Mag-log inPensiun dari dunia berdarah, Ryan Hendrikson sebenarnya hanya ingin hidup santai. Namun, pernikahan paksa dengan CEO cantik nan dingin, Celeste Thornfield, membuatnya berujung dihukum menjadi satpam perusahaan calon istrinya sendiri. Masalahnya, tidak ada yang pernah menduga bahwa pria yang dipaksa menjadi satpam itu sebenarnya adalah sang dewa perang legendaris terhormat, Ares!
view moreBRAK!
Pintu kamar 207 terbuka dengan paksa.
"JANGAN BERGERAK! KALIAN DICURIGAI MELAKUKAN TRANSAKSI PROSTITUSI!"
Seorang polisi wanita berseragam rapi melangkah masuk dengan dua rekannya, mata tajamnya langsung menangkap pemandangan di dalam kamar, seorang pria berpenampilan kusut dengan kumis tipis berdiri di tengah ruangan, sementara seorang wanita cantik hanya mengenakan handuk mandi, rambutnya masih basah.
Suasana di kamar itu langsung menjadi sangat tegang.
"Petugas polisi, tunggu dulu..." Ryan Hendrikson mengangkat kedua tangannya, mencoba menjelaskan. "Ini bukan seperti yang Anda pikirkan..."
"Bukan seperti yang saya pikirkan?" Polisi wanita itu, name tag-nya tertulis M. Stone, menyilangkan tangannya di depan dada, tatapannya tajam beralih antara Ryan dan wanita di hadapannya.
Senyum mengejek tersungging di sudut bibirnya. "Pria dengan penampilan... begitu, dan wanita setengah telanjang di penginapan yang terkenal dengan reputasi buruknya. Anda pikir saya bodoh?"
Wanita itu, Elara Sinclair, gemetar dengan wajah pucat. Handuk mandinya dia genggam erat-erat, air mata hampir keluar dari matanya. "Petugas, ini benar-benar bukan seperti yang Anda kira! Kamar ini saya yang sewa dengan identitas asli saya, kami... kami tidak ada transaksi tidak pantas..."
Suaranya semakin mengecil, terutama saat mengucapkan "transaksi tidak pantas". Wajahnya memerah padam, jelas butuh keberanian besar untuk mengatakan hal itu.
"Tidak pantas?" Miranda Stone, polisi wanita itu, tidak terpengaruh. "Wajah Anda sekarang merah sekali. Jangan coba-coba berbohong di sini. Kami sedang gencar melakukan razia prostitusi di area ini. Anda pikir saya akan percaya begitu saja?"
Tatapannya beralih ke Ryan, semakin meremehkan. "Dan Anda, lihat penampilan Anda. Cukup lihat kalian berdua sekarang, saya bisa langsung membawa kalian ke kantor polisi!"
Ryan diam sejenak. Otaknya bekerja cepat. Dia baru saja kembali ke kota ini setelah bertahun-tahun, dan malam pertamanya akan dihabiskan di kantor polisi gara-gara permainan bodoh suit dengan teman-temannya?
Tidak, tidak bisa. Besok dia harus bertemu istrinya, wanita yang bahkan belum pernah dia lihat langsung, hanya dari foto di buku nikah.
Kalau sampai masuk kantor polisi malam ini...
"Petugas," kata Ryan dengan tenang, "saya rasa Anda benar-benar salah paham."
"Oh?" Miranda menyipitkan mata. "Kalau begitu, buktikan."
Ryan merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan buku kecil berwarna merah, buku nikah yang diberikan keluarganya beberapa hari lalu. Dia membukanya dan menyodorkannya ke Miranda.
"Ini istri saya."
Hening total.
Elara menatapnya dengan mata membulat. "APA?!"
Miranda merebut buku nikah itu dan memeriksanya dengan teliti. Alisnya terangkat saat melihat foto wanita di halaman itu, memang ada kemiripan dengan Elara, terutama bentuk wajah dan matanya. Tinggi badan, tanggal lahir, semua data tercantum di sana.
"Namanya..." Miranda membaca dengan hati-hati.
"Celeste Thornfield," jawab Ryan sambil melirik data di buku itu. "Lahir 15 Agustus 1999, tinggi 165 cm, berat 48 kg."
Miranda menatap Elara. "Itu benar namamu?"
Elara membuka mulutnya, tapi tidak ada kata yang keluar. Otaknya bekerja cepat, kalau dia menyangkal, mereka berdua akan dibawa ke kantor polisi. Tapi kalau dia mengiyakan...
Ryan memberi isyarat halus dengan matanya. Kerja sama denganku.
"...Iya," kata Elara akhirnya, suaranya terdengar dipaksakan.
Miranda jelas tidak puas. "Kalau kalian benar-benar suami istri, kamu pasti tahu detail tentang istrimu. Detail yang tidak mungkin kamu tahu kalau kalian tidak benar-benar menikah."
Ryan menatap buku nikah di tangannya, semua data tertulis lengkap di sana. Dia berbicara dengan nada sangat percaya diri. "Ulang tahunnya 15 Agustus 1999. Tinggi 165, berat 48 kilogram, ukuran tubuh 93-60-95." Dia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada lebih pelan..."Dia punya tahi lalat kecil di bawah dada sebelah kiri. Pakai underwear renda ungu."
Wajah Elara sekarang semerah tomat.
Miranda menatap Elara dengan tatapan menyelidik. "Ikut saya. Kita verifikasi."
Lima menit di kamar mandi terasa seperti eternitas. Ketika mereka keluar, Elara sudah mengenakan pakaian lengkap, dan ekspresi Miranda sudah berubah drastis.
"Maaf," kata Miranda dengan nada lebih sopan, meskipun masih ada nada curiga. "Sepertinya saya memang salah paham. Tapi lain kali, tolong lebih hati-hati. Penginapan seperti ini sering dijadikan tempat transaksi ilegal. Mudah disalahpahami."
"Tentu, petugas," jawab Ryan sambil mengangguk. "Terima kasih atas pengertiannya."
Setelah Miranda dan rekannya pergi, keheningan canggung mengisi ruangan.
"Terima kasih," kata Elara pelan. "Kau menyelamatkanku dari situasi yang sangat memalukan."
"Sama-sama," jawab Ryan sambil bergerak ke arah pintu. "Maaf sudah membuat kacau. Teman-temanku yang iseng..."
TOK TOK TOK!
Ketukan di pintu membuat mereka berdua terdiam.
"Elara!" suara pria terdengar dari luar. "Aku tahu kau di dalam! Buka pintunya!"
Wajah Elara berubah. "Garrett..."
Sebelum dia sempat bereaksi, pintu terbuka dan seorang pria muda berjas mahal melangkah masuk tanpa permisi. Rambutnya ditata rapi dengan gel, tapi wajahnya kurus dengan mata yang cekung, tanda orang yang terlalu banyak bergadang dan... aktivitas lainnya.
"Elara, aku sudah pesan..." Garrett Blackwood berhenti saat melihat Ryan. Ekspresinya berubah dari terkejut menjadi jijik. "Siapa ini?"
"Ah, saya baru selesai memeriksa saluran pembuangan untuk Nona Elara," kata Ryan dengan nada santai sambil berjalan ke pintu. "Sudah tidak tersumbat. Saya permisi dulu."
"Tunggu!" Garrett menghalangi jalannya. Matanya menyapu Ryan dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan. "Tengah malam begini kau 'perbaiki saluran pembuangan'? Kau pikir aku bodoh?"
Ryan mengerutkan kening. "Permisi, saya harus pergi..."
"APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA?!" Garrett mencoba memegang kerah Ryan.
"Garrett, hentikan!" Elara maju, mencoba melerai.
Tapi Garrett sudah kelewatan. "Elara, kau dengan pria murahan seperti ini?! Darimana kau ambil pekerja kasar ini..."
Ryan tidak membiarkannya menyelesaikan kalimat.
Dalam satu gerakan cepat yang hampir tidak terlihat, Ryan menangkap tangan Garrett yang terulur, memelintirnya sedikit, cukup untuk menyebabkan rasa sakit tapi tidak sampai patah, lalu mendorong tubuh Garrett ke dinding.
BRAK!
Kepala Garrett membentur dinding. Dia terjatuh seperti karung beras, mengerang kesakitan.
"Ingat ini," kata Ryan dengan suara rendah dan datar. "Lain kali kalau mau menyalak, bawa beberapa orang lagi."
Garrett hanya bisa merintih, wajahnya pucat.
Ryan berbalik ke Elara, mengambil seikat mawar yang terjatuh dari tangan Garrett, dan memberikannya pada Elara. "Bungamu."
Tanpa menoleh lagi, dia berjalan keluar dari kamar.
Di koridor yang sempit dan pengap, Ryan menghela napas panjang. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena takut, tapi karena menahan diri. Dulu, dia akan melakukan jauh lebih buruk pada orang seperti Garrett.
Tapi itu kehidupan lama.
Sekarang dia harus hidup normal.
Besok, dia akan bertemu istrinya. Celeste Thornfield. Wanita yang wajahnya hanya dia lihat di foto di buku nikah, wajah dingin dengan mata tajam yang terlihat seperti tidak pernah tersenyum.
Ryan menatap buku nikah di tangannya sekali lagi, lalu memasukkannya kembali ke saku.
Kehidupan barunya akan segera dimulai.
Dan entah kenapa, dia merasa itu tidak akan semudah yang dia bayangkan.
Empat puluh menit berlalu.Tidak ada tanda-tanda ketiga orang itu akan keluar dalam waktu dekat. Ryan sudah menghabiskan dua batang rokok, membaca beberapa notifikasi yang tidak penting, dan entah kenapa mulai menghitung berapa kali mobil melintas di jalur itu.Dua belas. Sekarang tiga belas.Perutnya sedikit lapar. Dan rokok terakhirnya sudah habis beberapa menit lalu. Ia melirik ke dalam laci dashboard, membalik-baliknya, lalu menutupnya lagi.Kosong.'Sebentar saja.'Ia turun dari mobil, mengunci pintu, dan berjalan ke toko serba ada kecil di ujung blok. Beli permen karet, balik. Paling lima menit.Lima menit kemudian, ia kembali ke arah mobilnya.Dan berhenti di tempatnya.Kaca depan mobilnya penuh dengan sesuatu berwarna putih yang ditempel dengan keteraturan yang aneh dari satu ujung ke ujung yang lain. Ryan mendekat perlahan, keningnya berkerut satu garis tipis.Pemba
Celeste menatap Ryan dengan tatapan yang tidak membutuhkan banyak kata untuk menyampaikan apa yang ada di pikirannya. "Pergi." Satu kata. Cukup. Ryan tidak bergerak. "Aku cuma bertanya." "Kamu bertanya sambil melihat kami seperti itu." Celeste menunjuk matanya sendiri, lalu menunjuk ke arah Ryan. "Berhenti." "Kakak Ipar, sebenarnya dia ada benarnya." Hannah memotong dari kursinya dengan nada yang terlalu santai untuk menjadi netral. "Kalau ada yang mengantar, kita bisa pesan apa pun tanpa mikir parkir. Dan minta tolong bawain barang kalau banyak." Ryan langsung mengangguk. "Betul. Aku juga bisa bantu bawakan tas belanjaan." Celeste melirik Hannah, lalu ke Ryan, lalu kembali ke Hannah. Lama. "Kamu ini di pihak siapa." "Di pihak yang praktis." Hannah mengangkat bahu. Celeste menghela napas pendek yang tidak sepenuhnya keberatan. Ia mendorong kunci mobil ke arah meja di depan Ryan. "Antar saja. Tidak perlu bawakan tas." "Kenapa tidak perlu?" "Karena kamu tidak bisa masuk." Han
Ketika cahaya pertama matahari mulai menyentuh ujung tembok halaman, Mina melangkah ke arahnya. Ia berlutut satu lutut di hadapan Ryan, telapak tangannya terangkat. Energi mulai mengalir dari arah itu ke dalam sistem Ryan seperti arus yang punya arahnya sendiri, tidak dipaksa, tidak ditahan. Ryan merasakan perbedaannya langsung. Lebih murni dari sebelumnya. Lebih padat. Seperti udara di puncak gunung dibandingkan udara di bawahnya. Setiap jalur energi dalam tubuhnya menerimanya lebih cepat, lebih dalam, tanpa hambatan yang biasanya ada. Tapi ia juga merasakan yang lain. Mina bergetar sangat kecil. Hampir tidak terdeteksi. Tapi Ryan terlalu terlatih untuk tidak menangkap getaran sekecil apa pun dari seseorang yang ada di dekatnya. Ritual itu memakan sesuatu dari Mina. Selalu begitu. Dan setiap kali Ryan mencoba membicarakannya, Mina hanya diam atau mengalihkan topik dengan cara yang sopan tapi tidak memberi celah untuk dilanjutkan. 'Aku tidak akan bisa menghentikannya.' Da
Ryan melirik Derrick satu kali dengan tatapan yang tidak memerlukan kata-kata, lalu berbalik dan berjalan. "Oke, oke, aku dengar kamu." Derrick melambai ke punggung Ryan yang semakin menjauh. "Pergi cari duniamu sendiri! Aku juga punya jalanku!" Ryan tidak menoleh. Ia memasukkan satu tangan ke saku dan mempercepat langkahnya menuju jalan utama. Malam itu sudah cukup panjang. ** Subuh belum sepenuhnya terang ketika Ryan sudah ada di halaman vila. Langit di timur masih abu-abu, dan embun masih menempel tipis di rumput di bawah kakinya. Tapi kakinya sudah bergerak, sudah dalam pola yang ia hafalkan lebih dari satu dekade lalu. Tidak ada yang berubah dari urutannya, tidak ada yang dikurangi, tidak ada yang dilompati. Ia tidak pernah memulai hari dengan cara lain. Tangan mengikuti ritme napas yang masuk dan keluar dengan kecepatan tetap meskipun seluruh tubuhnya sedang bekerja keras. Energi internal bergerak di jalur-jalur dalam tubuhnya seperti air yang mengikuti kanal yang su
"Sayang..." Ryan meletakkan garpu itu kembali ke atas meja dengan gerakan paling lembut yang bisa ia tampilkan. Matanya mengamati Celeste dengan kewaspadaan seseorang yang berdiri di depan bom yang sudah dihitung mundur."Ryan! Hendrikson!" Celeste menyebut namanya kata per kat
Ryan menggeleng pelan, lalu menepuk bahu polisi muda di sebelahnya. "Coba kamu yang ketuk. Bilang kamu petugas PLN mau cek meteran. Kalau tidak ada yang buka dalam tiga menit, putus aliran listriknya." Polisi muda itu mengangguk dan langsung bergerak. Ryan menarik Miranda ke samping. "Kamu ini se
Setelah makan malam, Celeste duduk di sofa dengan tangan mengelus perutnya sendiri yang terasa sangat penuh, lalu menoleh ke Ryan dengan ekspresi yang sangat tidak bisa memutuskan antara puas atau kesal. "Ini salah kamu. Masak enak banget sampai aku tidak bisa berhenti." Ini adalah pertama kalinya
Mahal memang, tapi kepiting raja itu benar-benar tidak bisa dibohongi soal rasanya. Ryan memecahkan bagian kaki kepiting dengan hati-hati, menghisap dagingnya yang putih lembut, dan mengunyah dengan ekspresi seseorang yang sedang menikmati momen terbaik dalam hidupnya. Emma memandanginya dengan r












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
RebyuMore