Tiket sekali jalan.Tiga kata itu terasa seperti menghantam jantung Arthur, membuat rongga dadanya menegang hingga napasnya ikut terasa berat.Informasi penerbangan yang singkat di layar kini bagai paku es. Menancapkan kegelisahan samar menjadi ketakutan yang nyata.Naomi memang tidak berniat kembali.“Pak,” Arthur menekan gejolak di tenggorokannya, suaranya lebih rendah dari biasanya, “Tolong pesankan satu tiket ke Malanga sekarang.”Dia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Secepat mungkin.”“Baik, segera saya urus,” jawabnya cepat. Namun telepon di seberang sana tak segera ditutup.Dengung sambungan terdengar menusuk di ruang tamu yang sunyi. Seolah ada kata-kata yang tertahan, tapi hampir terucap.Alis Arthur berkerut, “Ada lagi?”Kepala pelayan itu menarik napas dalam dan akhirnya memantapkan diri. Suaranya begitu rendah, lebih berhati-hati dari biasanya, “Pak, mohon maaf jika saya lancang.”“Namun ...”Dia berhenti setengah detik sebelum melanjutkan dengan hati-hati, “Pak Arthur t
อ่านเพิ่มเติม