Sampai di apartemen, Keenan menarik Aruna ke dalam pelukannya lagi di depan pintu, sebelum mereka benar-benar bersiap untuk konfrontasi terakhir dengan Rio, "Istirahatlah dulu, Aruna. Kamu butuh energi," kata Keenan lembut. "Aku tidak akan bisa tidur, Keenan. Pikiranku terbayang wajah Papa dan Mama," Aruna menatap Keenan dengan mata berkaca-kaca. Keenan mengangkat dagu Aruna, menatap bibirnya yang sedikit bengkak akibat gairah semalam dan tangisan hari ini. Ia kembali mencium Aruna, kali ini lebih lembut, seakan memberikan seluruh kehangatan dan perhatian yang ia miliki ke dalam diri wanita itu. ”Baiklah, biarkan aku menemanimu tidur," bisik Keenan, ia membawa Aruna ke kamar utama. Aruna mengangguk, menyandarkan tubuhnya yang letih pada dada bidang Keenan. Di dalam unit apartemen yang tenang itu, bayang-bayang masa lalu seolah mulai memudar, digantikan oleh kehadiran Keenan yang nyata dan protektif. Namu
Dernière mise à jour : 2026-01-29 Read More