Malam Minggu yang Tidak Direncanakan, Inara benar-benar merasa sedang menjalani hukuman tingkat tinggi.Kalau bukan karena satu kalimat "ini perintah", ia sudah mengunci pintu rumahnya, mengenakan piyama, dan tenggelam di depan Netflix sejak sore.Tapi tidak. Ia berdiri di depan cermin, menarik napas panjang, lalu bergumam pelan,“Nyanyi sampai jam delapan. Habis itu aku nonton. Titik.”Ia sudah menyusun strategi sejak siang.Sebelum ke apartemen Nizam, Inara mampir ke minimarket. Belanjaannya penuh, mulai permen aneka rasa, cokelat batangan, popcorn ukuran jumbo, es krim cokelat vanilla favoritnya, juga dua kotak kue manis.“Bodo amat sama kanebo kering,” gumamnya sambil memasukkan semuanya ke tote bag besar.“Biar tau rasa ngajakin orang yang nggak niat ngajarin.”Begitu tiba di apartemen Nizam, bel ditekan. Tak lama, pintu terbuka. Nizam berdiri di sana, kaus polos dan celana rumah. Rambutnya rapi, wajahnya segar, ter
続きを読む