Share

Bab 2

Author: Sea
Demi mengelabui semua orang, Kevin sampai mengurus surat kematian dari rumah sakit.

Setelah petugas memastikan semuanya sesuai, ia segera mencap dokumen itu mengikuti perintahku.

"Nona Mira, mohon berduka cita. Ini surat kematian suami Anda."

Aku hanya menggumam pelan lalu memasukkan dokumen itu ke dalam tas. Baru melangkah dua langkah, ponsel Tama tiba-tiba bergetar hebat.

Dia melirikku dengan gelisah sebelum menyelinap ke sudut untuk menerima panggilan.

Meski jaraknya cukup jauh, aku tetap bisa menangkap beberapa kalimat.

"Mana aku tahu perempuan itu bakal setega ini."

"Identitasnya sudah dicabut sistem, kamu ketahan di pintu keberangkatan dan nggak bisa ke luar negeri?"

"Jangan panik dulu, kita pikirkan bareng-bareng. Yang penting jaga baik-baik Liana, jangan sampai dia menderita."

Wajah Rian dan Tama sama-sama menggelap. Setelah menutup telepon, mereka mengepalkan tangan dan melangkah ke arahku.

Begitu mereka hendak bicara, aku lebih dulu bicara.

"Bantu aku sebar pengumuman. Bilang saja aku sudah kehilangan suami dan sekarang terbuka mencari calon suami."

Keduanya langsung murka sampai mata mereka memerah.

"Mira, Kevin baru saja meninggal, tapi kamu sudah mau cari suami lagi. Kamu mau bikin dia mati dua kali, ya!"

"Kamu cuma menang karena lahir di keluarga kaya. Soal watak, kamu bahkan nggak lebih baik dari pembantu di rumah. Selain kami para suami asuh ini, kamu pikir masih ada orang lain yang mau nikahin kamu?"

Aku menekan rasa muak di hatiku dan menatap dua orang itu dengan dingin saat mereka meluap-luap karena marah.

"Apa yang aku bilang itu aturan. Lakukan sekarang juga."

Tama dan Rian saling berpandangan, sorot mata mereka penuh dengan rasa meremehkan.

"Kalau kamu pikir cara kayak gini bisa bikin kami tergerak dan minta nikahin kamu, maaf banget. Di mata kami, kamu bahkan nggak ada apa-apanya dibanding Liana."

"Cuma ngumumin doang, 'kan, Mira? Nanti juga ada saatnya kamu nangis dan mohon ke kami."

Ayah mengetahui hal itu dan langsung menelponku minta aku pulang. Tama dan Rian berniat ikut, tapi aku angkat tangan untuk menghentikan mereka.

"Urusan Keluarga Andrian nggak ada hubungannya sama kalian."

Keduanya berkali-kali dibuat tidak berkutik, hingga akhirnya berbalik pergi dengan wajah penuh amarah.

Saat melihatku, Ayah menghela napas panjang.

"Mira, dulu kamu begitu mencintai Kevin. Kamu benar-benar sudah pikirkan matang-matang buat melangkah lagi?"

Setelah melihatku mengangguk, Ayah membuka laci dan mengeluarkan sebuah amplop.

"Kalau kamu sudah yakin, Ayah sebenarnya punya satu orang kandidat."

Aku langsung menyetujuinya tanpa melihat isi amplop itu.

"Kalau orangnya bisa bikin Ayah yakin, pasti nggak salah. Aku pilih dia."

Melihat sikapku, wajah Ayah yang lelah akhirnya tersenyum tipis. Dia berkata akan menyuruh Satria segera pulang ke tanah air untuk menjadi tangan kananku.

Mendengar nama itu, jantungku langsung berdegup kencang tanpa bisa dikendalikan.

Orang yang ayah pilih ternyata adalah dia.

Ayah mengatakan Satria sedang menangani urusan mendesak dan paling cepat bisa kembali dalam waktu satu minggu.

Aku menekan kegembiraan di dalam hati dan memutuskan untuk benar-benar memberi diriku waktu beristirahat. Aku tinggal di rumah sambil menenangkan diri selama seminggu.

Tama dan Rian tidak datang mencariku. Entah rencana apa lagi yang mereka siapkan, sementara aku justru menikmati ketenangan itu.

Hari ini akhirnya datang juga kabar Satria sudah pulang ke tanah air. Aku baru saja hendak berangkat ke bandara ketika melihat sosok yang berdiri tegak di depan gerbang vila. Suami yang kukira telah mati, Kevin, ada di sana.

Pakaian mewah yang dulu kubelikan sudah lama tergantikan oleh kaus murahan pinggir jalan. Sosoknya yang dulu penuh wibawa kini tampak biasa saja.

Di samping Kevin, pembantu bernama Liana terlihat penuh keluhan. Sementara Tama dan Rian terus berusaha menenangkannya.

Benar-benar sandiwara kebangkitan dari kematian. Sepertinya mereka gagal pergi ke luar negeri dan terpaksa pulang dengan wajah tertunduk.

Aku menarik napas dalam-dalam lalu melangkah maju dan membuka mulut dengan nada dingin.

"Kevin, jadi kamu ternyata nggak mati?"

Kevin belum sempat bicara ketika Liana sudah lebih dulu berdiri melindunginya.

"Nona, omonganmu bisa nggak, jangan sekejam itu? Dia suamimu, apa kamu segitunya berharap dia mati?"

Aku mengangkat alis pelan sambil menatap perempuan yang di kehidupan sebelumnya hidup berkecukupan di luar negeri dengan uangku.

"Kamu itu siapa sampai berani ribut di depanku?"

Menyadari sikapnya berlebihan, Liana menundukkan kepala.

Kevin segera melangkah maju dan berdiri di depannya.

"Dia penyelamat nyawaku. Kamu siapa sampai bersikap nggak sopan sama orang yang menolongku?"

Melihat situasi itu, Tama dan Rian langsung berbicara bersahutan memberi penjelasan.

Mereka mengatakan Kevin terjatuh saat membantuku mengecek kondisi di gunung. Tubuhnya memang selamat, tapi kepalanya terbentur batu hingga kehilangan ingatan.

Mereka juga mengatakan Liana kebetulan lewat dan menyelamatkan Kevin. Sejak saat itu, Liana tidak bisa lagi dianggap sebagai pembantu Keluarga Andrian, karena dia telah menyelamatkan suamiku dan pantas disebut sebagai dermawan bagi seluruh Keluarga Lukas.

Setelah mendengar semua itu, Liana menyelipkan tas ke tangan Kevin lalu mengangkat dagunya ke arahku.

"Aku capek. Tolong ya, Nona Mira, cariin kamar buat aku sebagai orang yang sudah selamatkan nyawa suamimu."

Kevin langsung melindungi Liana dan menggiringnya masuk ke rumah. Aku menjentikkan jari, lalu kepala pelayanku tanpa ragu menutup pintu tepat di depan mereka berdua.

Kevin menoleh dengan wajah penuh amarah dan menatapku tajam.

"Katanya kamu istriku. Kalau begitu, orang yang nolong aku juga harus kamu hormati. Kenapa kamu bisa setidak sopan ini!"

Aku terkekeh pelan.

Aktingnya benar-benar meyakinkan.

Kalau aku tidak terlahir kembali, mungkin aku benar-benar sudah menjadikan Liana sebagai tamu kehormatan.

"Kevin, memang benar kamu suamiku, tapi di Keluarga Andrian, aku satu-satunya yang berkuasa."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pembalasan Untuk Suami Mati Palsu   Bab 8

    Melihat bahwa usahanya menunjukkan sikap baik kepada Satria sekaligus menjelekkan aku gagal, Liana akhirnya berhenti berpura-pura."Itu semua cuma kebetulan. Aku waktu itu kaget, jadi ngomong tanpa mikir.""Lagian Mira juga nggak kenapa-kenapa, 'kan? Kenapa kalian sampai blokir kartu Kevin? Jelas-jelas kalian sengaja. Kalian jahat banget!"Aku tersenyum tipis lalu ikut membuka pintu mobil."Kalau soal jahat, apa aku masih kalah sama kamu yang numpang jasa orang lain dan nutupinya belasan tahun?"Sambil berkata begitu, aku mengeluarkan setumpuk dokumen dan menghantamkannya tepat ke wajah Kevin.Kevin hanya melirik sekilas, tapi ekspresi penuh amarahnya langsung membeku. Detik berikutnya, tubuhnya mulai gemetar."Mira … ternyata kamu …."Liana buru-buru mendekat untuk melihat isi berkas itu. Dia langsung terpaku di tempat begitu matanya menangkap tulisan di dalamnya."Nggak … bukan begitu, Kevin. Yang nyelametin nenek waktu itu benar-benar aku."Sambil bicara, Liana mengguncang lengan Ke

  • Pembalasan Untuk Suami Mati Palsu   Bab 7

    Untungnya, Satria tidak kehilangan banyak darah. Dia hanya pingsan sesaat akibat benturan. Keributan itu pun segera dihentikan.Karena khawatir dengan keadaanku, Satria terus mengikuti tim medis dan menjagaku. Tanpa disadari olehnya, Kevin dan dua orang lainnya sudah menghilang tanpa jejak.Dia tidak tahu apa yang sebenarnya kupikirkan, sehingga tidak berani bertindak gegabah dan hanya menunggu sampai aku sadar.Setelah mencerna semua yang terjadi, aku kembali menanyakan kondisi Liana.Ternyata Liana sama sekali tidak apa-apa. Dia hanya mengalami sedikit lecet di lengan, sudah keluar dari rumah sakit, lalu pergi bersama Kevin dan yang lainnya.Aku menundukkan pandangan dan tertawa kecil.Kartu kredit milik mereka bertiga sudah lama kuhentikan. Semua hak istimewa mereka di Keluarga Andrian juga sudah kucabut.Terbiasa hidup serba mewah, mereka pasti tidak akan pergi begitu saja.Jika tebakanku tidak meleset, sekarang mereka pasti sedang bersembunyi di vila yang dulu kubelikan untuk mere

  • Pembalasan Untuk Suami Mati Palsu   Bab 6

    "Soal kejadian waktu itu, Liana ceritain semuanya ke aku dengan jelas. Dia tahu nenekku pakai baju apa hari itu, bahkan tahu persis berapa biaya rumah sakitnya. Kamu tahu kenapa dia bisa ingat sedetail itu? Karena 10 juta itu persis sama dengan biaya makan siangmu hari itu.""Kamu kebiasaan hidup di atas, ngeremehin orang miskin. Kamu maksa aku masuk ke Keluarga Andrian sebagai menantu yang jadi bahan tertawaan. Kamu nggak ngerti apa-apa!"Sambil berteriak, Kevin tiba-tiba menerjangku seperti orang gila dan menekanku ke ranjang."Mira, demi tetap tinggal di Keluarga Andrian, aku sudah ngorbanin semua harga diriku. Tapi, Liana itu batas terakhirku. Aku nggak bakal biarin dia kenapa-kenapa.""Hari ini, sekalipun langit runtuh, kamu tetap harus nyumbang kulit buat Liana!"Matanya dipenuhi kebencian saat ia menekan mulut dan hidungku sekuat tenaga, berniat mencekikku sampai pingsan.Aku menggigit telapak tangannya sekuat tenaga. Kevin meringis kesakitan dan terpaksa melepas, tapi seluruh t

  • Pembalasan Untuk Suami Mati Palsu   Bab 5

    Diliputi kesedihan, Satria pergi ke luar negeri. Begitu mendengar kabar Kevin meninggal, dia segera memindahkan perusahaannya kembali ke dalam negeri, tanpa ragu mulai mengejarku.Di bawah pengaruh Tama dan Rian yang terus mencuciku, hatiku seolah dipasangi beban kesetiaan. Seberapa keras pun Satria berusaha, aku tetap menolak untuk menikah lagi.Satria bertahan di sisiku tanpa status dan tanpa nama, memberikan dukungan penuh untuk karierku. Bisa dibilang, di kehidupan sebelumnya aku masih kokoh di puncak sebagai orang terkaya. Sebagian besar itu berkat jasanya.Sementara aku justru menganggapnya sebagai orang yang memanfaatkan keadaanku, bahkan tidak pernah meliriknya dengan sungguh-sungguh.Dadaku terasa perih. Saat menatap Satria, mataku dipenuhi rasa bersalah."Awalnya aku mau jemput kamu, nggak nyangka malah kamu yang datang nyari aku."Begitu kata-kata itu keluar, air mataku langsung jatuh tanpa bisa kutahan.Tatapan Satria jernih dan penuh kepedulian. Dia menghela napas pelan."

  • Pembalasan Untuk Suami Mati Palsu   Bab 4

    Melihat itu, Kevin, Rian an Tama langsung maju menghalangi."Kau tahu nggak ini kamar VIP milik Nona Mira dari Keluarga Andrian? Beraninya kau masuk sembarangan, sudah bosan hidup?"Kesadaranku kacau balau, tapi aku tetap memaksakan diri berteriak minta tolong.Orang yang datang itu langsung menepis ketiganya dan bergegas menghampiri ranjangku."Mira, kamu kenapa bisa jadi begini?"Melihat orang itu ternyata mengenalku, Kevin menyipitkan mata dan segera menyela."Kamu karyawan Keluarga Andrian, 'kan?""Istriku lagi terluka dan nggak sadar. Untuk urusan perusahaan, aku yang pegang penuh."Mendengar ucapan itu, Satria berdiri tegak dengan wajah penuh amarah dan menatap mereka bertiga."Oh, jadi kalian ini anak-anak panti yang dipelihara Mira buat hiburan?""Sudah mati tapi bisa hidup lagi. Benar-benar keajaiban, ya.""Kalian nggak punya hak buat ngomong di sini. Cepat keluar!"Setelah berkata demikian, Satria menekan tombol panggil. Melihat dokter dan perawat hampir tiba, wajah ketiganya

  • Pembalasan Untuk Suami Mati Palsu   Bab 3

    "Sekarang juga bawa aku ke bandara. Ini perintah."Mata Kevin seolah menyemburkan api, tapi, Liana dengan sigap menarik lengan bajunya dan menggeleng pelan.Setelah hening sejenak, Kevin akhirnya menurunkan gengsi dan membungkuk untuk membuka pintu kursi depan dengan tangannya sendiri.Liana langsung duduk di sana tanpa ragu."Maaf ya, Nona. Kevin baru sadar, aku ini orang yang nyelametin dia, jadi aku cukup khawatir sama kondisinya.""Kamu 'kan putri keluarga terpandang, harusnya nggak keberatan, 'kan?"Kevin sama sekali tidak melirikku. Dia menunduk, memasangkan sabuk pengaman untuk Liana, lalu membuka pintu mobilnya sendiri."Kalau mau ikut, naik."Mendengar nada dingin Kevin kepadaku, sudut bibir Liana sedikit terangkat.Aku terkekeh dingin lalu duduk di kursi belakang.Jelas sekali mereka berdua sedang berusaha menekanku.Sayangnya mereka tidak tahu, tujuanku ke bandara adalah menjemput suami baruku yang baru pulang ke tanah air.Aku menghela napas panjang begitu teringat Satria.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status