Di halaman depan istana Obsidian, Caelum berdiri tegak di hadapan lautan manusia. Rakyat bersorak gembira, suara mereka membumbung tinggi, memantul di dinding-dinding istana, bercampur dengan bau darah yang masih hangat. Sorak sorai itu terdengar seperti pesta kemenangan. Liar, beringas, tanpa empati.Namun di tengah kegilaan itu, Caelum berdiri diam.Di hadapannya, sebuah tubuh tergeletak kaku di atas tanah batu, tanpa kepala. Mayat Aldren.Darah menggenang di sekitar jasad itu, merembes ke sela-sela batu halaman istana. Pedang di tangan Caelum masih meneteskan darah, merah pekat, mengalir perlahan hingga ke jemarinya. Tangannya sendiri gemetar, basah oleh darah kakaknya, darah yang sama hangatnya dengan darah yang dulu pernah menggendongnya, melindunginya.Berbeda dengan rakyat yang bersorak penuh kemenangan, Caelum hanya menatap kosong.“Kenapa?”Pertanyaan itu kembali terngiang di kepalanya, seperti gema yang tak pernah berhe
Terakhir Diperbarui : 2026-02-10 Baca selengkapnya