Audrey buru-buru masuk ke kamar, menutup pintu rapat-rapat, lalu menyandarkan punggungnya pada daun pintu.Tanpa terasa, air matanya menetes. Kenangan tentang kematian tragis kedua orang tuanya kembali menyeruak, menghantam pertahanan yang selama ini ia bangun dengan susah payah.Namun, ia segera mengangkat tangan, mengusap kasar pipinya, seakan tidak memberi izin pada dirinya sendiri untuk rapuh terlalu lama. Audrey menarik napas panjang, menahannya beberapa detik, lalu menghembuskan nya perlahan, mencoba menenangkan gejolak di dadanya."Jangan bersedih, Audrey. Kau kuat," bisiknya lirih pada diri sendiri, meski suaranya gemetar namun, ia memaksa untuk tegar.Ia kemudian berjalan gontai menuju ranjang, menjatuhkan tubuhnya di atas kasur tanpa tenaga. Tatapannya kosong menatap langit-langit, sementara rasa lelah, baik fisik maupun batin, perlahan menyeretnya ke dalam keheningan yang berat.*Audrey membuka matanya dengan napas terengah-engah. Dadanya naik turun cepat saat ia menyada
Last Updated : 2026-02-26 Read more