LOGINAruna Zevania Louisa tidak menyangka, ia bekerja di sebuah perusahaan kontrasepsi milik sahabatnya yang juga cinta pertamanya, Keenan Ignazio Arkana. Sayangnya perpisahan mereka saat itu berakhir tidak baik. Kini Keenan bos di kantornya yang tampak selalu menargetkan Aruna hingga permusuhan keduanya diketahui seluruh karyawan kantor. Hingga suatu hari, sebuah perdebatan sengit berujung pada insiden konyol membuat Aruna tanpa sengaja mengetahui rahasia besar Keenan, rahasia yang memalukan sekaligus mengejutkan. “Pak Keenan. Saya tidak percaya anda benar-benar membutuhkan alat ini..” Rahang pria itu mengeras saat perempuan yang ia mati-matian jauhi kini memegang kendalinya. "Jangan kamu pikir kamu mengetahui rahasiaku, kamu bisa menangani ku kalau aku benar-benar lepas kendali?"
View MoreSuara derit kursi kulit di ruangan itu terdengar seperti geraman di telinga Aruna. Di seberang meja, Keenan pria yang beberapa tahun lalu membuangnya seperti sampah kini menatapnya dengan tatapan sedingin es kutub.
"Jelaskan. Kenapa laporan penjualan Kontrasepsi Ultra Thin berantakan?”
Aruna mengepalkan tangannya di bawah meja, menahan kekesalannya setiap kali Keenan memarahinya. "Berantakan? Saya sudah membandingkan dari lima produk kompetitor, Pak Keenan. Ini akal akalan bapak cari kesalahan saya, kan?"
Keenan berdiri dari kursinya. Postur tubuhnya yang menjulang tinggi memancarkan bayangan yang mengintimidasi.
Ia melangkah perlahan mengitari meja, mendekat ke arah Aruna hingga aroma parfum sandalwood dan maskulinitas yang kuat menyerbu indra penciuman wanita itu.
"Memecatmu terlalu mudah, Aruna.." bisik Keenan tepat di samping telinga Aruna, membuat bulu kuduknya meremang.
“Mudah bagaimana, Pak? Saya bukan wanita yang bisa anda buang seperti dulu!” Aruna menatap tajam mata Keenan walaupun tubuhnya kini sedikit bergetar.
“Perbaiki laporanmu!” Keenan meraih map di atas meja lalu memberikannya pada Aruna dengan kesar. “Saya tunggu sebelum jam pulang!” Dengan santai Keenan kembali ke kursinya.
Sementara Aruna menatap punggung Keenan geram. Kalau bukan karena dia adalah bosnya, sepatu hak ini sudah sampai ke pipinya!
**
Perdebatan pagi itu kini berlanjut hingga ke ruang penyimpanan sampel produk baru. Saat Aruna berusaha mengambil kotak prototipe di rak paling atas, ia tidak tahu kalau Keenan berdiri tepat di belakangnya, mengawasi setiap geraknya dengan pandangan menghakimi sekaligus mengejek.
"Biar saya saja. Kamu terlalu pendek," ejek Keenan.
"Aku bisa sendiri! Minggir!" Aruna berjinjit, tangannya menggapai-gapai.
Tiba-tiba, kakinya tersangkut kabel pemanas ruangan yang menjuntai di lantai. Aruna kehilangan keseimbangan.
Secara refleks, ia menarik kemeja Keenan untuk bertahan. Tubuh mereka bertabrakan hebat. Keenan mencoba menyeimbangkan diri, tapi lantai yang licin karena sisa cairan pelumas dari botol yang bocor membuat mereka berdua jatuh tersungkur ke lantai.
Aruna mendarat tepat di atas tubuh kekar Keenan. Napasnya memburu, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah pria itu. Keheningan yang menyesakkan begitu terasa dalam ruangan itu.
Namun, rasa sakit akibat jatuh segera berganti dengan sesuatu yang janggal. Sesuatu yang Aruna rasakan di balik saku celana milik Keenan yang kini terhimpit oleh pahanya.
"Singkirkan tanganmu, Aruna," desis Keenan, wajahnya mendadak pucat. Bukan pucat karena marah, tapi sesuatu yang tampak seperti... Ketakutan.
Aruna, yang masih dalam mode kesal dan emosi, justru merasa ada yang aneh. "Apa ini? Bapak membawa senjata tajam ke kantor, Pak? Untuk melindungi diri dari apa?”
Tanpa berpikir panjang dan didorong rasa penasaran serta sisa amarahnya, Aruna meraba benda keras yang menonjol di saku celana Keenan. Ia mengira itu adalah ponsel atau mungkin alat perekam rahasia.
"Aruna, jangan—-"
SRAK!
Karena posisi mereka yang kikuk, kain saku celana Keenan yang tipis itu justru robek saat Aruna mencoba menarik benda tersebut.
Bukan ponsel.
Bukan senjata.
Sebuah benda silikon medis berbentuk aneh dengan ukiran-ukiran kecil yang sangat spesifik jatuh ke lantai. Aruna terpaku. Sebagai staf di perusahaan kontrasepsi terkemuka, ia tahu persis benda apa itu. Itu adalah alat bantu medis khusus untuk... Masalah fungsi pria yang sangat spesifik dan langka.
Aruna menatap benda itu, lalu menatap wajah Keenan yang kini memerah padam hingga ke telinga. Sang CEO yang dingin, perfeksionis, dan selalu tampak perkasa di depan publik, ternyata menyembunyikan rahasia medis yang bisa menghancurkan reputasi 'kejantanannya' dalam sekejap.
"Jadi..." Aruna berbisik, suaranya bergetar antara syok dan kesadaran akan kartu as yang baru saja jatuh ke tangannya. "Ini alasan bapak selalu menolak kencan dengan para model itu, Pak Keenan?"
Rahang Keenan mengeras. Matanya berkilat tajam, namun kali ini ada permohonan yang tersirat di sana. "Satu kata keluar dari mulutmu, Aruna... Aku pastikan hidupmu berakhir."
Aruna perlahan berdiri, merapikan roknya, lalu tersenyum tipis, senyum pertama yang ia berikan pada Keenan sejak mereka bertemu kembali.
Keenan masih terbaring di lantai, napasnya memburu dengan mata yang terus tertuju pada benda silikon yang kini tergeletak malang di antara mereka. Aruna bisa merasakan adrenalin yang berbeda mengalir di nadinya bukan lagi amarah murni, melainkan sensasi kemenangan yang begitu tidak terduga.
"Ambilkan benda itu," perintah Keenan, suaranya parau, berusaha mengembalikan otoritasnya meski ia masih dalam posisi telentang yang sangat tidak menguntungkan.
Aruna tidak bergerak. Ia justru berjongkok perlahan, meraih benda itu dengan ujung jarinya, lalu memutar-mutarnya di depan cahaya lampu neon yang berkedip.
"Alat bantu sirkulasi pembuluh darah untuk kasus disfungsi tertentu... Wow. Aku ingat membaca jurnalnya bulan lalu, Pak Keenan. Ini teknologi terbaru untuk mereka yang punya masalah 'bangun' karena faktor psikologis atau saraf, kan?"
Grand Ballroom Hotel RC bintang lima malam itu di desain sangat megah malam ini. Cahaya laser berwarna biru safir seakan membelah ruangan, memantul pada instalasi kristal yang menyerupai struktur atom Silk-Graphene. Ratusan investor kelas kakap dari berbagai penjuru dunia, pejabat pemerintahan, hingga kru media internasional memenuhi ruangan dengan setelan formal yang mewah. Di tengah kerumunan, Keenan Arkana berdiri tegak. Ia mengenakan tuksedo hitam custom-made yang membalut tubuh atletisnya dengan sempurna. Aura dominannya terasa begitu pekat, membuat siapa pun segan untuk mendekat. Namun, tatapan matanya yang tajam hanya tertuju pada satu titik, Aruna. Aruna tampak memukau dengan gaun bodycon berwarna perak metalik yang memeluk lekuk tubuhnya dengan anggun terlihat begitu elegan. Rambutnya disanggul modern, memperlihatkan leher jenjangnya yang kini dihiasi kalung berlian. Keenan melangkah mendekat, melingkarkan tangannya di pinggang ramping Aruna dari belakang. Ia menarik
Suasana hangat di balkon Mansion Arkana seketika mendingin setelah mendengar kata-kata Nandi yang menggantung. Keenan berdiri tegak dengan kancing kemeja teratasnya yang terbuka memperlihatkan dada bidang yang masih naik-turun karena gairah yang terinterupsi. Ia menatap Nando dengan mata biru yang berkilat tajam, seolah siap menerkam siapa pun yang berani mengusik ketenangannya setelah seminggu penuh penderitaan di rumah sakit. "Katakan dengan jelas, Nando. Jangan membuang waktuku dengan wajah ragu seperti itu," geram Keenan. Suaranya rendah, bergetar oleh otoritas yang mutlak. Aruna, yang berdiri di sampingnya, masih sibuk mengancingkan kemeja casualnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia bisa merasakan aura dominan Keenan yang kembali memuncak. Keenan, tanpa memalingkan wajah dari Nando, meraih pinggang Aruna dan menariknya merapat ke sisi tubuhnya. Nando menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya. "Ini tentang Tante Sofia, Keenan. Pak Alexander." Alexan
Satu minggu telah berlalu setelah ketegangan di rumah sakit saya itu, pagi ini matahari masuk kedalam kamar melalui cela gorden memberi kesan hangat didalam ruangan VIP rumah sakit yang penuh aroma antiseptik. Aruna berdiri di dekat jendela, melipat beberapa pakaian Stella ke dalam koper kecil. Rambutnya diikat asal-asalan, menyisakan beberapa helai yang jatuh di tengkuknya yang putih. Tanpa ia sadari, sepasang mata biru tajam sedang memperhatikannya dari balik pintu yang terbuka sedikit. Keenan melangkah masuk dengan suara sepatu langkah yang sedikit menggema dilantai. Ia tidak langsung menyapa. Pria itu berjalan mendekat, lalu dengan gerakan posesif yang menjadi ciri khasnya, ia melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Aruna dari belakang. "Sudah selesai berkemas, Sayang?" bisik Keenan tepat di telinga Aruna. Napas panasnya seketika membuat bulu halus Aruna meremang. Aruna sedikit tersentak, namun ia segera menyandarkan punggungnya pada dada bidang Keenan yang terbalut kemej
"Aku tidak peduli," gumam Keenan. Ia membungkam bibir Aruna dengan ciuman yang sangat kasar dan menuntut. Lidahnya masuk dengan paksa, menjelajahi rongga mulut Aruna seolah sedang mengklaim wilayah kekuasaannya.Tangannya merayap masuk ke balik kemeja Keenan, merasakan otot-otot dada suaminya yang mengeras. Sentuhan mereka semakin liar. Tangan Keenan mulai membuka kancing jas lab Aruna, lalu dengan lihai ia menyelinap ke dalam kemeja sutra Aruna, meremas squishy kenyal istrinya itu dengan gemas. Aruna menahan desahan di balik ciuman mereka, kepalanya mendongak saat Keenan mulai menciumi lehernya dengan rakus, meninggalkan jejak-jejak kemerahan yang baru."Sshhh... Keenan... Nanti ada yang lihat," rintih Aruna kecil."Nando tahu apa yang harus dia lakukan. Dia akan menjaga area di sini," bisik Keenan serak. Ia membenamkan wajahnya di antara belahan squishy Aruna, menghirup aroma parfum mawar dan gairah yang menguar dari tubuh istrinya.Di sisi lain ruangan, Nando memang tampak san
Keenan menarik lengan Aruna dengan langkah kaki lebar, menyusuri koridor samping mansion yang remang-remang. Aruna terseok-seok mengikuti, tangannya sibuk memegang kancing kemejanya yang belum sempat dikaitkan sempurna. "Keenan, berhenti! Kita mau ke mana? Ini bukan jalan keluar
Keenan terdiam sejenak. Pelukannya mengerat, bukan lagi pelukan penuh nafsu, tapi pelukan yang penuh kerinduan terpendam. Ia memutar tubuh Aruna kembali, menatap matanya dalam-dalam. ”Karena luka beberapa tahun lalu itu terlalu dalam, Aruna,” suara Keenan melembut namun tetap berat. “Dan satu-s
Keenan berdiri di koridor rumah sakit dengan kemeja hitam yang masih lembap, tidak lama Nando datang membawakannya pakaian ganti untuknya. Di tangannya, Keenan memegang ponsel yang berisi bukti-bukti baru tentang upaya sabotase perusahaan dan pelecehan pada Aruna. "Nando, pastik
Suasana mendadak hening. Keenan menarik napas dalam. Ia menatap Aruna sejenak, seolah meminta izin. Aruna hanya mengangguk pelan, wajahnya merona merah, perpaduan antara malu dan haru bahagia. Yosua, yang tadinya sibuk dengan ponselnya, kini ikut menoleh dengan rasa penasaran."Aruna tidak hanya






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore