Hannah tidak bisa diam sejak keluar dari pintu mal. Dia berjalan setengah melompat di depan Ryan, kakinya hampir tidak mau menapak trotoar dengan normal. Sesekali berbalik, sesekali maju lagi, bicaranya tidak berhenti sedetik pun. Mina berjalan tenang di sisi Ryan, tidak ikut campur, ekspresinya datar seperti seseorang yang sudah terbiasa mengabaikan keributan. "Sudah berapa kali dia datang, sudah berapa kali aku tolak, tidak pernah kapok." Hannah menggelengkan kepala dengan semangat berlebihan. "Sekarang baru tahu rasa." Ryan tidak menjawab. Langkahnya tetap, wajahnya tidak menyimpan pendapat apa pun tentang ocehan itu. Hannah meliriknya dari sudut mata. 'Dari tadi sembunyi di balik Mina, hampir bikin aku mati malu di tempat.' Tapi kemudian ia ingat hasil akhirnya. Sebastian Ashford, yang tidak pernah mau mundur walau sudah ditolak berkali-kali, kini berlutut di lantai mal dengan dua gigi tanggal dan bibir berdarah. Di depan ratusan orang. Di depan puluhan kamera ponsel y
続きを読む