Dia mengenakan gaun kuning muda, tersenyum, lalu menyerbu ke depan dan menepuk bahu Emran."Kak Emran!"Baru setelah itu dia melihatku. Pandangannya berputar di wajahku sejenak, lalu dia tersenyum sambil bertanya, "Jadi ini pacarmu? Kelihatannya cukup pendiam.""Dan juga, baju ini kelihatannya kok agak ...." Dia terkekeh pelan. Ejekan di matanya tampak jelas.Aku menunduk, mengusap ujung bajuku, meremasnya sampai kusut. Wajahku memanas sampai terasa terbakar.Gaun itu harganya ratusan ribu. Kalau dibandingkan dengan merek terkenal yang dikenakannya, memang terlihat terlalu murahan.Emran dengan alami menarikkan kursi untuknya, lalu bertanya kenapa dia tiba-tiba datang. Dia bilang suasana hatinya sedang buruk, bertengkar dengan teman sekamarnya.Sore itu sebenarnya aku dan Emran sudah janjian pergi melihat pameran. Namun, setelah mendengar keluhan Nessa, dia menoleh padaku sambil berkata, "Pamerannya lain kali saja. Aku temani Nessa jalan-jalan dulu, biar mood-nya lebih bagus."Aku tert
Read more