Elara duduk di sofa, lalu menarik Elise ke dalam pelukannya dan berkata, "Besok Tante juga harus ke luar negeri untuk kerja."Elise mengedipkan mata besarnya. Awalnya dia terkejut, lalu cahaya di mata indahnya yang berbinar langsung meredup dengan jelas. "Tante setiap hari sibuk sekali."Mendengar nada sedih Elise, hati Elara terasa seperti ditusuk jarum. Suaranya menegang saat berkata, "Maaf ya, Elise."Elise bertanya, "Kalau begitu, kapan Tante balik?"Elara menjawab, "Sekarang belum tahu pasti. Kalau Elise kangen Tante, Elise bisa kapan saja telepon atau video call."Tiba-tiba, Elise menunduk dan tidak berbicara lagi.Elara mengangkat Elise dan mendudukkannya di pangkuannya. Jarinya menyentuh pipi Elise sambil bertanya dengan lembut, "Sayang, ada apa?"Dia pun melihat kedua mata Elise sudah memerah. Hal ini membuat dadanya langsung terasa sesak. "Elise."Elise mengangkat tangan mengusap matanya, lalu terisak. "Maaf, Elise juga nggak mau nangis, tapi kalau nanti nggak bisa bertemu Ta
Leer más