Se connecterPensiun dari dunia berdarah, Ryan Hendrikson sebenarnya hanya ingin hidup santai. Namun, pernikahan paksa dengan CEO cantik nan dingin, Celeste Thornfield, membuatnya berujung dihukum menjadi satpam perusahaan calon istrinya sendiri. Masalahnya, tidak ada yang pernah menduga bahwa pria yang dipaksa menjadi satpam itu sebenarnya adalah sang dewa perang legendaris terhormat, Ares!
Voir plusHelena menahan napasnya. "Barang yang aku beli.""Beli." Blake mengulang kata itu dengan penekanan yang mengandung tanda tanya besar dan tidak berniat menyembunyikannya. Matanya bergerak ke kantong itu, ke Ryan, lalu kembali ke Helena. "Dengan gaji karyawan level kamu, mampu beli produk dari toko kita?""Harganya memang tidak murah, tapi aku...""Tidak murah adalah cara yang sangat halus untuk menyebutnya." Blake memotong, melangkah setengah langkah lebih dekat dengan senyum yang masih ada di tempatnya. Intonasinya berubah menjadi sesuatu yang terdengar profesional di permukaan tapi punya tekanan di baliknya. "Helena, satu item dari toko kita harganya paling murah dua belas juta MLC. Kalau isinya dua item seperti yang aku lihat tadi, itu minimal dua puluh empat juta. Dan itu kalau yang paling murah." Dia berhenti. "Berapa gajimu per bulan?"Helena tidak menjawab. Rahangnya mengencang.Blake menoleh ke Ryan. "Dan kamu, pria miskin mana yang mampu beli barang seperti ini?"Ryan merog
Udara malam di Jalan Eastbridge sudah turun beberapa derajat dari sore, membawa bau tipis aspal dingin dan toko-toko yang baru tutup. Lampu-lampu jalan menyala hangat, tapi jalanan hampir kosong.Mereka baru beberapa langkah dari pintu toko ketika lampu sorot sebuah Mercedes-Benz yang diparkir rapi di sisi jalan tiba-tiba menyala. Pintu penumpang terbuka, dan seorang pria turun dengan gerakan orang yang sudah terbiasa dengan mobil mahal dan merasa penting karenanya. Setelan hitamnya licin, rambutnya mengkilap dengan gel yang terlalu banyak, dan senyumnya muncul dengan cara senyum yang muncul bukan karena senang tapi karena merasa perlu ditampilkan kepada siapa pun yang ada di dekatnya.Matanya langsung ke Helena. Ryan tidak ada di radar penglihatannya."Helena." Pria itu melangkah ke depan dengan tangan setengah terangkat. "Kebetulan sekali ketemu di sini."Helena menghentikan langkahnya. Di sebelah Ryan, bahu kirinya sedikit menegang. "Manajer Blake."Blake. Manajer toko Elise Lin
Ryan tidak tahu dia sedang diamati. Atau mungkin tahu tapi memilih untuk tidak menunjukkannya. Dia terus bicara kepada perempuan-perempuan di depannya dengan cara yang sama seperti orang bicara soal investasi atau cuaca, tanpa canggung, tanpa malu, tanpa pretensi bahwa ini adalah topik yang tabu.Dan itu yang membuat semua perempuan di toko ini tetap berdiri dan mendengarkan daripada pergi.Bukan karena kalimatnya selalu benar. Tapi karena dia bicara seperti seseorang yang tidak menghakimi, tidak ada agenda tersembunyi, hanya menyampaikan apa yang dia tahu dengan cara yang tidak meminta siapa pun untuk merasa malu mendengarnya.Helena mengambil posisi di balik kasir dan mulai merapikan beberapa barang sambil memperhatikan dari sudut matanya.Satu per satu, perempuan yang tadinya hanya berdiri mulai berjalan ke kasir. Satu membawa dua item. Satu membawa empat. Satu membawa kantong kecil yang ternyata berisi tiga set sekaligus ketika Helena membukanya untuk dicek.Saat orang terakhir
Ryan tahu dengan cukup yakin bahwa suami-suami dari perempuan-perempuan yang ada di toko ini bukan tipe yang pulang tepat waktu.Bukan karena dia kenal mereka. Tapi karena dia sudah cukup lama berada di dunia yang sama dengan pria-pria seperti itu untuk mengenali polanya. Rapat sampai malam, makan malam klien, lembur yang tidak pernah bisa dijelaskan dengan tepat. Dan di rumah, istri yang berdandan rapi setiap pagi untuk pekerjaan atau arisan tapi sudah lupa kapan terakhir kali berdandan untuk suaminya sendiri, bukan untuk orang lain, bukan untuk acara, tapi untuk dia.Bukan karena tidak mau. Tapi karena sudah tidak terpikir."Kalian terlalu terikat pada cara pikir yang tidak berkembang," kata Ryan, mengembuskan asap ke sisi sambil memandang deretan rak di hadapannya. "Kebosanan visual itu normal. Tapi solusinya bukan menyerah. Ada cara menciptakan kejutan tanpa harus menjadi orang yang berbeda.""Maksudnya?" Perempuan yang tadi paling berani bicara kembali angkat suara, posisinya
"Sayang..." Ryan meletakkan garpu itu kembali ke atas meja dengan gerakan paling lembut yang bisa ia tampilkan. Matanya mengamati Celeste dengan kewaspadaan seseorang yang berdiri di depan bom yang sudah dihitung mundur."Ryan! Hendrikson!" Celeste menyebut namanya kata per kat
Ryan menggeleng pelan, lalu menepuk bahu polisi muda di sebelahnya. "Coba kamu yang ketuk. Bilang kamu petugas PLN mau cek meteran. Kalau tidak ada yang buka dalam tiga menit, putus aliran listriknya." Polisi muda itu mengangguk dan langsung bergerak. Ryan menarik Miranda ke samping. "Kamu ini se
Setelah makan malam, Celeste duduk di sofa dengan tangan mengelus perutnya sendiri yang terasa sangat penuh, lalu menoleh ke Ryan dengan ekspresi yang sangat tidak bisa memutuskan antara puas atau kesal. "Ini salah kamu. Masak enak banget sampai aku tidak bisa berhenti." Ini adalah pertama kalinya
Mahal memang, tapi kepiting raja itu benar-benar tidak bisa dibohongi soal rasanya. Ryan memecahkan bagian kaki kepiting dengan hati-hati, menghisap dagingnya yang putih lembut, dan mengunyah dengan ekspresi seseorang yang sedang menikmati momen terbaik dalam hidupnya. Emma memandanginya dengan r
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentairesPlus