Sebelum Emma sempat menyusun kalimat berikutnya, kaki Ryan sudah bergerak. Satu langkah maju. Lalu kedua lututnya menyentuh lantai dengan mantap. Bukan berlutut yang ragu-ragu, bukan berlutut yang memohon. Posturnya tegak, bahunya lurus, tatapannya tidak turun. Tangannya meraih tepi meja Celeste, bukan untuk pegangan, tapi sebagai gestur yang mengatakan satu hal dengan sangat jelas, aku di sini, aku tidak lari, dan aku punya sesuatu yang perlu didengar. Celeste memandang ke bawah. Wajahnya tidak berubah. Ryan mendongak dengan ekspresi yang tidak kalah memilukan dari ekspresi Emma tadi. "Presiden Thornfield, tolong dengarkan aku sebentar." Bukan suara orang yang memohon. Tapi dia menyesuaikan nada ke frekuensi yang paling mungkin didengar, terkontrol, serius, dengan sedikit kelelahan yang muncul di ujung kalimat. "Aku ini satpam biasa. Tidak ada yang bisa aku manfaatkan, tidak ada posisi yang bisa aku jadikan tekanan di perusahaan ini." Dia memandang Celeste langsung, tida
Read more