LOGINEmran yang sedang perang dingin denganku mengunggah sebuah postingan di media sosial. [ Seratus orang pertama yang like dapat uang karena aku baru putus! ] Dalam sekejap, sudah ada 99 repost dan like. Aku tahu dia sedang menungguku mengalah, seperti sepuluh kali sebelumnya, memohon padanya untuk menghapus postingan itu. Namun kali ini, aku langsung repost dan memberi komentar. [ Aku juga mau! ] Kemudian, aku memblokir semua kontaknya. Tiga hari kemudian, adiknya mengirim pesan. [ Tiket untuk pertunjukan kelulusan Kak Emran sudah disisakan buat kamu. Katanya asal kamu datang, dia mau memaafkanmu. ] Aku melirik tiket pesawat di atas meja, lalu membalas. [ Nggak sempat. ] Aku memang benar-benar tidak sempat, karena aku lulus seleksi dan diterima sebagai mahasiswa pascasarjana di Universitas Bajira. Malam itu juga, aku akan terbang untuk mendaftar ulang. Sejak saat itu, aku dan dia terpisah ribuan kilometer, tak pernah bertemu lagi.
View More“Maawa ka na sa akin! Papasukin mo na ko! Gusto ko lang makita ang asawa ko. Please! Kahit sandali lang!” Frustrated na sigaw ko. Ayoko man na lakasan ang boses ko pero hindi ko mapigil ang emosyon ko.
Nagbabadya na ang luha sa mata ko habang nasa tapat ng bakal na gate nang ayaw akong papasukin ni Pinky na isa sa kasambahay dito sa mansion ng asawa kong Tristan.
“Senyorita Ava naman, este Ava. Hindi na kita tatawaging ‘ma’am at tutal ay pinalayas ka na naman ni Senyorito Tristan at makikipaghiwalay na siya sa’yo, huh?” Pinameywangan ako ni Pinky. “Ang kulit mo naman, eh. Sinabi nang wala dito si Senyorito. Pwede ba umalis ka na!? Dahil mahigpit na mahigpit na bilin sa aming lahat dito ay ‘wag na ‘wag kang papasukin. Ayokong pati ako ay mapalayas dito!”
Nabigla ako sa narinig mula sa babae. Napahigpit tuloy ang kapit ko sa rails ng gate. Doon ko binuhos ang hinanakit sa narinig mula kay Pinky. Hindi kayang tanggapin ng tainga ko ang salitang hiwalayan.
No! Walang hiwalayan na magaganap!
Hindi totoo ang sinasabi ni Pinky. Mahal na mahal ako ng asawa ko. Hindi nito kayang hiwalayan ako.
Kailangan lang namin na makapag-usap ng asawa ko. Malulutas pa namin ang gusot sa pagitan naming mag-asawa. Wala akong kasalanan. Na-set up lang ako! Hindi ako nagtaksil.
Umiling ako. “No, hindi makikipaghiwalay sa akin si Tristan.” Matigas kong sabi kay Pinky.
Natawa ng pagak ang babae sa akin. Tapos ay ito naman ang umiling at pumapalatak pa. Halatang nang-uuyam. Talagang hindi ako nito gusto kahit dati pa na nakatira ako dito. Hindi mo alam kung inggit o ano, dahil ang katulad kong hindi naman mayaman at hamak na secretary lamang ni Tristan ay naging asawa ng lalaki.
Langit at lupa ang agwat namin ni Tristan, dahil kabilang lang naman ito sa pinakamayaman na angkan dito sa Pilipinas samantalang ako ay hamak nitong empleyado dati. Isang secretary.
“Wala ka nang gamit dito dahil lahat ay pinasunog na ni Senyorito! Nasusuklam na siya sa'yo—”
Pero hindi na natapos ni Pinky ang sinasabi nito dahil sa malakas na busina ng sasakyan at doon na-focus sa may likod ko ang tingin ni Pinky. Napalingon tuloy ako at parang may kabayong naghabulan sa dibdib ko nang makita ang pamilyar na kotse.
“Mahal?” usal ko.
Isang malakas na busina pa ang narinig ko sa sasakyan. Tila matinding hampas ang ginawa ng driver ng nasa loob sa busina ng sasakyan dahil kulang na lang ay umabot sa highway ang ingay mula sa busina. Sigurado akong si Tristan ang nakaharap sa manibela.
“Tumabi ka d’yan, Ava! Bubuksan ko ang gate!” Sigaw ni Pinky.
Hindi ko pinansin ang kasambahay. Bumitaw ako sa pagkakahawak ko sa gate at humarap kung nasaan ang kotse ni Tristan.
Nanginginig ang tuhod ko dahil sa kaba. Para akong matutumba pero hindi ako nagpatalo sa panginingig. Inayos ko ang tayo at tumingin lang sa tinted na windshield doon sa alam kong kung saan nakaupo si Tristan.
Maraming busina pa ang narinig ko. Halatang gigil sa pagpindot si Tristan pero hindi ako nagpatinag. Narinig ko rin ang tunog ng pagbubukas ng gate. Pero wala akong pakialam kay Pinky kahit sigawan ako nito at nakaharang ako.
Hanggang sa ilang busina pa ng sasakyan ay lumabas sa sasakyan ang lalaking ine-expect ko.
Nakagat ko ang ibabang labi sandali. Kung anong klaseng tingin ang nakita ko sa mata ni Tristan nang huli kaming magkita ay gano’n pa rin ngayon ang tingin niya sa akin. Matalim na tingin na parang kutsilyong tumatarak sa akin. Ang sakit. Hindi ko akalain na hahantong kami sa ganito.
“What are you doing here!?” Galit na tanong agad ni Tristan matapos pabalibag na sinara ang pinto ng sasakyan niya at lumapit sa akin. Ilang hakbang ang layo niya sa akin. Halatang ayaw akong dikitan.
Hindi ako nakasalita. Napatingin ako sa gwapong mukha ng asawa ko. Halata ang panlalalim ng mata niya. Halatang puyat siya.
“Get out of my sight! Umalis kang babae ka ngayon din kung ayaw mong kaladkarin pa kita!”
Doon na kusang tumulo ang luha ko.
“M-mahal… just let me explain—”
“We’re done, Ava! Consider yourself dead to me! Ayoko nang makita ang pagmumukha o kahit ang anino mo kahit kailan! I swear, isang beses na makita ko pa ang mukha mo buong pamilya mo ang madadamay dahil sa pagtataksil mo! Don’t try me, Avajell. Just don’t try me!”
Hatiku sedikit tenggelam, muncul rasa jengah. Kenapa dia membuat dirinya menjadi seperti ini?Awalnya aku ingin langsung memutar arah dan pergi, tetapi sepertinya dia mendengar suara langkah kakiku, lalu tiba-tiba menoleh.Rambut dan bahunya basah oleh hujan. Dia terlihat lebih tirus dan terpuruk dibanding terakhir kali kulihat.Pipinya cekung, matanya dipenuhi urat merah, janggut di dagunya semakin panjang dan berantakan. Seluruh dirinya memancarkan kelelahan, keputusasaan, dan bau alkohol yang menyengat.Hanya saja saat melihatku, sepasang mata yang tadinya mati itu tiba-tiba meledak dengan cahaya yang mengerikan."Yola ...." Suaranya serak hingga nyaris pecah. Dia terhuyung-huyung berdiri, hampir saja terjatuh.Aku menghentikan langkahku.Dia menarik sudut bibirnya, mencoba tersenyum, tetapi ekspresinya lebih menyakitkan daripada menangis."Kamu baru selesai buat eksperimen? Sudah malam begini, capek nggak?""Nggak terlalu." Tatapanku melirik kaleng-kaleng kosong di dekat kakinya. "
Wajahnya kehilangan seluruh warna darah. Bibirnya bergerak beberapa kali, tetapi sulit mengeluarkan suara."Yola ...." Emran bergumam pelan, lalu maju setengah langkah lagi, mengulurkan tangan seakan-akan ingin menyentuhku, tetapi justru membeku di udara."Aku benar-benar sudah sadar aku ini bajingan. Antara aku dan dia nggak ada apa-apa. Setiap hari aku menyesal kenapa aku nggak jujur padamu, kenapa aku sengaja membuatmu marah. Konser itu untuk anniversary ketiga kita. Aku sudah menyiapkan ....""Emran." Aku kembali memotong ucapannya. Kali ini nadaku jelas, tegas, dan tak menyisakan ruang tawar-menawar, sepenuhnya berniat mengusir."Soal urusan masa lalu, entah baik atau buruk, aku nggak ingin membicarakannya lagi. Kebenaran atau kebohongan pun sudah nggak ada hubungannya denganku. Antara kita, semuanya sudah benar-benar berakhir. Tolong jangan datang mencariku lagi. Itu sangat menggangguku."Setelah mengatakan itu, aku tak lagi menoleh pada wajahnya yang seketika memucat atau tubuhn
Musim gugur di Kota Bajira datang dengan cepat. Sejak tiba di Kota Bajira, hidupku pun berubah seperti pergantian musim ini, menjadi lebih jelas dan terang.Kehidupan tahun pertama pascasarjana ternyata lebih sibuk dari yang kubayangkan. Dosen pembimbingku memang tegas, tetapi selalu memisahkan urusan pribadi dan pekerjaan.Selama data eksperimen solid dan alur laporan jelas, dia tidak pernah pelit memberi pengakuan. Hampir seluruh waktuku kuhabiskan di laboratorium dan perpustakaan.Aku juga mulai memiliki lingkaran pergaulan yang baru. Senior-senior satu laboratorium masing-masing punya keanehan sendiri, tetapi kebanyakan tulus dan lugas.Ada seorang kakak kelas bernama Widy yang kepribadiannya blak-blakan. Melihatku selalu sendirian, dia menarikku beberapa kali ke kantin untuk mencoba menu baru, dengan dalih memperbaiki asupan gizi anak penyendiri.Sesekali di akhir pekan, aku akan pergi ke museum bersama Widy atau berjalan-jalan di tepi danau.Kami mengobrol soal perkembangan ekspe
Wajah Nessa langsung pucat. Dia tidak menyangka Emran mengingat semuanya dengan begitu jelas, apalagi menyangka dia akan membongkarnya secara terus terang seperti ini."Kak Emran, aku bukan bermaksud begitu. Aku cuma takut kamu dibohongi sama dia ....""Dibohongi sama dia?" Emran akhirnya duduk tegak, lalu menekan puntung rokok ke asbak dengan gerakan yang penuh amarah."Nessa, kita sudah kenal berapa tahun? Aku selalu menganggapmu sebagai adik, merasa kamu cuma agak keras kepala dan manja. Yola bertengkar denganku sebelas kali, sepuluh kali di antaranya gara-gara kamu. Dulu aku selalu merasa dia berlebihan, merasa kamu itu polos dan nggak punya niat apa-apa."Dia menatap mata Nessa yang semakin lama semakin panik. Kata demi kata keluar dengan jelas dan dingin."Tapi sekarang kalau aku pikir-pikir lagi, ternyata aku memang buta. Setiap kali aku dan dia punya sedikit masalah, kamu selalu muncul di waktu yang tepat. Entah sambil nangis minta aku hibur atau ngomong sesuatu yang bikin dia












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews