Mag-log inBlurb : Nizam Respati Anwar, CEO Niaga Perkasa dikenal sebagai pria dingin, galak, dan anti perempuan. Di perusahaannya, tak ada satu pun wanita di lingkar kepercayaannya. Semua asistennya laki-laki. Tak ada ruang untuk perasaan, apalagi cinta. Sampai Inara Prameswari datang. Sebagai karyawan baru di bawah kepemimpinannya, Inara seharusnya hanya menjadi nama lain dalam daftar staf. Namun tanpa disadari Nizam, kehadiran gadis itu membangkitkan kenangan lama tentang Nana, gadis kecil di masa lalu yang lembut, ceria, dan selalu menemaninya di hari-hari paling sepi. Senyum Inara, caranya peduli, dan ketulusan yang tak dibuat-buat perlahan meruntuhkan dinding es di hati Nizam yang telah lama membeku. Perasaan itu ia sembunyikan rapat-rapat, di balik sikap dingin dan amarah yang justru semakin sering muncul. Apakah Inara mampu bertahan menghadapi bosnya yang terkenal galak dan tak tersentuh? Ataukah justru ia yang akan menaklukkan gunung es bernama Nizam Respati Anwar dan menyembuhkan luka lama yang tak pernah sembuh? Sebuah kisah cinta kantor tentang bos dingin, gadis hangat, dan perasaan yang tumbuh diam-diam.
view morePagi selalu datang terlalu cepat bagi Nizam Respati Anwar.
Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 06.10 ketika ia berdiri di depan cermin besar kamar apartemennya. Setelan jas hitam telah rapi melekat di tubuh tinggi tegap itu. Kemeja putih tanpa satu pun lipatan, dasi abu-abu gelap terikat sempurna. Tak ada satu detail pun yang boleh salah seperti hidupnya yang selalu ia atur dalam garis lurus, dingin, dan tanpa cela. Hari ini bukan hari biasa.. Ia akan melakukan finalisasi wawancara akhir untuk divisi keuangan Niaga Perkasa. Divisi penting, rawan dan tak boleh diisi orang sembarangan. Tujuh kandidat telah lolos seleksi HRD. Tujuh wanita yang pagi ini akan duduk berhadapan dengannya pukul delapan tepat. Dari 7 kandidat hanya tiga yang akan ia pilih, sisanya pulang membawa penyesalan atau pelajaran. Nizam mengembuskan napas pelan. Entah sejak kapan ia membiarkan HRD merekrut kandidat perempuan. Biasanya ia tak peduli. Namun kali ini, divisi keuangan membutuhkan tenaga detail, teliti, dan sabar kata HRD. Ia mengizinkan, dengan satu syarat : keputusan akhir mutlak di tangannya. Tak ada toleransi dan tak ada belas kasihan. “Mobil sudah siap, Pak.” Suara Riza, sekretaris merangkap asisten pribadinya, terdengar dari ambang pintu. Seperti biasa, pria itu berdiri tegak, sopan, dan berhati-hati. Bekerja untuk Nizam bukan perkara mudah. Salah sedikit, bisa berujung teguran dingin yang terasa lebih menyakitkan daripada teriakan. “Berangkat sekarang,” jawab Nizam singkat. Tak ada senyum, tak ada basa-basi. Aura mencekam yang selalu mengiringinya seakan menjadi bayangan permanen. ** Hujan pagi baru saja berhenti. Aspal masih basah, udara terasa segar bercampur dingin, dan sisa kabut tipis menggantung malas di perempatan besar menuju kawasan perkantoran elit Jakarta. Mobil hitam mewah yang ditumpangi Nizam berhenti tepat di lampu merah. Nizam menatap lurus ke depan. Pikirannya sudah dipenuhi data kandidat, laporan keuangan, dan agenda rapat lanjutan. Ia tak menyadari apa pun sampai sesuatu di luar jendela mobil menarik perhatiannya. Seorang wanita, mengenakan setelan kerja rapi, blazer hitam dan rok senada, berdiri di tepi zebra cross. Rambutnya terikat sederhana, wajahnya bersih tanpa riasan berlebihan. Namun yang membuat Nizam terpaku bukan penampilannya semata. Wanita itu sedang membantu rombongan nenek-nenek menyeberang jalan. Dengan sabar, ia menggandeng tangan mereka satu per satu. Senyumnya hangat, tutur katanya lembut meski Nizam tak bisa mendengar jelas. Tangannya terulur, tubuhnya sedikit membungkuk hormat, matanya berbinar tulus. Lampu hijau untuk pejalan kaki menyala, langkah mereka pelan, namun penuh kehati-hatian. Ada sesuatu yang asing, tiba tiba dada Nizam terasa sesak sesaat. Entah mengapa, adegan sederhana itu memukul satu sudut kenangan yang telah lama terkunci rapat dalam dirinya. Ingatan tentang seorang gadis kecil dengan senyum ceria, yang selalu menggenggam tangannya di masa lalu, saat dunia belum sekejam ini. “Nana” gumamnya hampir tak terdengar. Wanita itu terlihat bercahaya di bawah cahaya pagi yang lembap. Cantik, tapi bukan cantik yang menyilaukan melainkan cantik yang menenangkan. Cantik yang membuat orang ingin memperlambat langkah. Lampu hijau untuk kendaraan menyala, di saat bersamaan, sebuah mobil melintas dengan kecepatan tinggi, tak mengindahkan genangan air di sisi jalan. Dalam sekejap ... **SPLASH!** Air sisa hujan muncrat tinggi, membasahi pakaian wanita itu. “Ya ampun!” Wanita itu tersentak. Ia mundur selangkah, menatap bajunya yang kini basah dan kotor. Lapisan dalam putih yang semula rapi kini ternodai percikan lumpur. “Pengendara nggak punya mata, apa ya?!” umpatnya kesal, dengan wajah merah padam. Nizam menatap adegan itu tanpa berkedip, lalu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia tertawa. Bukan tawa keras, hanya senyum kecil yang lolos begitu saja dari bibirnya. Matanya menghangat sesaat, ekspresinya melunak, hanya sepersekian detik, tapi cukup untuk membuat Riza tertegun. Riza melirik lewat spion. Bosnya… tersenyum? “Apa ada yang salah, Bos?” tanyanya hati-hati. “Jalan,” perintah Nizam singkat, kembali memasang wajah datar meski sisa senyum itu belum sepenuhnya menghilang. Mobil melaju meninggalkan perempatan, namun bayangan wanita berblazer hitam itu tertinggal di benak Nizam lebih lama dari yang ia kira. ** Sementara itu, Inara Prameswari menatap bajunya dengan napas berat, basah, kotor, dak sempurna untuk ukuran seseorang yang akan melamar pekerjaan.. Hari ini adalah hari penentuan hidupnya. “Aduh… kenapa sih harus hari ini?” gumamnya lirih. Ini wawancara tahap akhir penerimaan pekerjaannya, perusahaan besar, posisi tetap. Kesempatan yang ia tunggu berbulan-bulan. Pulang untuk ganti baju bukan pilihan, jarak rumahnya terlalu jauh. Mau mundur? Terlalu sayang. Akhirnya Inara menghela napas panjang. “Bismillah,” ucapnya pelan. “Kalau rezeki nggak akan ke mana.” Dengan sisa keyakinan dan sedikit nekat, ia melanjutkan perjalanan. ** Kesialan belum selesai mengujinya. Saat Inara tiba di gedung Niaga Perkasa, jarum jam sudah menunjukkan pukul 08.15 WIB, wajahnya langsung pucat. “Maaf, Pak… saya peserta wawancara. Saya terlambat,” ucapnya terbata di hadapan staf HRD. Pak Seno, pria paruh baya itu menatap Inara dengan iba. Ia melihat noda di pakaian wanita itu, wajah cemasnya, dan tangan yang gemetar. “Wawancara sudah dimulai,” kata Pak Seno ragu. “Saya mohon, Pak… beri saya kesempatan,” suara Inara nyaris bergetar. Pak Seno terdiam sejenak, lalu mengangguk kecil. “Masuklah, tapi saya tidak bisa menjamin apa pun.” Inara mengangguk cepat. “Terima kasih, Pak.” Pintu ruang CEO terbuka. Suasana di dalam seketika membeku. 8 pasang mata menoleh termasuk sepasang mata tajam yang langsung mengunci keberadaannya. Nizam Respati Anwar. Aura dingin itu menghantam Inara tanpa ampun. “Kamu yang baru datang?” suara itu tegas, dingin, tanpa emosi. “Kamu tahu ini sudah lewat lima belas menit sejak sesi dimulai.” Inara menelan ludah. “Ma-maaf, Pak…” “Berdiri di sudut sana,” perintah Nizam tajam. Inara masih terpaku. “Kamu tuli?” bentaknya lebih keras. “Saya bilang berdiri di sudut, bukan jadi patung!” Tubuh Inara tersentak. Ia buru-buru melangkah ke sudut ruangan, berdiri tegak dengan tangan terkepal menahan gemetar. Wawancara berlanjut. Inara berdiri di sana dengan baju basah, gugup, dipermalukan sementara sosok Nizam Respati Anwar semakin mengukuhkan satu reputasi yang tak pernah berlebihan: Kesan pertama, Bos barusan galak, dingin dan tak mengenal belas kasihan. Tanpa ada yang tahu, pagi itu adalah awal dari sesuatu yang tak pernah ia rencanakan. Wawancara berakhir tepat pukul sepuluh. Satu per satu peserta diminta keluar ruangan. Inara masih berdiri di sudut, kakinya mulai pegal, punggungnya kaku, tapi ia tak berani bergerak sedikit pun. Tatapannya lurus ke depan, menahan perasaan campur aduk antara malu, kecewa, dan pasrah. “Yang lain boleh keluar.” Suara Nizam terdengar datar, para kandidat saling pandang, lalu melangkah pergi. Pintu tertutup perlahan, menyisakan keheningan yang menekan. Hanya ada mereka berdua di dalam ruangan luas itu. Inara menahan napas. “Baju kamu,” ucap Nizam tiba-tiba. Inara tersentak. “Maaf, Pak… saya ..” “Bukan itu.” Nizam memotong, menatap noda di blazer hitam itu. “Kenapa basah?” Pertanyaan sederhana, entah kenapa, jantung Inara berdegup lebih kencang. “Terkena air di jalan tadi, Pak,” jawabnya jujur. Nizam terdiam. Bayangan perempatan pagi tadi kembali menyeruak di benaknya. Senyum ramah, umpatan kesal dan mata yang sama. Pelan, Nizam menyandarkan punggung ke kursinya. Tatapannya mengeras namun sorot matanya berubah. “Kamu tahu,” katanya rendah, “Saya paling benci karyawan yang terlambat.” Inara mengangguk lirih. “Saya siap menerima keputusan apa pun, Pak.” Hening. Nizam berkata pelan, namun menusuk, “Kalau saya bilang kamu belum boleh pulang hari ini bagaimana?” Inara mendongak, terkejut. Ia sadar, bos galak itu sedang memperhatikannya lebih dari sekadar pewawancara. ***Di lantai dua puluh lima Niaga Perkasa, suasana kantor masih terasa tegang meski jam kerja hampir usai. Beberapa karyawan memilih bertahan di depan layar, berpura-pura sibuk, hanya agar tak perlu berpapasan langsung dengan sang bos galak yang sejak pagi seperti kehilangan rem. Di ruangannya, Nizam Respati Anwar berdiri membelakangi pintu, menatap jendela besar tanpa benar-benar melihat apa pun. Bayangan Inara bersama pria itu terus terulang di kepalanya. Cara Inara tersenyum, cara pria itu menunduk sedikit saat berbicara, cara mereka berjalan berdampingan terlihat cocok. Nizam mengembuskan napas keras. Kenapa aku peduli? Pintu diketuk pelan. “Masuk,” ucapnya dingin. Bella melangkah masuk, mengenakan gaun kerja elegan. Senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang sudah ia latih bertahun-tahun. “Belum pulang zam?” tanyanya lembut.
“JANGAN MEMBELA.” Nada Nizam meninggi. “Kamu lulusan luar negeri, kan?” “Iya, Pak.” “Harusnya kamu tahu, angka sekecil ini bisa berdampak besar!” Inara mencoba tenang. “Kalau Bapak beri saya waktu ...” “WAKTU?!” Nizam berdiri. Kursinya bergeser keras. “Kamu pikir perusahaan ini mainan?!” Inara tercekat. “Saya tidak pernah bilang begitu, Pak.” “Ekspresi kamu bilang.” Hening. Inara menggenggam jemarinya. Dadanya naik turun. “Pak,” katanya pelan tapi tegas, “kalau ada kesalahan, saya siap diperbaiki. Tapi saya tidak bisa bekerja dengan teriakan.” Kalimat itu jatuh seperti bom kecil. Riza yang berdiri di sudut ruangan refleks menoleh. Nizam menatap Inara lama. “Kamu mengajari saya cara memimpin?” “Tidak,” jawab Inara lirih. “Saya hanya ingin bekerja dengan sehat.” Hening makin menekan. “Keluar.” Suara Nizam rendah. Dingin. “Sekarang.” Inara menunduk singkat. “Baik, Pak.” Begitu pintu tertutup, Riza menghela napas panjang. “Bos…” “JANGAN B
HAH?!” “Turki loh, Inara!” “Pak bos ke mana?” “Lagi jalan sama Mbak Bella.” “Yah… nggak seru dong.” Inara mengangkat bahu. “Nggak apa-apa. Anggap aja istirahat pindah tempat.” “Dasar kamu,” kata Bunga. “Masih saja mencoba menghibur hati.” Inara tersenyum. Panggilan ditutup. Baru saja ponsel ditaruh, layar menyala lagi. Radit menelepon. “Nana?” “Iya, Mas.” “Loh ... kenapa dengan suara kamu terdengar sengau?” “Aku flu Mas” “Kamu di mana?” “Di Turki.” Hening. “…Turki?” “Iya, Mas. Dapet doorprize dari kantor. Liburan bareng bos.” “Kamu ke Turki bareng bos?” “Iya.” Inara bersin. “Matikan dulu. Aku video call,” kata Radit cepat. Panggilan terputus, lalu muncul video call Radit. Begitu wajah Inara muncul di layar, Radit mengernyit. “Kamu demam flu,” katanya tegas. “Kelihatan banget ya?” “Kamu pucat.” “Cuma flu Mas.” “Kamu pasti kebanyakan permen sama es krim.” Inara tertawa kecil. “Mas selalu tau.” “Kamu dari dulu gitu.” “Mas ngapain n
“Zam… itu bukankah Inara?” Nizam menoleh. Diam. Di sudut kafe, Inara duduk santai. Hoodie dilepas, rambutnya digerai. Ia tertawa lepas bersama dua pria dan satu wanita lokal. Bahasa Turki dan Inggris bercampur, terdengar akrab. “Dia kelihatan enjoy dan nyaman,” Bella berkomentar pelan. Nizam tidak menjawab, Bella melangkah lebih dulu. “Inara?” Inara menoleh. “Oh… Pak Nizam. Mbak Bella.” Ia berdiri refleks. “Kamu di sini?” tanya Bella, senyumnya tipis. “Iya. Ketemu teman lama,” jawab Inara santai. Nizam akhirnya bicara. “Kamu bilang tadi sedang di luar.” “Iya, Pak. Ini maksudnya,” jawab Inara jujur, tanpa nada defensif. Bella menoleh ke teman-teman Inara. “Teman kuliah?” “Teman magang dulu,” salah satu pria Turki menyahut ramah. “Oh,” Bella mengangguk. “Pantas kelihatan akrab.” Hening sebentar. Nizam berdehem. “Kamu tidak ikut jalan hari ini.” Inara tersenyum kecil. “Bapak kelihatan sibuk. Saya tidak enak.” “Itu bukan maksud saya,” suara Niz
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu