Hilda menepuk bedak ke wajahnya. "Aku juga bukan mau menikah denganmu demi saham Keluarga Narasoma. Memangnya kalau kamu punya saham, setelah kita menikah atau bercerai nanti saham itu jadi milikku? Aku bukan orang bodoh.""Kamu nggak usah berharap sama saham keluargaku dan aku juga nggak mau saham keluargamu."Eden menatap wajah Hilda yang halus. Wajahnya tidak bisa dibilang sangat cantik, bibirnya agak tipis, tulang pipinya juga terlihat jelas. Namun mata itu berkilau, membuatnya teringat pada orang lain.Hanya saja, orang itu indah di segala sisi, sementara Hilda hanya memiliki sedikit kemiripan dalam sorot mata. Hanya dengan sedikit itu saja, sudah cukup untuk membuatnya memilih Hilda."Ayo."Acara pertunangan berlangsung lancar.Hilda dan Eden berkeliling bersulang dengan para tamu.Saat mereka sampai di depan Lunara dan Kayden, pandangan Hilda langsung terpaku pada Kayden, senyumnya menggoda. "Kakak, Kakak Ipar, aku bersulang untuk kalian."Lunara menarik Kayden, berbisik pelan,
Read more