LOGINEmran yang sedang perang dingin denganku mengunggah sebuah postingan di media sosial. [ Seratus orang pertama yang like dapat uang karena aku baru putus! ] Dalam sekejap, sudah ada 99 repost dan like. Aku tahu dia sedang menungguku mengalah, seperti sepuluh kali sebelumnya, memohon padanya untuk menghapus postingan itu. Namun kali ini, aku langsung repost dan memberi komentar. [ Aku juga mau! ] Kemudian, aku memblokir semua kontaknya. Tiga hari kemudian, adiknya mengirim pesan. [ Tiket untuk pertunjukan kelulusan Kak Emran sudah disisakan buat kamu. Katanya asal kamu datang, dia mau memaafkanmu. ] Aku melirik tiket pesawat di atas meja, lalu membalas. [ Nggak sempat. ] Aku memang benar-benar tidak sempat, karena aku lulus seleksi dan diterima sebagai mahasiswa pascasarjana di Universitas Bajira. Malam itu juga, aku akan terbang untuk mendaftar ulang. Sejak saat itu, aku dan dia terpisah ribuan kilometer, tak pernah bertemu lagi.
View MoreHatiku sedikit tenggelam, muncul rasa jengah. Kenapa dia membuat dirinya menjadi seperti ini?Awalnya aku ingin langsung memutar arah dan pergi, tetapi sepertinya dia mendengar suara langkah kakiku, lalu tiba-tiba menoleh.Rambut dan bahunya basah oleh hujan. Dia terlihat lebih tirus dan terpuruk dibanding terakhir kali kulihat.Pipinya cekung, matanya dipenuhi urat merah, janggut di dagunya semakin panjang dan berantakan. Seluruh dirinya memancarkan kelelahan, keputusasaan, dan bau alkohol yang menyengat.Hanya saja saat melihatku, sepasang mata yang tadinya mati itu tiba-tiba meledak dengan cahaya yang mengerikan."Yola ...." Suaranya serak hingga nyaris pecah. Dia terhuyung-huyung berdiri, hampir saja terjatuh.Aku menghentikan langkahku.Dia menarik sudut bibirnya, mencoba tersenyum, tetapi ekspresinya lebih menyakitkan daripada menangis."Kamu baru selesai buat eksperimen? Sudah malam begini, capek nggak?""Nggak terlalu." Tatapanku melirik kaleng-kaleng kosong di dekat kakinya. "
Wajahnya kehilangan seluruh warna darah. Bibirnya bergerak beberapa kali, tetapi sulit mengeluarkan suara."Yola ...." Emran bergumam pelan, lalu maju setengah langkah lagi, mengulurkan tangan seakan-akan ingin menyentuhku, tetapi justru membeku di udara."Aku benar-benar sudah sadar aku ini bajingan. Antara aku dan dia nggak ada apa-apa. Setiap hari aku menyesal kenapa aku nggak jujur padamu, kenapa aku sengaja membuatmu marah. Konser itu untuk anniversary ketiga kita. Aku sudah menyiapkan ....""Emran." Aku kembali memotong ucapannya. Kali ini nadaku jelas, tegas, dan tak menyisakan ruang tawar-menawar, sepenuhnya berniat mengusir."Soal urusan masa lalu, entah baik atau buruk, aku nggak ingin membicarakannya lagi. Kebenaran atau kebohongan pun sudah nggak ada hubungannya denganku. Antara kita, semuanya sudah benar-benar berakhir. Tolong jangan datang mencariku lagi. Itu sangat menggangguku."Setelah mengatakan itu, aku tak lagi menoleh pada wajahnya yang seketika memucat atau tubuhn
Musim gugur di Kota Bajira datang dengan cepat. Sejak tiba di Kota Bajira, hidupku pun berubah seperti pergantian musim ini, menjadi lebih jelas dan terang.Kehidupan tahun pertama pascasarjana ternyata lebih sibuk dari yang kubayangkan. Dosen pembimbingku memang tegas, tetapi selalu memisahkan urusan pribadi dan pekerjaan.Selama data eksperimen solid dan alur laporan jelas, dia tidak pernah pelit memberi pengakuan. Hampir seluruh waktuku kuhabiskan di laboratorium dan perpustakaan.Aku juga mulai memiliki lingkaran pergaulan yang baru. Senior-senior satu laboratorium masing-masing punya keanehan sendiri, tetapi kebanyakan tulus dan lugas.Ada seorang kakak kelas bernama Widy yang kepribadiannya blak-blakan. Melihatku selalu sendirian, dia menarikku beberapa kali ke kantin untuk mencoba menu baru, dengan dalih memperbaiki asupan gizi anak penyendiri.Sesekali di akhir pekan, aku akan pergi ke museum bersama Widy atau berjalan-jalan di tepi danau.Kami mengobrol soal perkembangan ekspe
Wajah Nessa langsung pucat. Dia tidak menyangka Emran mengingat semuanya dengan begitu jelas, apalagi menyangka dia akan membongkarnya secara terus terang seperti ini."Kak Emran, aku bukan bermaksud begitu. Aku cuma takut kamu dibohongi sama dia ....""Dibohongi sama dia?" Emran akhirnya duduk tegak, lalu menekan puntung rokok ke asbak dengan gerakan yang penuh amarah."Nessa, kita sudah kenal berapa tahun? Aku selalu menganggapmu sebagai adik, merasa kamu cuma agak keras kepala dan manja. Yola bertengkar denganku sebelas kali, sepuluh kali di antaranya gara-gara kamu. Dulu aku selalu merasa dia berlebihan, merasa kamu itu polos dan nggak punya niat apa-apa."Dia menatap mata Nessa yang semakin lama semakin panik. Kata demi kata keluar dengan jelas dan dingin."Tapi sekarang kalau aku pikir-pikir lagi, ternyata aku memang buta. Setiap kali aku dan dia punya sedikit masalah, kamu selalu muncul di waktu yang tepat. Entah sambil nangis minta aku hibur atau ngomong sesuatu yang bikin dia












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.