LOGINHidup Sabrina nyaris runtuh akibat satu kesalahan fatal saat ia bekerja lembur malam itu. Terancam kehilangan pekerjaan dan tempat tinggal, ia nekat mencari pertolongan dari Kael Mahendra O’Shea sebagai CEO berkuasa yang dikenal galak dan tak berkompromi. Pertemuan tak terduga itu justru menyeret Sabrina ke dalam kehidupan Kael, memaksa dua dunia yang timpang untuk saling bersinggungan. Dari benci, kecurigaan, dan jarak kelas sosial, perlahan tumbuh ikatan yang tak pernah mereka rencanakan.
View MoreJam dinding di ruang ganti menunjukkan pukul 06.50 pagi. Sabrina sudah berdiri di depan loker, seragam OB-nya rapi seperti biasa. Rambut hitamnya diikat sederhana, wajahnya masih menyisakan lelah yang belum sempat disembunyikan. Ia menarik napas pelan sebelum mendorong troli kebersihan keluar ruangan. Lorong kantor masih lengang. Lampu-lampu menyala terang, memantulkan lantai marmer yang dingin. Bau cairan pembersih menyeruak, bau yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya.“Pagi, Sab.”Rani muncul dari arah pantry, membawa sapu dan ember kecil. Langkahnya santai.“Pagi,” jawab Sabrina sambil terus berjalan.Rani memperhatikannya lebih lama dari biasanya. “Kamu kenapa sih? Mukamu pucat banget.”“Kurang tidur,” jawab Sabrina singkat.“Kamu itu tiap hari kurang tidur,” Rani mendecak. “Tapi hari ini beda. Kayak habis mikir berat. Padahal kemarin ‘kan libur. Harusnya senang dong karena masih bisa kerja lagi.”Sabrina tersenyum tipis. “Iya ya, Ran. Kamu benar juga.”
“Grandma tidak bisa menjadikan empati sebagai standar keputusan.”“Aku sedang tidak berempati,” balas Maureen dengan ketenangan yang kontras. Ia bersandar pada tumpukan bantal, wajahnya pucat pasi, namun binar di matanya menunjukkan bahwa ia belum kehilangan kendali atas hidupnya. “Aku sedang memilih orang yang bisa kupercaya.”Kael mendengus, tawa getir lolos dari bibirnya. “Percaya? Bahkan Grandma baru mengenalnya beberapa jam. Dia hanya seorang Office Boy dari divisi kebersihan kantorku. Kita tidak tahu latar belakangnya, motivasinya, atau apa yang dia incar.” “Dan dalam beberapa jam itu,” potong Maureen, “dia terjaga dua kali saat aku kesakitan. Dia tidak panik. Tidak memanggil-manggilmu. Tidak membuat keributan. Dia duduk di kursi itu,” telunjuknya mengarah ke sudut kamar, “dan tetap di sana sampai aku bisa bernapas normal.”“Aku tetap tidak setuju.” Suara Kael memecah pagi yang masih terlalu sunyi untuk perdebatan. Jasnya sudah rapi, jam tangannya berkilau dingin, s
Sabrina terbangun dengan napas tersentak. Bukan karena mimpi buruk.Melainkan karena tubuhnya tenggelam di sesuatu yang terlalu empuk. Terlalu hangat, terlalu tidak masuk akal untuk hidupnya. Matanya terbuka perlahan. Langit-langit putih bersih dengan ukiran halus. Tirai tebal berwarna gading. Aroma samar yang menenangkan, seperti teh chamomile dan kayu manis. Bukan bau lembap kamar kosnya. Bukan pula bau cairan pembersih yang biasa menempel di seragamnya. Sabrina menegang. Ingatan semalam menghantamnya sekaligus. Rumah besar itu.Tatapan dingin Kael. Dan tubuh rapuh Nyonya Maureen yang terhuyung sambil memegangi dada. Ia menoleh ke samping. Nyonya Maureen tidak ada di ranjang. Jantung Sabrina berdegup lebih cepat. Ia langsung duduk, kaki telanjangnya menyentuh lantai marmer yang dingin. Seragam kebersihan itu masih melekat di tubuhnya. Tampak kusut, tapi utuh. Ia menghela napas lega kecil. Beberapa saat setelahnya pintu kama
Kael terdiam. Rahangnya mengeras, napasnya tertahan sejenak, seolah ia sedang menimbang sesuatu yang jauh lebih berat daripada sekadar keputusan malam ini. Sorot mata abu-abu gelap itu bergerak perlahan dari neneknya ke Sabrina, lalu kembali lagi. Tidak ada empati di sana. Hanya perhitungan yang dingin. Sementara Sabrina masih menunduk. Dadanya naik turun tak beraturan. Ia berdiri di antara sofa mahal dan lampu kristal, merasa seperti noda kecil yang salah tempat. Setiap detik terasa menekan, seolah rumah ini sendiri menolaknya.“Aku tidak mengatakan begitu,” ucap Kael akhirnya. Suaranya rendah, tertahan. “Tapi caramu bertindak seolah aku tidak punya suara di rumah ini, Grandma.” Nyonya Maureen menegakkan tubuhnya dengan bertumpu pada tongkat. Posturnya rapuh, namun wibawanya tetap utuh.“Aku membiarkan gadis ini masuk,” katanya tenang. “Dan aku juga yang bertanggung jawab atas itu.” Kael menghembuskan napas panjang. Ia mengusap wajahnya
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.