Share

Bab 3

Penulis: Sea
"Sekarang juga bawa aku ke bandara. Ini perintah."

Mata Kevin seolah menyemburkan api, tapi, Liana dengan sigap menarik lengan bajunya dan menggeleng pelan.

Setelah hening sejenak, Kevin akhirnya menurunkan gengsi dan membungkuk untuk membuka pintu kursi depan dengan tangannya sendiri.

Liana langsung duduk di sana tanpa ragu.

"Maaf ya, Nona. Kevin baru sadar, aku ini orang yang nyelametin dia, jadi aku cukup khawatir sama kondisinya."

"Kamu 'kan putri keluarga terpandang, harusnya nggak keberatan, 'kan?"

Kevin sama sekali tidak melirikku. Dia menunduk, memasangkan sabuk pengaman untuk Liana, lalu membuka pintu mobilnya sendiri.

"Kalau mau ikut, naik."

Mendengar nada dingin Kevin kepadaku, sudut bibir Liana sedikit terangkat.

Aku terkekeh dingin lalu duduk di kursi belakang.

Jelas sekali mereka berdua sedang berusaha menekanku.

Sayangnya mereka tidak tahu, tujuanku ke bandara adalah menjemput suami baruku yang baru pulang ke tanah air.

Aku menghela napas panjang begitu teringat Satria.

Di kehidupan sebelumnya, aku memutuskan menjaga kesetiaan untuk Kevin. Satria pun memilih tidak menikah seumur hidup, diam-diam menjagaku tanpa status apa pun.

Kini setelah berputar sejauh ini, justru dialah yang direkomendasikan ayah untuk menjadi pendampingku.

Jantungku tiba-tiba berdebar tanpa alasan jelas. Tepat saat itu, mobil mendadak terguncang keras, disusul teriakan Kevin yang memutar setir dengan liar, hingga sisi kiri tempat kami duduk menghantam truk besar yang kehilangan kendali.

Rasa sakit yang luar biasa langsung menyergap, tapi hal pertama yang keluar dari mulut Kevin justru menanyakan apakah Liana baik-baik saja?

Liana duduk di kursi depan yang aman. Mana mungkin dia kenapa-kenapa.

Aku ingin menelepon minta tolong, tapi ponselku entah sudah terlempar ke mana.

Sambil menahan nyeri, aku baru menyadari pahaku terjepit kursi yang ringsek. Sebuah luka robek di pembuluh darah membuat darah dan nyawaku mengalir pergi bersamaan.

Karena kehilangan banyak darah, pandanganku berkali-kali menggelap. Aku hanya bisa menekan lukaku dengan tangan sambil berharap petugas medis segera datang.

Namun, ketika tim penyelamat tiba, Kevin justru menjulurkan kepalanya keluar jendela mobil dan berteriak sekuat tenaga.

"Yang di belakang nggak apa-apa, nggak usah urusin dia. Tolong selamatin yang di kursi depan dulu!"

Tanganku yang semula terangkat untuk minta tolong langsung membeku. Kata-kata Kevin terasa seperti pisau yang menusuk lurus ke dadaku.

Dia jelas tahu nyawaku di ujung tanduk, tapi bahkan berpura-pura pun dia sudah malas.

Di kursi depan, Liana terus menjerit mengaku kesakitan dan mendesak polisi agar lebih dulu mendobrak pintunya.

Kevin sampai menangis panik, mengabaikan lengannya sendiri yang terluka, dan memeluk Liana erat-erat.

Melihat pemandangan itu, polisi langsung memutar ke belakang, menghancurkan kaca jendela dengan tenaga penuh, lalu mengeluarkanku dengan hati-hati.

Mendengar Kevin terus berteriak cemas, wajah para petugas tetap datar.

"Kalian masih bisa teriak dan bergerak, itu berarti nyawa kalian nggak dalam bahaya."

"Kami paham kamu panik sama orang yang kamu cintai, tapi kami nggak bisa biarkan korban luka berat di kursi belakang kehabisan darah sampai mati."

Rupanya, bahkan orang asing pun bisa langsung melihat hubungan mereka.

Di kehidupan sebelumnya, entah seberapa besar kepercayaanku pada Kevin sampai-sampai aku tidak menyadari kejanggalan sekecil apa pun.

Saat kembali sadar, aku sudah berada di rumah sakit.

Tama dan Rian berdiri di sisi ranjangku, berbicara dengan suara pelan.

"Masalah ini belum sampai ke telinga ayah. Kalau beliau tahu Kevin bawa Mira sampai kecelakaan, kita semua bisa habis."

"Santai saja. Kevin lagi donor darah buat Liana. Nanti begitu Mira bangun, suruh dia bilang ke ayah kalau dia sendiri yang nyetir. Kita aman, sekalian bisa peras mereka buat biaya Liana ke luar negeri."

Seluruh tubuhku terasa sakit, hatiku pun ikut terasa remuk.

Tepat saat itu, Kevin masuk ke kamar dengan langkah tergesa.

"Dia belum sadar, 'kan? Cepetan suntik bius, ambil kulit wajahnya buat dipindahin ke Liana."

Tama dan Rian langsung pucat pasi.

"Liana kenapa? Kenapa sampai harus transplantasi kulit?"

"Dia masih di ruang gawat darurat. Aku nggak lihat kondisinya secara langsung, cuma dengar dia nangis bilang kulitnya rusak dan harus transplantasi."

"Kalau ini demi Liana, kita harus cepat. Aku pernah niru tanda tangan Mira. Aku yang tanda tangan. Ini obat tidur, kalian paksa dia minum."

Mendengar semua itu, hatiku langsung terasa dingin membeku. Aku membuka mata lebar-lebar dan refleks mengulurkan tangan ke bel perawat di samping ranjang.

Namun, Kevin bergerak lebih cepat. Tubuhnya menyambar ke depan dan menekan tanganku dengan wajah yang berubah menyeramkan.

"Mira, Liana itu paling peduli sama penampilannya. Kali ini kamu harus bantu dia."

Melihat situasi itu, Tama dengan cepat menandatangani formulir persetujuan atas namaku, sementara Rian mengambil susu yang sudah dicampur obat tidur dan tanpa ragu menuangkannya ke mulutku.

"Mira, kenapa sih kamu harus bangun di saat kayak gini?"

"Kenapa kamu nggak nurut saja jadi donor buat Liana!"

Aku ingin melawan, tapi seluruh tubuhku penuh luka dan terbungkus gips, membuatku sama sekali tidak bisa bergerak.

Tatapan mereka dingin tanpa perasaan. Mereka memaksaku menelan obat tidur itu lalu menutup mulutku agar aku tidak berteriak, menunggu saat yang tepat.

Kepalaku terasa semakin berat, kesadaranku perlahan memudar.

Tepat saat itu, pintu kamar rumah sakit tiba-tiba didobrak dengan suara keras.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pembalasan Untuk Suami Mati Palsu   Bab 8

    Melihat bahwa usahanya menunjukkan sikap baik kepada Satria sekaligus menjelekkan aku gagal, Liana akhirnya berhenti berpura-pura."Itu semua cuma kebetulan. Aku waktu itu kaget, jadi ngomong tanpa mikir.""Lagian Mira juga nggak kenapa-kenapa, 'kan? Kenapa kalian sampai blokir kartu Kevin? Jelas-jelas kalian sengaja. Kalian jahat banget!"Aku tersenyum tipis lalu ikut membuka pintu mobil."Kalau soal jahat, apa aku masih kalah sama kamu yang numpang jasa orang lain dan nutupinya belasan tahun?"Sambil berkata begitu, aku mengeluarkan setumpuk dokumen dan menghantamkannya tepat ke wajah Kevin.Kevin hanya melirik sekilas, tapi ekspresi penuh amarahnya langsung membeku. Detik berikutnya, tubuhnya mulai gemetar."Mira … ternyata kamu …."Liana buru-buru mendekat untuk melihat isi berkas itu. Dia langsung terpaku di tempat begitu matanya menangkap tulisan di dalamnya."Nggak … bukan begitu, Kevin. Yang nyelametin nenek waktu itu benar-benar aku."Sambil bicara, Liana mengguncang lengan Ke

  • Pembalasan Untuk Suami Mati Palsu   Bab 7

    Untungnya, Satria tidak kehilangan banyak darah. Dia hanya pingsan sesaat akibat benturan. Keributan itu pun segera dihentikan.Karena khawatir dengan keadaanku, Satria terus mengikuti tim medis dan menjagaku. Tanpa disadari olehnya, Kevin dan dua orang lainnya sudah menghilang tanpa jejak.Dia tidak tahu apa yang sebenarnya kupikirkan, sehingga tidak berani bertindak gegabah dan hanya menunggu sampai aku sadar.Setelah mencerna semua yang terjadi, aku kembali menanyakan kondisi Liana.Ternyata Liana sama sekali tidak apa-apa. Dia hanya mengalami sedikit lecet di lengan, sudah keluar dari rumah sakit, lalu pergi bersama Kevin dan yang lainnya.Aku menundukkan pandangan dan tertawa kecil.Kartu kredit milik mereka bertiga sudah lama kuhentikan. Semua hak istimewa mereka di Keluarga Andrian juga sudah kucabut.Terbiasa hidup serba mewah, mereka pasti tidak akan pergi begitu saja.Jika tebakanku tidak meleset, sekarang mereka pasti sedang bersembunyi di vila yang dulu kubelikan untuk mere

  • Pembalasan Untuk Suami Mati Palsu   Bab 6

    "Soal kejadian waktu itu, Liana ceritain semuanya ke aku dengan jelas. Dia tahu nenekku pakai baju apa hari itu, bahkan tahu persis berapa biaya rumah sakitnya. Kamu tahu kenapa dia bisa ingat sedetail itu? Karena 10 juta itu persis sama dengan biaya makan siangmu hari itu.""Kamu kebiasaan hidup di atas, ngeremehin orang miskin. Kamu maksa aku masuk ke Keluarga Andrian sebagai menantu yang jadi bahan tertawaan. Kamu nggak ngerti apa-apa!"Sambil berteriak, Kevin tiba-tiba menerjangku seperti orang gila dan menekanku ke ranjang."Mira, demi tetap tinggal di Keluarga Andrian, aku sudah ngorbanin semua harga diriku. Tapi, Liana itu batas terakhirku. Aku nggak bakal biarin dia kenapa-kenapa.""Hari ini, sekalipun langit runtuh, kamu tetap harus nyumbang kulit buat Liana!"Matanya dipenuhi kebencian saat ia menekan mulut dan hidungku sekuat tenaga, berniat mencekikku sampai pingsan.Aku menggigit telapak tangannya sekuat tenaga. Kevin meringis kesakitan dan terpaksa melepas, tapi seluruh t

  • Pembalasan Untuk Suami Mati Palsu   Bab 5

    Diliputi kesedihan, Satria pergi ke luar negeri. Begitu mendengar kabar Kevin meninggal, dia segera memindahkan perusahaannya kembali ke dalam negeri, tanpa ragu mulai mengejarku.Di bawah pengaruh Tama dan Rian yang terus mencuciku, hatiku seolah dipasangi beban kesetiaan. Seberapa keras pun Satria berusaha, aku tetap menolak untuk menikah lagi.Satria bertahan di sisiku tanpa status dan tanpa nama, memberikan dukungan penuh untuk karierku. Bisa dibilang, di kehidupan sebelumnya aku masih kokoh di puncak sebagai orang terkaya. Sebagian besar itu berkat jasanya.Sementara aku justru menganggapnya sebagai orang yang memanfaatkan keadaanku, bahkan tidak pernah meliriknya dengan sungguh-sungguh.Dadaku terasa perih. Saat menatap Satria, mataku dipenuhi rasa bersalah."Awalnya aku mau jemput kamu, nggak nyangka malah kamu yang datang nyari aku."Begitu kata-kata itu keluar, air mataku langsung jatuh tanpa bisa kutahan.Tatapan Satria jernih dan penuh kepedulian. Dia menghela napas pelan."

  • Pembalasan Untuk Suami Mati Palsu   Bab 4

    Melihat itu, Kevin, Rian an Tama langsung maju menghalangi."Kau tahu nggak ini kamar VIP milik Nona Mira dari Keluarga Andrian? Beraninya kau masuk sembarangan, sudah bosan hidup?"Kesadaranku kacau balau, tapi aku tetap memaksakan diri berteriak minta tolong.Orang yang datang itu langsung menepis ketiganya dan bergegas menghampiri ranjangku."Mira, kamu kenapa bisa jadi begini?"Melihat orang itu ternyata mengenalku, Kevin menyipitkan mata dan segera menyela."Kamu karyawan Keluarga Andrian, 'kan?""Istriku lagi terluka dan nggak sadar. Untuk urusan perusahaan, aku yang pegang penuh."Mendengar ucapan itu, Satria berdiri tegak dengan wajah penuh amarah dan menatap mereka bertiga."Oh, jadi kalian ini anak-anak panti yang dipelihara Mira buat hiburan?""Sudah mati tapi bisa hidup lagi. Benar-benar keajaiban, ya.""Kalian nggak punya hak buat ngomong di sini. Cepat keluar!"Setelah berkata demikian, Satria menekan tombol panggil. Melihat dokter dan perawat hampir tiba, wajah ketiganya

  • Pembalasan Untuk Suami Mati Palsu   Bab 3

    "Sekarang juga bawa aku ke bandara. Ini perintah."Mata Kevin seolah menyemburkan api, tapi, Liana dengan sigap menarik lengan bajunya dan menggeleng pelan.Setelah hening sejenak, Kevin akhirnya menurunkan gengsi dan membungkuk untuk membuka pintu kursi depan dengan tangannya sendiri.Liana langsung duduk di sana tanpa ragu."Maaf ya, Nona. Kevin baru sadar, aku ini orang yang nyelametin dia, jadi aku cukup khawatir sama kondisinya.""Kamu 'kan putri keluarga terpandang, harusnya nggak keberatan, 'kan?"Kevin sama sekali tidak melirikku. Dia menunduk, memasangkan sabuk pengaman untuk Liana, lalu membuka pintu mobilnya sendiri."Kalau mau ikut, naik."Mendengar nada dingin Kevin kepadaku, sudut bibir Liana sedikit terangkat.Aku terkekeh dingin lalu duduk di kursi belakang.Jelas sekali mereka berdua sedang berusaha menekanku.Sayangnya mereka tidak tahu, tujuanku ke bandara adalah menjemput suami baruku yang baru pulang ke tanah air.Aku menghela napas panjang begitu teringat Satria.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status