Di seberang telepon, suasana sunyi setengah menit.Kayden terdiam.Di sisi lain, Silvar mengangkat alis dan bertanya, "Kenapa? Mantan pacarmu selingkuh darimu?""Bukan," Kayden refleks membantah.Sebagai teman masa kecil Kayden, Silvar tidak mengenal Lunara. Mendengar itu, dia malah tertawa semakin senang. "Ya, mana ada perempuan di dunia ini yang berani ninggalin kamu, bahkan masih berani selingkuhin kamu! Kalau begitu, kamu telepon buat apa?"Kayden menghindari pertanyaan itu. "Kamu bilang, kalau kamu ingin membalas dendam, itu karena kamu menyukainya?""Kalau aku sih iya. Kamu juga tahu, aku ini orangnya picik. Perempuan yang aku suka, kalau nggak berhasil aku kejar, ya sudah. Tapi kalau sudah jadi pacarku, masih sempat-sempatnya selingkuhin aku?"Silvar tertawa kecil, berbaring di tepi sebuah pulau di belahan bumi selatan yang bermandikan matahari. Suaranya terdengar malas. "Jangan mimpi deh.""Demi harga diri sebagai pria, dan demi perasaanku, aku nggak akan membiarkannya hidup te
Baca selengkapnya