Se connecterEmran yang sedang perang dingin denganku mengunggah sebuah postingan di media sosial. [ Seratus orang pertama yang like dapat uang karena aku baru putus! ] Dalam sekejap, sudah ada 99 repost dan like. Aku tahu dia sedang menungguku mengalah, seperti sepuluh kali sebelumnya, memohon padanya untuk menghapus postingan itu. Namun kali ini, aku langsung repost dan memberi komentar. [ Aku juga mau! ] Kemudian, aku memblokir semua kontaknya. Tiga hari kemudian, adiknya mengirim pesan. [ Tiket untuk pertunjukan kelulusan Kak Emran sudah disisakan buat kamu. Katanya asal kamu datang, dia mau memaafkanmu. ] Aku melirik tiket pesawat di atas meja, lalu membalas. [ Nggak sempat. ] Aku memang benar-benar tidak sempat, karena aku lulus seleksi dan diterima sebagai mahasiswa pascasarjana di Universitas Bajira. Malam itu juga, aku akan terbang untuk mendaftar ulang. Sejak saat itu, aku dan dia terpisah ribuan kilometer, tak pernah bertemu lagi.
Voir plus“Ah…”
Suara perempuan itu bergetar tertahan di sela napasnya, “Jangan terlalu keras.” “Mmhh… jangan di sini…” ujarnya mendorong dada bidangnya dengan gemetar. “Kalau ada yang lihat—” “Tidak akan ada yang melihat,” potong Aiden cepat, tatapannya membakar. “Kamar mandi ini masih tertutup. Aku sudah menahan diri seharian.” Lengan kokohnya melingkari pinggangnya, menariknya lebih dekat, seakan takut ia terlepas. “Tapi… sebentar lagi pertunanganmu..” bisiknya nyaris tak terdengar. Aiden menahan napasnya, lalu dengan lirih penuh hasrat berkata, “Kalau begitu, kita lanjutkan nanti.” Wajah perempuan itu menegang, bibirnya bergetar. “Bagaimana dengan Audrey…?” Tatapan Aiden mengeras, dalam dan tajam. “Jangan sampai dia tahu.” Gaun putih gading itu masih melekat di tubuh Audrey saat ia membuka pintu kamar mandi hotel. Detik berikutnya, dunianya runtuh. Calon tunangannya—laki-laki yang beberapa jam lagi akan melingkarkan cincin di jarinya—tengah menindih perempuan lain. Perempuan itu bukan orang asing. Atasan kantornya sendiri, wanita yang selalu menepuk bahunya tiap kali lembur. Darahnya beku. Tenggorokannya kering. Audrey hanya mampu berdiri, menatap tubuh yang berjerit nikmat, seakan seluruh janji yang pernah diucapkan padanya hanyalah lelucon murahan. Ia mundur tergesa, tumit sepatunya beradu lantai marmer, lalu berlari. Air mata tumpah, menghapus riasan sempurna yang baru saja dipoleskan perias. Beberapa gelas alkohol kemudian, Audrey sudah tidak peduli pada pesta pertunangan yang tinggal hitungan menit. Bar hotel menjadi pelariannya. Ia meneguk minuman hingga kepalanya ringan, hingga hatinya sedikit tumpul. Rasa sakitnya tetap ada, tapi kini bercampur dengan keberanian bodoh yang tidak biasanya. Langkahnya oleng saat meninggalkan bar. Ia menubruk dinding koridor, hampir jatuh, ketika sebuah tangan kuat meraih lengannya. “Hat-hati,” suara berat itu menahan. Audrey mendongak. Matanya kabur oleh air mata dan alkohol, tapi sosok di depannya membuatnya membeku. Pria dewasa dengan wajah tegas, tatapan dingin yang entah kenapa terasa hangat untuknya. “Aku… aku baik-baik saja,” katanya terbata. Tangannya tetap menahan di pinggang Audrey, membuat gadis itu mendengus frustrasi tapi tak sanggup mendorong. “Jangan buru-buru. Ballroom ini masih luas untukmu bebas.” Ia tertawa getir, suaranya serak. “Hari ini aku seharusnya bertunangan.” Pria itu mengerutkan alis, namun tidak menyela. Ia hanya menunggu. “Dan aku mendapati dia… calon suamiku… bercinta dengan bosku sendiri di kamar mandi hotel ini.” Suaranya pecah. Mata Audrey kembali panas. “Lucu sekali.” Sunyi sesaat. Mungkin laki-laki itu enggan menyahut perempuan patah hati. Jadi dia hanya menatapnya datar. Ia menoleh, menatap wajah di dekatnya. Ada garis tegas di rahang, ada mata dalam yang terasa berbeda dari laki-laki seumurannya. Alkohol membuatnya berani. “Kamu ganteng…” “Tapi…” ada jeda sebentar. “Kamu mirip calon tunanganku. Tapi masih kerenan kamu.” Degup jantung Audrey kian liar. Kata-kata itu, sikap itu, semuanya seperti cambuk yang memecahkan dinding pertahanannya. Tubuhnya condong tanpa sadar. “Kamu mau tidur samaku nggak?” suaranya lirih, hampir seperti permohonan. Ia tidak menjawab, hanya membiarkan Audrey merebah di bahunya. Hangat tubuhnya menyelimuti, aroma maskulin yang samar menusuk ke indera. Alkohol berputar di kepalanya, membuat imajinasinya kian tak terkendali. Ia membayangkan bagaimana rasanya jika pria ini yang menggantikan, pria asing yang bahkan lebih membuatnya merasa aman ketimbang tunangannya sendiri. Kalimat itu bagai api kecil yang menyulut. Tanpa sadar Audrey menggenggam lengan kemeja pria itu lebih erat, mendekatkan tubuhnya. Dadanya bergemuruh. Pipinya panas. Ia tahu ini salah, tapi rasa sakit bercampur mabuk membuatnya ingin melupakan segalanya. “Kalau… aku minta kamu tidur denganku, apa kamu mau?” suaranya bergetar, nyaris seperti rayuan. Pria itu menatapnya lama. Rahangnya mengeras, namun ia tetap tidak melepaskan pegangan. Napasnya memburu. Jarak wajah mereka hanya tinggal beberapa jengkal. Ia menutup mata sejenak, seolah menunggu sesuatu yang terlarang terjadi. Namun yang ada hanya genggaman di pinggangnya yang tetap kokoh, menahan agar ia tidak terjatuh. Tidak lebih. Audrey menatap mata pria asing itu lebih lama dari seharusnya. Alkohol masih berputar di kepalanya, tapi keinginan liar yang menyeruak begitu nyata. Nafasnya terengah, tubuhnya condong tanpa ia sadari. Bibirnya nyaris menyentuh rahang keras pria itu, lalu dalam sekejap ia berani—ia menempelkan ciuman basah di bibirnya. Pria asing itu terkejut, seketika memegang kedua bahunya dan berusaha menjauh. “Hei… kamu mabuk,” suaranya dalam, menahan, namun napasnya sendiri sudah mulai memburu. “Aku tahu…” Audrey berbisik, bibirnya kembali mencari. “Tapi aku mau kamu.” Lelaki itu menutup mata, rahangnya menegang, tubuh normalnya bereaksi meski kepalanya mencoba menolak. “Kamu yakin? Jangan sampai menyesal.” “Aku yakin.” Audrey menatapnya lurus, mata berkaca namun penuh keberanian bodoh. “Aku ingin kamu, malam ini, sekarang.” Itu saja sudah cukup memecahkan pertahanan terakhirnya. Pria itu mendengus kasar, lalu tanpa kata lagi, ia meraih pinggang Audrey lebih erat dan menarik tubuhnya ke dadanya. Ciuman berikutnya bukan lagi ciuman Audrey seorang, tapi juga balasan liar darinya—panas, dalam, dan membakar. Audrey mendesah di sela ciuman, jemarinya meremas kemeja lelaki itu seolah takut ia pergi. Ia tidak pergi. Justru sebaliknya. Dengan gerakan mantap, ia membopong Audrey ke kamarnya. Pintu terhentak tertutup, dan tubuh Audrey langsung ditekan lembut ke ranjang empuk. Tatapan mereka bertemu sesaat, lalu pria itu meraih bibirnya lagi, kali ini lebih menggebu. Satu per satu, pakaian menjadi hambatan yang terlepas begitu saja. Audrey hampir lupa siapa dirinya, siapa lelaki ini. Yang ada hanya rasa hangat kulit ke kulit, desahan yang memenuhi kamar hotel, dan pelukan eratnya saat benteng pertahanan Audrey akhirnya benar-benar dibobol. Tangannya menggenggam lengan kokoh itu erat, tubuhnya berguncang dengan setiap tarikan napas. Air mata yang tadi jatuh kini bercampur dengan desahan. Malam itu, Audrey menyerahkan seluruh dirinya pada pria asing yang bahkan namanya belum diketahui, tapi lebih membuatnya merasa hidup daripada calon tunangannya sendiri. Namun di tengah keintiman yang membakar itu, ponselnya di meja samping ranjang tiba-tiba berdering nyaring. Audrey refleks menoleh, matanya terbelalak. Nama yang muncul di layar membuat darahnya seakan berhenti mengalir. ‘Aiden.’ ***Hatiku sedikit tenggelam, muncul rasa jengah. Kenapa dia membuat dirinya menjadi seperti ini?Awalnya aku ingin langsung memutar arah dan pergi, tetapi sepertinya dia mendengar suara langkah kakiku, lalu tiba-tiba menoleh.Rambut dan bahunya basah oleh hujan. Dia terlihat lebih tirus dan terpuruk dibanding terakhir kali kulihat.Pipinya cekung, matanya dipenuhi urat merah, janggut di dagunya semakin panjang dan berantakan. Seluruh dirinya memancarkan kelelahan, keputusasaan, dan bau alkohol yang menyengat.Hanya saja saat melihatku, sepasang mata yang tadinya mati itu tiba-tiba meledak dengan cahaya yang mengerikan."Yola ...." Suaranya serak hingga nyaris pecah. Dia terhuyung-huyung berdiri, hampir saja terjatuh.Aku menghentikan langkahku.Dia menarik sudut bibirnya, mencoba tersenyum, tetapi ekspresinya lebih menyakitkan daripada menangis."Kamu baru selesai buat eksperimen? Sudah malam begini, capek nggak?""Nggak terlalu." Tatapanku melirik kaleng-kaleng kosong di dekat kakinya. "
Wajahnya kehilangan seluruh warna darah. Bibirnya bergerak beberapa kali, tetapi sulit mengeluarkan suara."Yola ...." Emran bergumam pelan, lalu maju setengah langkah lagi, mengulurkan tangan seakan-akan ingin menyentuhku, tetapi justru membeku di udara."Aku benar-benar sudah sadar aku ini bajingan. Antara aku dan dia nggak ada apa-apa. Setiap hari aku menyesal kenapa aku nggak jujur padamu, kenapa aku sengaja membuatmu marah. Konser itu untuk anniversary ketiga kita. Aku sudah menyiapkan ....""Emran." Aku kembali memotong ucapannya. Kali ini nadaku jelas, tegas, dan tak menyisakan ruang tawar-menawar, sepenuhnya berniat mengusir."Soal urusan masa lalu, entah baik atau buruk, aku nggak ingin membicarakannya lagi. Kebenaran atau kebohongan pun sudah nggak ada hubungannya denganku. Antara kita, semuanya sudah benar-benar berakhir. Tolong jangan datang mencariku lagi. Itu sangat menggangguku."Setelah mengatakan itu, aku tak lagi menoleh pada wajahnya yang seketika memucat atau tubuhn
Musim gugur di Kota Bajira datang dengan cepat. Sejak tiba di Kota Bajira, hidupku pun berubah seperti pergantian musim ini, menjadi lebih jelas dan terang.Kehidupan tahun pertama pascasarjana ternyata lebih sibuk dari yang kubayangkan. Dosen pembimbingku memang tegas, tetapi selalu memisahkan urusan pribadi dan pekerjaan.Selama data eksperimen solid dan alur laporan jelas, dia tidak pernah pelit memberi pengakuan. Hampir seluruh waktuku kuhabiskan di laboratorium dan perpustakaan.Aku juga mulai memiliki lingkaran pergaulan yang baru. Senior-senior satu laboratorium masing-masing punya keanehan sendiri, tetapi kebanyakan tulus dan lugas.Ada seorang kakak kelas bernama Widy yang kepribadiannya blak-blakan. Melihatku selalu sendirian, dia menarikku beberapa kali ke kantin untuk mencoba menu baru, dengan dalih memperbaiki asupan gizi anak penyendiri.Sesekali di akhir pekan, aku akan pergi ke museum bersama Widy atau berjalan-jalan di tepi danau.Kami mengobrol soal perkembangan ekspe
Wajah Nessa langsung pucat. Dia tidak menyangka Emran mengingat semuanya dengan begitu jelas, apalagi menyangka dia akan membongkarnya secara terus terang seperti ini."Kak Emran, aku bukan bermaksud begitu. Aku cuma takut kamu dibohongi sama dia ....""Dibohongi sama dia?" Emran akhirnya duduk tegak, lalu menekan puntung rokok ke asbak dengan gerakan yang penuh amarah."Nessa, kita sudah kenal berapa tahun? Aku selalu menganggapmu sebagai adik, merasa kamu cuma agak keras kepala dan manja. Yola bertengkar denganku sebelas kali, sepuluh kali di antaranya gara-gara kamu. Dulu aku selalu merasa dia berlebihan, merasa kamu itu polos dan nggak punya niat apa-apa."Dia menatap mata Nessa yang semakin lama semakin panik. Kata demi kata keluar dengan jelas dan dingin."Tapi sekarang kalau aku pikir-pikir lagi, ternyata aku memang buta. Setiap kali aku dan dia punya sedikit masalah, kamu selalu muncul di waktu yang tepat. Entah sambil nangis minta aku hibur atau ngomong sesuatu yang bikin dia






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentaires