Short
Kabut Sirna, Fajar Menyingsing

Kabut Sirna, Fajar Menyingsing

By:  LilianCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
24Chapters
3.4Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Naomi Elowen diam-diam mencintai Arthur Pradana selama lima tahun penuh. Demi pria itu, dia bertahan di kota yang jauh dari kampung halamannya, menukar masa muda dengan kesetiaan yang tak pernah benar-benar dibalas. Ketika tunangan Arthur kabur dari pernikahan mereka, Naomi melangkah maju tanpa ragu, menerima cincin pertunangan yang seharusnya bukan miliknya. Sejak awal dia tahu bahwa Arthur tidak pernah mencintainya. Di hari pernikahan mereka, Nadine Ravelly mengucapkan satu kalimat, “Dadaku sakit,” Arthur langsung meninggalkannya dan bergegas menemui wanita lain. Semua orang menertawakannya karena bergantung pada Arthur seperti tanaman merambat. Mereka menertawakannya karena dia mencintai sepenuh hati dan keras kepala. Bahkan Naomi sendiri pernah mempercayai itu. Namun bahkan cinta yang terdalam sekalipun, apabila terus diabaikan, diremehkan, dan ditempatkan sebagai pilihan terakhir, pada akhirnya akan memudar perlahan. Dan ketika Arthur akhirnya menoleh kembali ke belakang, wanita yang pernah memberikan seluruh hati dan cinta kepadanya, telah menghilang bersama angin dan tak pernah kembali lagi.

View More

Chapter 1

Bab 1

"Bu .... Aku tidak jadi menikah."

Angin malam berhembus melalui gaun pengantin yang robek saat Naomi Elowen berjalan tanpa alas kaki di jalanan yang lengang. Ujung gaunnya menyeret debu. Ada keheningan sesaat di ujung telepon, lalu suara bergetar yang dipenuhi ketidakpercayaan sekaligus rasa sakit itu terdengar, "Ada apa? Bukankah kamu mencintai Arthur selama lima tahun penuh? Kami semua sudah menasihatimu, tapi kamu tidak pernah mau mendengarkan. Kamu bilang tidak bisa hidup tanpanya, sampai-sampai harus pergi sendirian ke kota yang jaraknya ribuan kilometer dari rumah hanya untuk menikah dengannya.”

"Apakah Arthur membuatmu menderita?"

Tenggorokan Naomi tercekat. Air mata mengalir deras di wajahnya tanpa terkendali.

Dia salah. Salah karena keras kepala dan mengabaikan nasihat orang tuanya.

Salah karena menyia-nyiakan masa mudanya untuk seseorang yang akan meninggalkannya bahkan di hari pernikahan mereka demi cinta pertamanya.

Untungnya, pernikahan itu belum terjadi. Mereka bahkan belum mengesahkan buku nikah mereka.

"Bu," Naomi menarik napas dalam-dalam menghirup udara sejuk, "Aku akan pulang minggu depan setelah membereskan semuanya di sini."

Tengah malam itu, dia pulang ke rumah yang ditempati dirinya bersama Arthur sambil mengemasi barang-barangnya.

Arthur baru pulang keesokan paginya.

Dia meletakkan sarapan dari restoran bintang lima di atas meja, "Pecernaanmu sedang terganggu, kamu tidak boleh selalu melewatkan sarapan."

Naomi menatapnya tenang.

Sebelum hari pernikahan, dirinya dilanda kecemasan hingga mengalami masalah pencernaan.

Dia sudah berkali-kali mengatakan kepada Arthur bahwa dokter baru-baru ini mengganti obatnya yang menyebabkan dirinya tidak bisa sarapan lagi.

Setiap kali dia selalu mengiyakannya, tetapi tidak pernah benar-benar mengingatnya.

Arthur Pradana. Dia selalu seperti ini. Tampak seperti pria yang lembut dan penuh perhatian.

Namun sikap penuh perhatian itu seolah berada di balik kubah kaca. Terlihat, tapi tak tersentuh.

Dia tidak pernah benar-benar memperhatikannya.

Seperti halnya sekarang, dia bahkan tidak menyadari koper dan box-box yang sudah dikemas memenuhi ruang tamu.

"Aku tahu kamu kesal karena aku meninggalkan pesta pernikahan kemarin," Arthur melangkah dua langkah lebih dekat, sikapnya tenang seraya melanjutkan, "Tapi Nadine tiba-tiba sakit, dia baru pulang dari luar negeri dan sendirian. Aku tidak bisa meninggalkannya."

"Kita pilih tanggal lain saja ya, lalu kita gelar pesta pernikahan yang lebih mewah lagi."

Sambil berbicara, Arthur mencoba menghubungi perencana pernikahan, tetapi teralihkan oleh dering teleponnya.

Sebuah isakan lembut terdengar di ujung telepon. Suara Nadine terdengar halus dan lemah, "Arthur, kamu ke mana?"

"Aku sangat takut sendirian di rumah sakit. Lukaku sakit sekali ...."

"Apakah kamu bisa datang dan menemaniku?"

Punggung Arthur langsung menegang, "Apa kata dokter? Apa ada hal lain yang mengganggumu?"

Ada keheningan sesaat di ujung telepon, lalu tawa manis, "Menyebalkan! Aku baik-baik saja. Aku hanya ingin kamu datang dan menemaniku di sini."

"Hatiku terasa hampa tanpamu."

Arthur menatap Naomi sesaat, kemudian mengerutkan kening. Dia tampak ragu sejenak sebelum akhirnya berbicara. Suaranya begitu lembut hingga bisa meluluhkan hati, "Aku akan segera ke sana."

Setelah menutup telepon, dia melangkah pergi dengan kaki panjangnya tanpa belas rasa, "Kamu makan dulu, Nadine membutuhkanku."

Dia mengatakannya dan berbalik pergi.

Naomi berdiri membeku di sana.

Amarah yang seharusnya berkobar karena sikap Arthur pada dirinya telah lama mereda akibat kekecewaan berulang. Kini akhirnya berubah menjadi mati rasa.

Lagipula, Arthur memang selalu mencintai Nadine.

Pada orientasi mahasiswa baru, Arthur menjadi perwakilan mahasiswa untuk menyampaikan pidato. Tanpa catatan sama sekali, dia bisa dengan lancar berganti-ganti bahasa dalam pidatonya.

Pembawaannya yang tenang dan suaranya yang lembut dengan mudah memikat seluruh hadirin.

Naomi, yang duduk di antara kerumunan juga menyaksikan sosok yang mempesona di atas panggung. Jantungnya berdebar kencang.

Namun tak lama kemudian, seluruh sekolah tahu bahwa Arthur mencintai Nadine. Dia mencintainya sampai gila.

Dia menggunakan 3.000 drone untuk menyatakan cintanya kepada Nadine larut malam di lapangan olahraga, langit dipenuhi pola seperti galaksi yang luas.

Dia bahkan meminta Naomi, teman sekamar Nadine, untuk membantu mengantarkan bunga dan kue kepada Nadine.

Ketika Nadine dengan santai menyebutkan ingin merayakan ulang tahunnya di Prancis Selatan, Arthur langsung mengatur jet pribadi untuk menemaninya ke sana.

Forum kampus langsung heboh. Naomi mendapatkan sebuah fakta dari desas-desus yang berdedar: Ternyata Keluarga Pradana dan Keluarga Ravelly adalah kerabat dekat.

Para tetua dari kedua keluarga sudah menjodohkan mereka bahkan ketika usia mereka baru menginjak 100 hari.

Bagi orang luar, mereka berdua adalah pasangan yang ditakdirkan.

Namun, Nadine sama sekali tidak tertarik dengan pernikahan yang diatur seperti ini. Secara pribadi, dia pernah beberapa kali mengeluh kepada Naomi, "Aku masih kuliah, belum mulai menikmati kehidupan. Masa sudah harus terikat dengan pertunangan?"

Dia bahkan setengah bercanda mencoba menjodohkan Naomi dan Arthur. Tentu hanya untuk ditolak mentah-mentah oleh Arthur.

Menjelang kelulusan, kedua keluarga mempersiapkan pesta pertunangan.

Namun pada hari pertunangan, Nadine melarikan diri. Dia terbang ke luar negeri tanpa sepatah kata pun, menghilang tanpa jejak.

Membuat para tamu dan media tercengang.

Itulah pertama kalinya Arthur benar-benar marah karena Nadine. Dia menemui Naomi dan berkata dengan ekspresi tenangnya, "Bukankah Nadine ingin kita bersama?"

"Kalau begitu mari kita bersama."

Dia terdiam sejenak, lalu menambahkan pernyataan yang secara rasional kejam itu,

"Aku tidak punya perasaan padamu, tapi aku akan menghormatimu, bersikap dewasa, bertanggung jawab … aku tidak akan pergi begitu saja sepertinya."

Naomi terdiam lama, tetapi akhirnya mengangguk.

Itulah sebabnya, dia tinggal di kota yang jauh dari kampung halamannya untuk mewujudkan hubungan ini.

Tanggal pernikahan mereka ditetapkan secara tergesa-gesa, orang tua Naomi pun tidak sempat untuk menghadirinya.

Naomi berpikir bahwa selama dia terus berada sisinya, Arthur pada akhirnya akan luluh.

Hingga tiba saatnya Nadine kembali dan sengaja merusak pernikahan yang sudah mereka rencanakan.

Namun, Arthur tidak tega untuk marah dan malah menuruti semua keinginannya.

Baru kemudian Naomi mengerti.

Tidak mencintai memang pada dasarnya tidak mencintai.

Hati yang tidak bisa diluluhkan memang harus dilepaskan.

Dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Arthur, [Pernikahan kita tidak perlu dilanjutkan lagi.]
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Naka Novarro
Naka Novarro
gaya bahasanya bagus dan kecepatan alurnya enak dibaca
2026-02-21 22:22:43
0
0
24 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status