Hatiku sedikit tenggelam, muncul rasa jengah. Kenapa dia membuat dirinya menjadi seperti ini?Awalnya aku ingin langsung memutar arah dan pergi, tetapi sepertinya dia mendengar suara langkah kakiku, lalu tiba-tiba menoleh.Rambut dan bahunya basah oleh hujan. Dia terlihat lebih tirus dan terpuruk dibanding terakhir kali kulihat.Pipinya cekung, matanya dipenuhi urat merah, janggut di dagunya semakin panjang dan berantakan. Seluruh dirinya memancarkan kelelahan, keputusasaan, dan bau alkohol yang menyengat.Hanya saja saat melihatku, sepasang mata yang tadinya mati itu tiba-tiba meledak dengan cahaya yang mengerikan."Yola ...." Suaranya serak hingga nyaris pecah. Dia terhuyung-huyung berdiri, hampir saja terjatuh.Aku menghentikan langkahku.Dia menarik sudut bibirnya, mencoba tersenyum, tetapi ekspresinya lebih menyakitkan daripada menangis."Kamu baru selesai buat eksperimen? Sudah malam begini, capek nggak?""Nggak terlalu." Tatapanku melirik kaleng-kaleng kosong di dekat kakinya. "
Read more