LOGINPensiun dari dunia berdarah, Ryan Hendrikson sebenarnya hanya ingin hidup santai. Namun, pernikahan paksa dengan CEO cantik nan dingin, Celeste Thornfield, membuatnya berujung dihukum menjadi satpam perusahaan calon istrinya sendiri. Masalahnya, tidak ada yang pernah menduga bahwa pria yang dipaksa menjadi satpam itu sebenarnya adalah sang dewa perang legendaris terhormat, Ares!
View Morel"Iya." Ryan mengakuinya tanpa masalah."Kamu masuk ke toko pakaian dalam perempuan!""Toko ini tidak pasang tanda 'dilarang masuk untuk laki-laki'." Ryan menoleh ke kiri dan kanan, lalu kembali ke perempuan itu. "Aku tidak melihat larangan tertulis di mana pun."Perempuan itu membuka mulutnya, lalu menutupnya. Lalu membuka lagi. "Tapi ini tidak...""Tidak wajar?" Ryan mengambil tempat di sofa kecil di depan meja kasir dan mengeluarkan rokok dari saku.Pramuniaga di balik meja langsung menegakkan tubuhnya dan membuka mulut, tapi Ryan sudah menyalakannya sebelum ada yang sempat menegur. "Tidak wajar bagi siapa? Toko ini menjual produk. Pembeli tidak punya gender."Perhatian seluruh isi toko sekarang sudah tertuju ke satu titik.Beberapa perempuan yang tadi sedang memilih-milih sekarang berdiri diam dengan barang yang mereka pegang disembunyikan di belakang punggung. Beberapa yang lain hanya berdiri dengan pipi y
Pulang ke rumah jelas bukan pilihan. Ryan berdiri di depan pintu keluar rumah sakit, merogoh saku, dan melihat ponselnya sudah punya cukup daya setelah mengisinya di lobi tadi. Dia menimbang situasinya. Kalau dia pulang sekarang, Celeste mungkin masih ada di sana. Dan "mungkin masih ada di sana" dalam konteks ini artinya dia belum punya cukup waktu untuk mendinginkan diri. Perempuan yang menampar seseorang lalu menjatuhkan kalimat "mati saja kamu" dengan nada yang sangat terkontrol, memutar badan, dan berjalan keluar tanpa menoleh satu kali pun biasanya butuh jeda yang jauh lebih panjang dari dua puluh menit sebelum bisa diajak bicara dengan hasil yang produktif. Ryan bukan pengecut. Tapi dia juga bukan orang bodoh yang menabrak dinding bata yang masih membara. 'Helena,' Ryan memutuskan. 'Malam ini ke sana dulu.' Dia baru saja mau membuka kontak ketika ponselnya bergetar lebih dulu. Nama yang muncul di layar, Helena. Ryan memandang layarnya tepat tiga detik, lalu menerima
Ryan berdiri di sisi tempat tidur, memandang dua tiket bioskop di lantai. Ekspresinya seperti orang yang baru selesai menghitung berapa banyak kerusakan yang terjadi dalam satu jam terakhir dan menemukan angkanya jauh lebih besar dari perkiraan awal. 'Ini tidak masuk dalam rencana,' batinnya. Amy berdiri di dekat pintu yang masih terbuka, napasnya terbatuk satu kali. Matanya memandang koridor yang sudah kosong. Lalu perlahan kembali ke Ryan. Sebelum salah satu dari mereka sempat bicara, suara lain terdengar dari koridor. Suara yang sangat Ryan kenal, dan nada yang sudah dia hafal berarti sesuatu sedang berjalan dengan sangat serius. "Direktur, tolong, kamu harus yakinkan saya bahwa dia baik-baik saja. Saya tidak bisa pergi sebelum memastikan kondisinya." Celeste. Diikuti langkah kaki yang lebih berat dan teratur. Kemungkinan besar direktur rumah sakit yang tadi dibawa Celeste dari kantornya setelah Dr. Lawson mengusirnya keluar. Ryan memandang ke kirinya. Tempat tidur yang b
Pijatan itu memang bagus. Ryan mengakui itu dalam hati, berbaring tengkurap di tempat tidur dengan wajah menghadap bantal. Tangan Amy kecil tapi punya tekanan yang lebih dari sekadar terlihat dari ukurannya. Bahu, punggung atas, sisi leher yang sering kaku karena kebiasaan tidur di tempat yang bukan tempat tidur, semua mendapat perhatian yang cukup terukur dan tepat sasaran. 'Tidak buruk,' Ryan berpikir. 'Untuk seseorang yang baru saja hampir mengalami hari terburuk dalam kariernya.' Dia hampir mau bilang bahwa bagian depan juga perlu dipijat kalau sudah selesai di belakang. Tapi sebelum kalimat itu sempat keluar, sesuatu menusuk keras di bagian bawah punggungnya tanpa peringatan apa pun. Jarum. Ryan memekik setengah, tubuhnya langsung berguling ke samping. Tangan kirinya refleks menutup area yang baru saja diserang sementara matanya mencari Amy. Perawat muda itu berdiri di sisi tempat tidur dengan jarum kosmetik di tangan kanan dan senyum yang sama sekali tidak menyesal.
"Sayang..." Ryan meletakkan garpu itu kembali ke atas meja dengan gerakan paling lembut yang bisa ia tampilkan. Matanya mengamati Celeste dengan kewaspadaan seseorang yang berdiri di depan bom yang sudah dihitung mundur."Ryan! Hendrikson!" Celeste menyebut namanya kata per kat
Ryan menggeleng pelan, lalu menepuk bahu polisi muda di sebelahnya. "Coba kamu yang ketuk. Bilang kamu petugas PLN mau cek meteran. Kalau tidak ada yang buka dalam tiga menit, putus aliran listriknya." Polisi muda itu mengangguk dan langsung bergerak. Ryan menarik Miranda ke samping. "Kamu ini se
Setelah makan malam, Celeste duduk di sofa dengan tangan mengelus perutnya sendiri yang terasa sangat penuh, lalu menoleh ke Ryan dengan ekspresi yang sangat tidak bisa memutuskan antara puas atau kesal. "Ini salah kamu. Masak enak banget sampai aku tidak bisa berhenti." Ini adalah pertama kalinya
Mahal memang, tapi kepiting raja itu benar-benar tidak bisa dibohongi soal rasanya. Ryan memecahkan bagian kaki kepiting dengan hati-hati, menghisap dagingnya yang putih lembut, dan mengunyah dengan ekspresi seseorang yang sedang menikmati momen terbaik dalam hidupnya. Emma memandanginya dengan r






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore