Malam itu, Nizam tidak langsung pulang. Ia duduk lama di kursi belakang mobil, menatap keluar jendela tanpa fokus. Lampu-lampu jalanan berpendar seperti bayangan yang tak bisa ia sentuh. Dadanya sesak, perasaan yang ia benci, yang tak pernah ia beri izin untuk tinggal. “Riza,” ucapnya akhirnya, suaranya datar tapi berat. “Iya, Bos?” “Antar saya ke rumah Inara.” Riza menoleh cepat. “Sekarang, Bos?” “Sekarang.” Mobil berbelok. Tidak ada pertanyaan lanjutan. Riza terlalu mengenal bosnya untuk berdebat. Begitu mobil berhenti di depan rumah Inara, Nizam langsung menyadari sesuatu yang membuat rahangnya mengeras. Sebuah mobil mewah terparkir rapi di halaman. Bukan mobil Inara. Bukan pula mobil kantor. Nizam menatapnya lama, seolah berharap mobil itu lenyap jika ia cukup lama menatap. N
Terakhir Diperbarui : 2026-01-11 Baca selengkapnya