Tanpa berkata apa pun lagi, Anne memeluknya. Kedua lengannya melingkari tubuh Zion erat, sangat erat, seolah ingin memindahkan separuh beban pria itu ke pundaknya sendiri. Air mata mengalir tanpa permisi, membasahi kerah bajunya dengan diam-diam."Apa kau lelah?" bisik Anne, suaranya hampir seperti doa yang diucapkan dengan sangat pelan. "Di depanku, kau tidak perlu mempertahankan itu semua. Aku tidak peduli bagaimana keadaanmu. Aku mencintaimu karena kau adalah dirimu sendiri, bukan karena citra yang kau bangun untuk dunia luar. Kau boleh terlihat lelah, boleh menangis, boleh jatuh. Aku tidak akan pergi."Pelukan ini terasa berbeda dari semua pelukan sebelumnya. Ada ketulusan yang berbicara lebih keras dari kata-kata apa pun, dan rupanya ketulusan itu cukup untuk meruntuhkan sisa-sisa tembok yang masih Zion pertahankan mati-matian.Air mata pria itu jatuh. Pelan pada awalnya, lalu semakin mengalir. Bahunya berguncang pelan, dan Anne hanya diam menunggu, sesekali mengelus punggungnya
閱讀更多