Di rumah orang tuanya, Nizam duduk dengan punggung tegak. Suasana ruang keluarga terasa hangat, namun pikirannya tak sepenuhnya berada di sana. Ia berusaha menghormati keinginan papa dan mamanya, tapi ada batas yang ingin ia jaga. “Pa,” ucapnya akhirnya, suaranya tenang. “Apa tidak terlalu dini kalau kita langsung bicara soal pertunangan?” Papa menatapnya lama. “Zam, Papa pikir kamu sudah waktunya memikirkan dirimu sendiri. Papa lihat kamu tidak pernah ada inisiatif mendekati perempuan. Kamu masih normal, kan?” Nizam menghela napas pelan. “Pa, bukan begitu. Nizam hanya belum siap berkomitmen. Nizam ingin fokus bekerja dulu.” Mamanya tersenyum lembut, mencoba menengahi. “Pelan-pelan saja. Anggap penjajakan, saling mengenal dulu.” “Ya,” sambung Papa. “Papa dan Mama juga tidak memaksa Zam.” Nizam mengangguk. “Kalau sebatas penjajakan, Nizam bisa terima. Tapi untuk bertunangan sepertinya tidak. Nizam belum ada rencana ke sana Pa, Ma.” Papa tersenyum kecil. “Terserah kamu.
Last Updated : 2026-01-04 Read more