Wajah Kael yang tadinya sedikit melonggar kembali mengeras seperti topeng yang dipasang ulang. Ia melangkah masuk ke teras dengan gerakan tegas, seolah ingin membuktikan bahwa ia bukan sedang mengamati.“Aku baru pulang,” jawabnya pendek, suara datar tapi ada nada defensif yang tak bisa disembunyikan sepenuhnya. “Bukan mengintip. Hanya kebetulan lewat.”Nyonya Maureen tertawa kecil, suaranya renyah dan penuh godaan. “Lewat dua menit sambil diam seperti patung? Kau pikir aku buta, Kael? Duduklah. Jangan berdiri seperti tamu yang tak diundang.”Sabrina pun merasa canggung. Ia bangkit setengah berdiri, nampan teh sudah di tangan, lantas bersiap pamit undur diri. “Saya… saya ke dapur dulu, Nyonya. Saya..”“Duduk lagi, Nak,” potong Nyonya Maureen lembut tapi tegas, tangannya menahan lengan Sabrina pelan. “Biar cucuku ini i
Last Updated : 2026-02-19 Read more