruh Tama dan Rian yang terus mencuciku, hatiku seolah dipasangi beban kesetiaan. Seberapa keras pun Satria berusaha, aku tetap menolak untuk menikah lagi.Satria bertahan di sisiku tanpa status dan tanpa nama, memberikan dukungan penuh untuk karierku. Bisa dibilang, di kehidupan sebelumnya aku masih kokoh di puncak sebagai orang terkaya. Sebagian besar itu berkat jasanya.Sementara aku justru menganggapnya sebagai orang yang memanfaatkan keadaanku, bahkan tidak pernah meliriknya dengan sungguh-sungguh.Dadaku terasa perih. Saat menatap Satria, mataku dipenuhi rasa bersalah."Awalnya aku mau jemput kamu, nggak nyangka malah kamu yang datang nyari aku."Begitu kata-kata itu keluar, air mataku langsung jatuh tanpa bisa kutahan.Tatapan Satria jernih dan penuh kepedulian. Dia menghela napas pelan."

  • Pembalasan Untuk Suami Mati Palsu   Bab 4

    Melihat itu, Kevin, Rian an Tama langsung maju menghalangi."Kau tahu nggak ini kamar VIP milik Nona Mira dari Keluarga Andrian? Beraninya kau masuk sembarangan, sudah bosan hidup?"Kesadaranku kacau balau, tapi aku tetap memaksakan diri berteriak minta tolong.Orang yang datang itu langsung menepis ketiganya dan bergegas menghampiri ranjangku."Mira, kamu kenapa bisa jadi begini?"Melihat orang itu ternyata mengenalku, Kevin menyipitkan mata dan segera menyela."Kamu karyawan Keluarga Andrian, 'kan?""Istriku lagi terluka dan nggak sadar. Untuk urusan perusahaan, aku yang pegang penuh."Mendengar ucapan itu, Satria berdiri tegak dengan wajah penuh amarah dan menatap mereka bertiga."Oh, jadi kalian ini anak-anak panti yang dipelihara Mira buat hiburan?""Sudah mati tapi bisa hidup lagi. Benar-benar keajaiban, ya.""Kalian nggak punya hak buat ngomong di sini. Cepat keluar!"Setelah berkata demikian, Satria menekan tombol panggil. Melihat dokter dan perawat hampir tiba, wajah ketiganya

  • Pembalasan Untuk Suami Mati Palsu   Bab 3

    "Sekarang juga bawa aku ke bandara. Ini perintah."Mata Kevin seolah menyemburkan api, tapi, Liana dengan sigap menarik lengan bajunya dan menggeleng pelan.Setelah hening sejenak, Kevin akhirnya menurunkan gengsi dan membungkuk untuk membuka pintu kursi depan dengan tangannya sendiri.Liana langsung duduk di sana tanpa ragu."Maaf ya, Nona. Kevin baru sadar, aku ini orang yang nyelametin dia, jadi aku cukup khawatir sama kondisinya.""Kamu 'kan putri keluarga terpandang, harusnya nggak keberatan, 'kan?"Kevin sama sekali tidak melirikku. Dia menunduk, memasangkan sabuk pengaman untuk Liana, lalu membuka pintu mobilnya sendiri."Kalau mau ikut, naik."Mendengar nada dingin Kevin kepadaku, sudut bibir Liana sedikit terangkat.Aku terkekeh dingin lalu duduk di kursi belakang.Jelas sekali mereka berdua sedang berusaha menekanku.Sayangnya mereka tidak tahu, tujuanku ke bandara adalah menjemput suami baruku yang baru pulang ke tanah air.Aku menghela napas panjang begitu teringat Satria.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status