MasukAlianne Luverna Ashbourne seharusnya mati dua kali. Pertama, sebagai mahasiswi yang tewas di tengah kekacauan perjuangan rakyat. Kedua, sebagai NPC rakyat jelata di dunia game Ratu Pertama, seorang gadis desa miskin yang akan dituduh penyihir dan dibakar hidup-hidup oleh sang ratu. Terbangun di dunia baru bukanlah berkah. Itu adalah hitungan mundur menuju kematian yang sudah tertulis. Kesempatan belajar di akademi kerajaan yang dijanjikan ratu dari kerajaan Aurenthia ternyata hanyalah umpan. Tuduhan penyihir, pembantaian, dan pengkhianatan menunggu di ujung jalan. Demi bertahan hidup, Alianne memilih kabur ke kerajaan tetangga, ke wilayah musuh. Namun pelariannya justru membawanya bertemu Raja Aldren Valtazar. Raja villain. Penguasa dingin yang dikhianati tepat setelah menandatangani perjanjian damai. Pria yang seharusnya menjadi antagonis utama⊠namun justru satu-satunya sosok yang melindunginya. Di tengah konflik dua kerajaan, tuduhan sihir, dan intrik politik yang mematikan, Aldren membuat satu keputusan gila: menjadikan Alianne sebagai calon ratu. Bagi Alianne, kematian mungkin bisa dihindari. Namun pernikahan dengan raja villain, adalah permainan paling berbahaya yang pernah ia masuki. Karena di dunia ini, menjadi istri raja bukan jaminan keselamatan. Itu bisa menjadi awal kehancuran. Namun Alianne tidak tahu satu hal: tidak semua monster di dunia ini lahir tanpa alasan.
Lihat lebih banyakâAlianne Luverna Ashbourne!â
âAlianne Luverna Ashbourne! Bangunlah, nak!â Suara seorang pria dan wanita paruh baya bersahut-sahutan, menembus kesadaran seorang gadis yang terlelap. Kelopak matanya bergetar, lalu perlahan terbuka. Pupil cokelat gelap itu memantulkan cahaya pagi yang masuk dari jendela kayu di samping ranjang. Rambut panjang berwarna senada terurai di atas bantal kasar, terlalu kasar untuk ukuran tempat tidur modern. Pandangan gadis itu masih buram ketika dua sosok manusia berdiri di sisinya. âAlianne, tidak biasanya kau bangun terlambat! Ada apa, ini?â tanya seorang wanita paruh baya yang memiliki ciri fisik mirip dengan gadis yang dipanggil Alianne, hanya saja terlihat lebih tua. Ia mengenakan setelan gaun pedagang roti abad pertengahan berwarna cokelat tua, serasi dengan warna mata dan rambutnya. âSudahlah, ibu. Sepertinya Alianne kita kelelahan karena belajar semalaman,â ucap seorang pria paruh baya bertubuh besar. Pakaiannya didominasi warna cokelat, dengan mata dan rambut yang warnanya nyaris sama seperti sang istri. âAlianne, ayo bersiap! Ksatria kerajaan sudah menjemputmu!â Gadis yang dipanggil Alianne itu memiringkan kepala. Alisnya sedikit berkerut. Ia mengedipkan mata berkali-kali, seolah mencoba menyesuaikan dunia di hadapannya. Namun, rasa ganjil justru semakin menguat, bukan menghilang. âAlianne? Namaku Alia. Lagi pula, ini di mana? Terakhir kali yang aku ingat, aku sedang berkumpul dengan teman-teman mahasiswaku. Ada yang aneh di sini,â batin Alianne. âNak, apa kau tidak enak badan? Kenapa diam saja dari tadi?â tanya sang ayah dengan nada khawatir. âSepertinya ini efek karena baru bangun tidur. Biarkan saja dia, ayah! Ayo kita jamu para ksatria sambil menunggu Alianne bersiap!â Sang ibu berbalik dan berjalan keluar kamar, langkahnya cepat seolah tak ingin membuang waktu sedetik pun. Ayahnya melangkah lebih dekat. Nada suaranya melunak, penuh kebanggaan yang tulus, sesuatu yang terasa asing, namun hangat dan menyesakkan dada. Ayahnya melangkah mendekat. Tubuh besar itu sedikit membungkuk, seolah tak ingin jarak di antara mereka terasa terlalu jauh. Wajahnya memancarkan kebanggaan yang jujur, hangat. Namun, entah kenapa justru membuat dada Alianne terasa sesak. âNak, hari ini para ksatria menjemputmu ke istana untuk menghadap ratu. Hari ini adalah hari yang sangat kau nantikan.â Ia berhenti sejenak, seakan memberi waktu bagi kata-katanya untuk meresap. âHari dimana kau bisa belajar di akademia secara gratis karena bantuan yang mulia ratu. Ayah tahu kau masih tidak percaya dengan semua ini.â Nada suaranya melembut, sarat keyakinan yang tak tergoyahkan. âTapi, ayah sangat bangga padamu. Ini semua adalah akumulasi dari semua kerja kerasmu yang pantang menyerah dan tidak kenal lelah.â Ayahnya tersenyum kecil sebelum berbalik pergi. âAyah permisi dulu. Jangan membuat ksatria menunggu lama, ya!â Dengan itu, sang ayah meninggalkan kamar, menutup pintu kayu dengan lembut. Sunyi. Terlalu sunyi. Alianne duduk di tepi ranjang, menurunkan kakinya ke lantai batu yang dingin. Sensasi itu nyata, terlalu nyata. Ia mengamati ruangan kecil itu dengan napas tertahan: dinding batu, perabot kayu sederhana, bau tepung dan roti yang samar-samar masih melekat di udara. âAlianne Luverna Ashbourne. Sepertinya aku pernah mendengar nama ini. Nama yang tidak asing di telingaku.â Dadanya mengencang. Ingatan terakhir yang muncul di benaknya terasa begitu jelas. Saat itu ia masih Alia, duduk di ruang kelas kampus, ponsel di tangan, sementara seorang mahasiswi menegurnya dengan wajah frustrasi. âAlia! Kau bermain game apa sampai saat mengajukan pertanyaan mematikan itu kau tetap fokus pada ponselmu?â Ia ingat dirinya menghela napas, menjawab tanpa merasa bersalah bahwa ia sedang memainkan sebuah otome visual novel berjudul âRatu Pertamaâ. Sebuah game yang membuatnya muak sejak chapter pertama, ketika seorang NPC dituduh penyihir hanya karena terlalu pintar dan ingin belajar di akademi kerajaan. Ingatan itu berakhir dengan satu kesimpulan pahit: ia membenci cerita itu dan ratu di dalamnya. Kesadaran Alianne kembali ke kamar sempit berdinding batu. Alianne menarik napas panjang. Tangannya gemetar ketika ia berdiri dan melangkah ke depan cermin kecil yang permukaannya sudah buram dimakan usia. Pantulan di sana menunjukkan seorang gadis asing. Wajah muda, polos, dengan mata cokelat gelap yang kini dipenuhi keterkejutan. Ia mengangguk pelan. âSemua bukti mengarah ke satu hal. Aku adalah Alianne Luverna Ashbourne. Seorang NPC di game 'Ratu Pertama' yang harus mati di chapter pertama,â ucap Alianne sambil menatap dirinya sendiri di pantulan cermin. âAku sudah mati sekali di kehidupan sebelumnya. Kenapa aku harus mati lagi di sini?â Jantungnya berdegup lebih cepat. Ingatan tentang kereta kencana, istana, ratu, semuanya tiba-tiba terasa bukan sebagai kesempatan, melainkan hitungan mundur menuju akhir yang sudah tertulis. Alianne melangkah keluar kamar dengan langkah gontai, menyembunyikan kegelisahan di balik wajah datar. âSudahlah, yang penting sekarang adalah berpura-pura tidak terjadi apapun.â Namun di dalam dadanya, satu kesadaran pahit telah tertanam kuat: Jika ini benar dunia game itu, maka setiap langkah ke depan bukan menuju masa depan, melainkan mendekati kematian yang seharusnya sudah menunggunya. --- Di ruang tamu yang sempit namun hangat, ibu Alianne menarik tangan Alianne dengan gerakan cekatan. âNak, kenapa masih belum bersiap? Kau ini benar-benar! Sini biar ibu yang mendandani!â Tanpa memberi kesempatan membantah, sang ibu segera menyisir rambut Alianne. Sisir kayu itu bergerak cepat, menarik helaian rambut cokelat gelapnya lalu mengepangnya menjadi dua kepang rapi. Jari-jari kasar karena adonan roti itu bekerja dengan penuh perhatian, seolah ingin memastikan putrinya tampil sebaik mungkin di hari penting ini. Alianne hanya diam, menahan gejolak di dadanya. âSudah selesai, ayo hampiri para ksatria!â ucap ibunya puas. Alianne melangkahkan kaki ke luar rumah. Cahaya matahari pagi menyambutnya bersama pemandangan yang membuat napasnya tertahan. Sebuah kereta kuda berlapis kayu kokoh terparkir di depan rumah, dijaga dua orang ksatria bersenjata lengkap di sisi kanan dan kiri. âIni bukan mimpi,â pikirnya singkat. âAku berangkat, ya. Ayah, ibu.â Alianne berjalan dengan langkah santai menuju kereta kuda, menjaga ekspresi tetap tenang. Tidak ada keraguan, tidak ada kepanikan yang ia perlihatkan. Seolah ia benar-benar seorang gadis desa yang bahagia mendapat kesempatan emas. âHati-hati Alianne! Semoga harimu menyenangkan! Kami sayang padamu!â ucap kedua orang tuanya sambil melambaikan tangan ke arah kereta kuda yang perlahan bergerak menjauh. Tirai kereta tertutup. Di dalam kereta kuda yang berguncang pelan, Alianne menunduk. Wajahnya tampak diam, nyaris kosong. Namun di balik ketenangan itu, pikirannya bekerja tanpa henti, menyusun kemungkinan, menghitung jarak, mencari celah. Otaknya bukan sedang pasrah. Otaknya sedang merencanakan pelarian. Kereta kuda melaju mengikuti jalan tanah. Alianne menoleh ke depan, ke arah tempat matahari terbit. Lalu perlahan ia mengalihkan pandangan ke kiri, mengamati semak-semak lebat dan jalanan yang tampak sering dilalui kereta lain. âJika mengikuti cerita di dalam game, di sebelah Utara adalah kerajaan Valtarian. Kerajaan yang paling dekat dengan Kerajaan Aurenthia. Kerajaan yang saat ini dipimpin oleh ratu Seraphine Veyra Athenaeum. Jika aku bisa kabur ke negara tetangga, aku akan aman,â batin Alianne. Detak jantungnya sedikit meningkat. âBaiklah, rencana dimulai!â batin Alianne. Ia segera memegangi roknya sendiri, bahunya sedikit merosot, wajahnya menampilkan ekspresi menahan sakit yang terlihat meyakinkan. âKakak-kakak ksatria, saat ini aku sedang dalam keadaan tidak suci. Boleh aku pergi ke semak-semak untuk buang air kecil sebelum cairan kotor bulananku mengotori kereta kuda ini dan membawa malapetaka bagi perjalanan kita?â Kereta kuda berhenti mendadak. Roda kayu berdecit keras. Salah satu ksatria langsung turun dan membukakan pintu dengan wajah tidak nyaman. âCepatlah! Jangan lama-lama!â titahnya tegas. âBaik, Terima kasih!â Alianne turun dengan langkah tergesa, lalu berlari ke arah semak-semak di Utara, tentu saja bukan untuk buang air kecil, melainkan untuk kabur. Begitu tubuhnya tertutup oleh rimbunnya semak, Alianne langsung berjongkok, berpura-pura buang air kecil. Ia menutup mulutnya, terkekeh pelan agar suaranya tak terdengar. âTernyata menstruasi benar-benar sangat tabu. Mereka jadi mudah ditipu. Aku memang jenius!â Begitu memastikan para ksatria tidak memperhatikannya, Alianne berdiri dan berlari. Ia berlari sekuat tenaga. Nafasnya memburu. Sandal jerami di kakinya mulai longgar, kulit telapak kakinya terasa perih saat menyentuh tanah kasar. Namun ia tidak berhenti. Di depan matanya, sebuah kereta kuda lain tampak berhenti di pinggir jalan. Matanya langsung berbinar penuh harapan. âItu dia! Itu pasti kereta kuda yang ingin ke kerajaan Valtarian! Aku ingin ikut!â Namun harapan itu runtuh seketika. Beberapa orang ksatria yang tampak terluka mengangkat senjata mereka, ujung besi berkilau mengarah tepat ke tubuh Alianne. Tatapan mereka tajam, dingin, dan penuh kecurigaan. Tatapan orang-orang yang terlalu sering berhadapan dengan kematian. âSiapa kau? Apa kau adalah bala bantuan yang dikirim untuk menyerang kami?â Alianne tersentak, refleks mengangkat kedua tangannya. âBu- bukan! Aku hanya rakyat jelataââ âAda apa? Apa ada yang menyerang lagi?â Suara itu datang dari dalam kereta kuda. Dalam. Tenang. Dan justru karena itu, menyeramkan. Tirai kereta tersibak. Seorang pria keluar. Tubuhnya tinggi dan besar, dibalut jubah raja yang tampak berat dan gelap. Rambutnya pendek, hitam legam. Pupil matanya berwarna hijau tua, seperti batu zamrud yang telah kehilangan kilaunya, dingin dan tak memantulkan cahaya apa pun. Alianne membulatkan mata. Seluruh darah di tubuhnya terasa membeku. âI- ini adalah... Raja Aldren Valtazar! Karakter vilain utama yang akan mati di akhir cerita nanti!â teriak Alianne dalam batin.Alianne tidak merasa panik. Tidak ada jantung berdebar berlebihan, tidak ada napas tercekat. Ia hanya membalikkan tubuhnya sedikit, menatap Aldren dengan senyuman mengejek yang tenang, seolah sedang menilai hasil pemikirannya sendiri. âWalaupun hidup di dunia patriarki, rupanya pemikiranmu tidak ikut seperti itu.âTatapan Aldren tidak berubah. Namun roda kereta kuda tiba-tiba berhenti, disusul hentakan kecil ketika dua ekor kuda penariknya ikut menghentikan langkah. Getaran halus menjalar ke lantai kereta, menandakan perjalanan mereka telah usai.Kereta kuda itu berhenti tepat di depan istana Obsidian.Sebuah bangunan raksasa menjulang di hadapan mereka, mendominasi pandangan dengan warna hitam pekat. Batu obsidian berwarna gelap membentuk dinding-dinding tebal yang tinggi, menyerap cahaya matahari sore alih-alih memantulkannya. Istana itu tidak berkilau, tidak memikat mata dengan kemewahan, ia berdiri seperti bayangan masa lalu yang keras, dingin, dan tak tergoyahkan.Sepasang mata c
Kereta kuda yang mengangkut Alianne dan Raja Aldren perlahan bergerak ke arah Utara.Derit roda kayu terdengar berirama, memecah keheningan padang rumput yang mulai ditinggalkan. Kereta yang sebelumnya tersembunyi di antara semak-semak, kini keluar menuju sebuah jalan berbatu yang panjang dan luas, jalur utama yang jelas sering dilalui rombongan besar. Setiap guncangan roda terasa nyata, seolah menandai bahwa Alianne benar-benar sedang menjauh dari kehidupan lamanya.Di luar kereta, belasan pasukan ksatria Aldren berjalan mengawal dengan formasi rapi. Langkah mereka serempak, armor logam beradu pelan satu sama lain. Dua orang sandera dari Kerajaan Aurenthia diseret di tengah barisan, tangan mereka terikat, wajah mereka tegang menahan takut dan malu.Di dalam kereta kuda, suasananya jauh lebih sunyi.Aldren duduk bersandar, satu lengannya bertumpu santai, namun sorot matanya tak pernah lepas dari Alianne. Sejak tadi, gadis itu sama sekali tidak menoleh ke arahnya. Alianne justru menat
Alianne membulatkan matanya. Napasnya tercekat saat menatap sosok besar yang berdiri di depan tubuhnya. Meski tubuh itu dipenuhi luka, bekas pertempuran yang belum sepenuhnya kering, kehadiran pria itu justru terasa seperti tembok raksasa yang menutup jalan keluar.âAda apa ini? Kenapa kalian mengacungkan senjata kalian pada warga sipil?â Nada suaranya terdengar tegas, meski dadanya berdegup kencang.Dua ksatria yang sebelumnya mengarahkan pedang ke tubuh Alianne langsung bergerak serempak. Dengan gerakan cepat dan terlatih, mereka berlutut di hadapan Aldren, kepala tertunduk dalam-dalam sebagai tanda kepatuhan mutlak.âYang mulia, maaf atas kelancangan kami pada kerajaan Valtarian. Namun, ini adalah perintah langsung dari yang mulia ratu kami.ââBenar, yang mulia,â sahut ksatria satunya lagi. âRatu kami memerintahkan kami untuk membasmi para penyihir yang berbahaya untuk kelangsungan hidup masyarakat di kerajaan kami.ââPenyihir?â gumam Aldren, pelan.Satu kata itu jatuh ke udara sep
Ksatria itu segera melangkah maju dan berlutut di hadapan pria berjubah gelap tersebut. Lututnya menghantam tanah dengan suara berat, menunjukkan keseriusan situasi.âLapor, yang mulia.â Ksatria itu menundukkan kepala lebih dalam. âWanita ini berlari kemari dengan terburu-buru. Dia terlihat mencurigakan. Ditakutkan, dia adalah bala bantuan yang dikirim untuk menyerang kami yang sudah terluka.âUjung senjata para ksatria masih terarah ke tubuh Alianne. Udara di sekitarnya terasa menekan, seolah satu gerakan salah saja bisa mengakhiri segalanya.âBu- bukan! Aku benar-benar hanya rakyat jelata,â ucap Alianne, membela diri. Kini ia tidak bisa lagi menyembunyikan kepanikan di wajahnya. Napasnya tersengal, tangannya gemetar di sisi tubuhnya.Langkah kaki berat terdengar mendekat.Aldren, pria bertubuh tinggi itu berjalan ke arahnya dengan tenang. Setiap langkahnya mantap, tanpa ragu, tanpa tergesa. Ia berhenti tepat di hadapan Alianne.Cahaya matahari terhalang oleh tubuh Aldren, menelan Al
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.