MasukAlia Ariana mati dalam sebuah demonstrasi. Saat membuka mata, ia terbangun sebagai Alianne Luverna Ashbourne. NPC miskin dalam game Ratu Pertama, yang ditakdirkan mati dibakar karena tuduhan penyihir. Satu-satunya jalan hidupnya adalah kabur. Namun pelariannya justru mempertemukannya dengan Aldren Valtazar, raja tirani, musuh seluruh kerajaan, dan villain utama yang seharusnya mati di akhir cerita. Alih-alih membunuhnya, sang raja malah mengajukan satu tawaran gila: Pernikahan politik. Tidak ada cinta. Tidak ada kepercayaan. Hanya dua orang yang sama-sama dikhianati sistem dan sejarah. Di dunia di mana wanita cerdas disebut penyihir, dan kekuasaan lebih berbahaya dari sihir itu sendiri, setiap keputusan kecil bisa menjadi hukuman mati. Siapakah monster yang sebenarnya? Sang raja tirani? Atau dunia yang menciptakannya?
Lihat lebih banyak“Alianne Luverna Ashbourne!”
“Alianne Luverna Ashbourne! Bangunlah, nak!” Suara seorang pria dan wanita paruh baya bersahut-sahutan, menembus kesadaran seorang gadis yang terlelap. Kelopak matanya bergetar, lalu perlahan terbuka. Pupil cokelat gelap itu memantulkan cahaya pagi yang masuk dari jendela kayu di samping ranjang. Rambut panjang berwarna senada terurai di atas bantal kasar, terlalu kasar untuk ukuran tempat tidur modern. Pandangan gadis itu masih buram ketika dua sosok manusia berdiri di sisinya. “Alianne, tidak biasanya kau bangun terlambat! Ada apa, ini?” tanya seorang wanita paruh baya yang memiliki ciri fisik mirip dengan gadis yang dipanggil Alianne, hanya saja terlihat lebih tua. Ia mengenakan setelan gaun pedagang roti abad pertengahan berwarna cokelat tua, serasi dengan warna mata dan rambutnya. “Sudahlah, ibu. Sepertinya Alianne kita kelelahan karena belajar semalaman,” ucap seorang pria paruh baya bertubuh besar. Pakaiannya didominasi warna cokelat, dengan mata dan rambut yang warnanya nyaris sama seperti sang istri. “Alianne, ayo bersiap! Ksatria kerajaan sudah menjemputmu!” Gadis yang dipanggil Alianne itu memiringkan kepala. Alisnya sedikit berkerut. Ia mengedipkan mata berkali-kali, seolah mencoba menyesuaikan dunia di hadapannya. Namun, rasa ganjil justru semakin menguat, bukan menghilang. ‘Alianne? Namaku Alia. Lagi pula, ini di mana? Terakhir kali yang aku ingat, aku sedang berkumpul dengan teman-teman mahasiswaku. Ada yang aneh di sini,’ batin Alianne. “Nak, apa kau tidak enak badan? Kenapa diam saja dari tadi?” tanya sang ayah dengan nada khawatir. “Sepertinya ini efek karena baru bangun tidur. Biarkan saja dia, ayah! Ayo kita jamu para ksatria sambil menunggu Alianne bersiap!” Sang ibu berbalik dan berjalan keluar kamar, langkahnya cepat seolah tak ingin membuang waktu sedetik pun. Ayahnya melangkah lebih dekat. Nada suaranya melunak, penuh kebanggaan yang tulus, sesuatu yang terasa asing, namun hangat dan menyesakkan dada. Ayahnya melangkah mendekat. Tubuh besar itu sedikit membungkuk, seolah tak ingin jarak di antara mereka terasa terlalu jauh. Wajahnya memancarkan kebanggaan yang jujur, hangat. Namun, entah kenapa justru membuat dada Alianne terasa sesak. “Nak, hari ini para ksatria menjemputmu ke istana untuk menghadap ratu. Hari ini adalah hari yang sangat kau nantikan.” Ia berhenti sejenak, seakan memberi waktu bagi kata-katanya untuk meresap. “Hari dimana kau bisa belajar di akademia secara gratis karena bantuan yang mulia ratu. Ayah tahu kau masih tidak percaya dengan semua ini.” Nada suaranya melembut, sarat keyakinan yang tak tergoyahkan. “Tapi, ayah sangat bangga padamu. Ini semua adalah akumulasi dari semua kerja kerasmu yang pantang menyerah dan tidak kenal lelah.” Ayahnya tersenyum kecil sebelum berbalik pergi. “Ayah permisi dulu. Jangan membuat ksatria menunggu lama, ya!” Dengan itu, sang ayah meninggalkan kamar, menutup pintu kayu dengan lembut. Sunyi. Terlalu sunyi. Alianne duduk di tepi ranjang, menurunkan kakinya ke lantai batu yang dingin. Sensasi itu nyata, terlalu nyata. Ia mengamati ruangan kecil itu dengan napas tertahan: dinding batu, perabot kayu sederhana, bau tepung dan roti yang samar-samar masih melekat di udara. ‘Alianne Luverna Ashbourne. Sepertinya aku pernah mendengar nama ini. Nama yang tidak asing di telingaku.’ Dadanya mengencang. Ingatan terakhir yang muncul di benaknya terasa begitu jelas. Saat itu ia masih Alia, duduk di ruang kelas kampus, ponsel di tangan, sementara seorang mahasiswi menegurnya dengan wajah frustrasi. “Alia! Kau bermain game apa sampai saat mengajukan pertanyaan mematikan itu kau tetap fokus pada ponselmu?” Ia ingat dirinya menghela napas, menjawab tanpa merasa bersalah bahwa ia sedang memainkan sebuah otome visual novel berjudul ‘Ratu Pertama’. Sebuah game yang membuatnya muak sejak chapter pertama, ketika seorang NPC dituduh penyihir hanya karena terlalu pintar dan ingin belajar di akademi kerajaan. Ingatan itu berakhir dengan satu kesimpulan pahit: ia membenci cerita itu dan ratu di dalamnya. Kesadaran Alianne kembali ke kamar sempit berdinding batu. Alianne menarik napas panjang. Tangannya gemetar ketika ia berdiri dan melangkah ke depan cermin kecil yang permukaannya sudah buram dimakan usia. Pantulan di sana menunjukkan seorang gadis asing. Wajah muda, polos, dengan mata cokelat gelap yang kini dipenuhi keterkejutan. Ia mengangguk pelan. “Semua bukti mengarah ke satu hal. Aku adalah Alianne Luverna Ashbourne. Seorang NPC di game 'Ratu Pertama' yang harus mati di chapter pertama,” ucap Alianne sambil menatap dirinya sendiri di pantulan cermin. “Aku sudah mati sekali di kehidupan sebelumnya. Kenapa aku harus mati lagi di sini?” Jantungnya berdegup lebih cepat. Ingatan tentang kereta kencana, istana, ratu, semuanya tiba-tiba terasa bukan sebagai kesempatan, melainkan hitungan mundur menuju akhir yang sudah tertulis. Alianne melangkah keluar kamar dengan langkah gontai, menyembunyikan kegelisahan di balik wajah datar. “Sudahlah, yang penting sekarang adalah berpura-pura tidak terjadi apapun.” Namun di dalam dadanya, satu kesadaran pahit telah tertanam kuat: Jika ini benar dunia game itu, maka setiap langkah ke depan bukan menuju masa depan, melainkan mendekati kematian yang seharusnya sudah menunggunya. --- Di ruang tamu yang sempit namun hangat, ibu Alianne menarik tangan Alianne dengan gerakan cekatan. “Nak, kenapa masih belum bersiap? Kau ini benar-benar! Sini biar ibu yang mendandani!” Tanpa memberi kesempatan membantah, sang ibu segera menyisir rambut Alianne. Sisir kayu itu bergerak cepat, menarik helaian rambut cokelat gelapnya lalu mengepangnya menjadi dua kepang rapi. Jari-jari kasar karena adonan roti itu bekerja dengan penuh perhatian, seolah ingin memastikan putrinya tampil sebaik mungkin di hari penting ini. Alianne hanya diam, menahan gejolak di dadanya. “Sudah selesai, ayo hampiri para ksatria!” ucap ibunya puas. Alianne melangkahkan kaki ke luar rumah. Cahaya matahari pagi menyambutnya bersama pemandangan yang membuat napasnya tertahan. Sebuah kereta kuda berlapis kayu kokoh terparkir di depan rumah, dijaga dua orang ksatria bersenjata lengkap di sisi kanan dan kiri. ‘Ini bukan mimpi,’ pikirnya singkat. “Aku berangkat, ya. Ayah, ibu.” Alianne berjalan dengan langkah santai menuju kereta kuda, menjaga ekspresi tetap tenang. Tidak ada keraguan, tidak ada kepanikan yang ia perlihatkan. Seolah ia benar-benar seorang gadis desa yang bahagia mendapat kesempatan emas. “Hati-hati Alianne! Semoga harimu menyenangkan! Kami sayang padamu!” ucap kedua orang tuanya sambil melambaikan tangan ke arah kereta kuda yang perlahan bergerak menjauh. Tirai kereta tertutup. Di dalam kereta kuda yang berguncang pelan, Alianne menunduk. Wajahnya tampak diam, nyaris kosong. Namun di balik ketenangan itu, pikirannya bekerja tanpa henti, menyusun kemungkinan, menghitung jarak, mencari celah. Otaknya bukan sedang pasrah. Otaknya sedang merencanakan pelarian. Kereta kuda melaju mengikuti jalan tanah. Alianne menoleh ke depan, ke arah tempat matahari terbit. Lalu perlahan ia mengalihkan pandangan ke kiri, mengamati semak-semak lebat dan jalanan yang tampak sering dilalui kereta lain. ‘Jika mengikuti cerita di dalam game, di sebelah Utara adalah kerajaan Valtarian. Kerajaan yang paling dekat dengan Kerajaan Aurenthia. Kerajaan yang saat ini dipimpin oleh ratu Seraphine Veyra Athenaeum. Jika aku bisa kabur ke negara tetangga, aku akan aman,’ batin Alianne. Detak jantungnya sedikit meningkat. ‘Baiklah, rencana dimulai!’ batin Alianne. Ia segera memegangi roknya sendiri, bahunya sedikit merosot, wajahnya menampilkan ekspresi menahan sakit yang terlihat meyakinkan. “Kakak-kakak ksatria, saat ini aku sedang dalam keadaan tidak suci. Boleh aku pergi ke semak-semak untuk buang air kecil sebelum cairan kotor bulananku mengotori kereta kuda ini dan membawa malapetaka bagi perjalanan kita?” Kereta kuda berhenti mendadak. Roda kayu berdecit keras. Salah satu ksatria langsung turun dan membukakan pintu dengan wajah tidak nyaman. “Cepatlah! Jangan lama-lama!” titahnya tegas. “Baik, Terima kasih!” Alianne turun dengan langkah tergesa, lalu berlari ke arah semak-semak di Utara, tentu saja bukan untuk buang air kecil, melainkan untuk kabur. Begitu tubuhnya tertutup oleh rimbunnya semak, Alianne langsung berjongkok, berpura-pura buang air kecil. Ia menutup mulutnya, terkekeh pelan agar suaranya tak terdengar. “Ternyata menstruasi benar-benar sangat tabu. Mereka jadi mudah ditipu. Aku memang jenius!” Begitu memastikan para ksatria tidak memperhatikannya, Alianne berdiri dan berlari. Ia berlari sekuat tenaga. Nafasnya memburu. Sandal jerami di kakinya mulai longgar, kulit telapak kakinya terasa perih saat menyentuh tanah kasar. Namun ia tidak berhenti. Di depan matanya, sebuah kereta kuda lain tampak berhenti di pinggir jalan. Matanya langsung berbinar penuh harapan. “Itu dia! Itu pasti kereta kuda yang ingin ke kerajaan Valtarian! Aku ingin ikut!” Namun harapan itu runtuh seketika. Beberapa orang ksatria yang tampak terluka mengangkat senjata mereka, ujung besi berkilau mengarah tepat ke tubuh Alianne. Tatapan mereka tajam, dingin, dan penuh kecurigaan. Tatapan orang-orang yang terlalu sering berhadapan dengan kematian. “Siapa kau? Apa kau adalah bala bantuan yang dikirim untuk menyerang kami?” Alianne tersentak, refleks mengangkat kedua tangannya. “Bu- bukan! Aku hanya rakyat jelata—” “Ada apa? Apa ada yang menyerang lagi?” Suara itu datang dari dalam kereta kuda. Dalam. Tenang. Dan justru karena itu, menyeramkan. Tirai kereta tersibak. Seorang pria keluar. Tubuhnya tinggi dan besar, dibalut jubah raja yang tampak berat dan gelap. Rambutnya pendek, hitam legam. Pupil matanya berwarna hijau tua, seperti batu zamrud yang telah kehilangan kilaunya, dingin dan tak memantulkan cahaya apa pun. Alianne membulatkan mata. Seluruh darah di tubuhnya terasa membeku. ‘I- ini adalah... Raja Aldren Valtazar! Karakter vilain utama yang akan mati di akhir cerita nanti!’ teriak Alianne dalam batin."Kalau iya, kenapa?" jawab Alianne dengan santai.Nada suaranya datar. Tidak ada penyesalan. Tidak ada rasa takut. Bahkan tidak ada upaya untuk menjelaskan dirinya lebih lanjut. Seolah pertanyaan itu tidak memiliki bobot apa pun.Aldren membulatkan mata.Ia sudah menduga jawaban seperti itu. Sudah memperkirakan bahwa Alianne tidak akan mundur, tidak akan meminta maaf, tidak akan menunjukkan kelemahan.Namun tetap saja dadanya terasa sesak.Perasaan itu datang tiba-tiba, menekan dari dalam tanpa bisa ia kendalikan.Aldren menunduk. Tatapannya jatuh ke lantai, berusaha menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin ia perlihatkan. Matanya berkaca-kaca, tetapi ia menahannya. Ia tidak ingin terlihat lemah."Kau sudah membantuku untuk mempercepat proses menghancurkan pilar teleportasi. Jadi sekalian saja aku juga mempercepat proses interogasi para tahanan yang belum mengaku. Dan akhirnya sesuai dugaan. Mereka semua benar-benar mengaku—"Kalimat itu terpotong.Aldren bergerak lebih cepat dari yang
"Begitukah? Aku tidak boleh masuk?"Nada suara Alianne tetap ringan, namun matanya menatap lurus ke arah pengawal di depannya. Tatapan itu tidak sekadar bertanya, melainkan menekan. Ada sesuatu yang menantang di sana, sesuatu yang membuat suasana di sekitar pintu penjara bawah tanah itu terasa semakin tegang. Ia melangkah sedikit lebih dekat.Jarak di antara mereka menyempit."Kau mau membiarkanku masuk dengan baik-baik atau aku akan melakukan sihir peledak?"Kalimat itu diucapkan tanpa peninggian suara. Justru karena itu, ancamannya terasa lebih nyata. Ia memanfaatkan sepenuhnya rumor yang telah menyebar tentang dirinya. Penyihir. Sebuah kata yang cukup untuk membuat banyak orang ragu.Kedua pengawal itu tidak langsung menjawab.Mereka berdiri tegak, namun sorot mata mereka berubah. Kewaspadaan meningkat, tetapi kaki mereka tetap tertanam di tempat.Di saat yang sama, langkah tergesa terdengar dari belakang.Marta dan Brina akhirnya tiba, napas mereka tidak teratur. Tanpa menunggu, m
Alianne menaikkan sebelah alisnya dengan santai. Gerakan kecil itu tampak ringan, hampir tidak berarti, namun cukup untuk membuat suasana di dalam kamar berubah menjadi lebih tegang."Aku hanya mau ke penjara bawah tanah sebagai balas budi. Aldren sudah membantu membereskan masalah pilar teleportasi. Seterusnya, aku harus membantunya untuk mengurus interogasi para tahanan."Nada suaranya tetap tenang, tanpa paksaan. Seolah yang ia katakan adalah hal yang sepenuhnya masuk akal.Namun bagi Marta dan Brina, justru sebaliknya."Tapi itu sangat berbahaya, Yang Mulia Ratu..." ucap Marta, nadanya melembut. Ia mencoba memilih kata-kata yang tidak terdengar menentang, namun tetap jelas menyampaikan penolakan. "Kau tidak tahu betapa Yang Mulia Raja menyayangimu. Kami tidak ingin mengambil resiko.""Lagi pula, aneh..." gumam Brina.Alisnya sedikit berkerut, pikirannya mulai berjalan lebih jauh dari sekadar percakapan biasa. Ia menatap Alian
"Jadi... Aldren sedang di perjalanan untuk menghancurkan pilar teleportasi di lokasi yang telah aku tandai di peta, ya?" gumam Alianne.Nada suaranya datar, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. Matanya masih setengah terpejam, tangannya tetap sibuk mengambil kue berikutnya tanpa tergesa. Namun di balik sikap santainya, ada sesuatu yang terasa mengamati, menghitung, dan menyusun kemungkinan.Marta dan Brina saling berpandangan sejenak."Sebenarnya, itu benda apa, Yang Mulia Ratu?" tanya Marta dengan penuh rasa penasaran.Ia melangkah sedikit lebih dekat, namun tetap menjaga jarak. Ada dorongan ingin tahu yang kuat, tetapi juga kehati-hatian yang tidak bisa ia lepaskan begitu saja."Benar! Beberapa ksatria yang ikut dalam perjalanan membantu wilayah Utara saja sampai ribut sendiri!" sahut Brina dengan cepat.Ia tampak lebih terbuka, mengingat kembali suasana di halaman depan istana Obsidian pagi tadi. Suara langkah kaki, denting baju zirah, dan percakapan para ksatria yang sal
Tatapannya Caelum beralih ke Alianne dengan dingin, penuh kekesalan yang belum sepenuhnya mereda."Sialan sekali anak ini melemparkan benda keras itu ke wajahku yang tampan!"Nada itu terdengar lebih personal daripada sebelumnya. Luka di dahinya seolah kembali berdenyut hanya ka
"Bisa dibilang... Ini pertama kalinya aku melihat salju," jawab Alianne.Suaranya terdengar jujur, tanpa dibuat-buat. Ia kembali menengadah, membiarkan beberapa butiran salju jatuh ke wajahnya. Rasa dingin itu membuatnya sedikit meringis, tetapi juga tersenyum di saat yang sama.
Setelah sekitar satu jam perjalanan tanpa henti, kecepatan pasukan mulai melambat. Pepohonan yang rapat perlahan berganti dengan hamparan lahan terbuka. Di kejauhan, terlihat deretan rumah sederhana dengan atap jerami dan dinding kayu.Sebuah desa kecil. Terlalu tenang jika dibandingkan
Caelum menunduk dalam diam, menatap kedua tangannya seolah-olah itu bukan miliknya sendiri. Jari-jarinya bergetar halus, sementara bayangan dari mimpi itu kembali menghantui benaknya dengan kejam. Dalam ingatannya, kedua tangannya dipenuhi darah pekat, hangat, dan tak terhapuskan. Darah itu bukan m
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak