Mag-log inAnne Roselle diusir keluarganya saat hamil di usia 18 setelah kekasihnya menolak bertanggung jawab. Delapan tahun kemudian, pria itu kembali dan masih mencintainya, namun kini ingin merebut puteri mereka sebagai alat mengikat Anne. Saat Zion Kenneth menawarkan pernikahan demi melindungi mereka, kecemburuan saudara tiri Anne memicu tragedi yang merenggut nyawa sang anak. Hancur dan dipenuhi dendam, Anne bersumpah: mereka yang menghancurkan hidupnya akan membayar segalanya. Dan satu per satu rahasia yang disimpan Zion perlahan tersingkap bersama dendam Anne.
view more“Gugurkan saja anak itu. Aku tidak bisa menikahimu!”
Kalimat itu jatuh dengan datar, tanpa ragu, tanpa jeda. Anne Roselle menatap pria di hadapannya seolah sedang menunggu dia tertawa dan berkata itu hanya lelucon. Namun, Max Harold tidak tertawa, tidak juga tampak merasa bersalah. Wajahnya terlalu kaku untuk melemparkan sebuah lelucon. “Kau serius?” suara Anne nyaris berbisik. Max menghela napas panjang, seakan-akan dialah yang sedang menghadapi masalah besar. “Anne, pikirkan semua ini dengan baik. Kau hamil, aku akan kuliah ke luar negeri, dan sekarang kau bicara soal menikah dan bertanggung jawab. Apa kau tidak merasa ini terlalu kebetulan?” Alis Anne berkerut. “Kebetulan apa maksudmu?” Saat ini, mereka memang baru saja lulus dari sekolah menengah. Malam kelulusan itu bahkan baru terjadi beberapa hari yang lalu. Max bersandar santai. “Ya … seolah semuanya terjadi tepat saat aku akan pergi. Aku jadi bertanya-tanya. Ini ... sungguh kecelakaan atau sudah direncanakan?” “Kau menuduhku?” Anne mengernyitkan dahinya. “Aku tidak menuduh.” Max tersenyum tipis. “Aku hanya mencoba berpikir secara logis. Kita harus realistis, An, bukannya malah emosional seperti yang kau lakukan saat ini.” Kedua tespack di atas meja yang diletakkan Anne sejak dia duduk di meja itu terasa seperti bukti yang tiba-tiba saja tidak ada artinya. Jemarinya bertaut gelisah di bawah meja. Bukan seperti ini yang dia inginkan. Tidak. Dia tidak berharap menerima reaksi seperti ini dari orang yang dicintainya selama tiga tahun ini. “Max, aku tidak akan mungkin hamil tanpa ...” “Tanpa apa?” potong Max cepat, seolah sudah tahu apa yang akan Anne ucapkan. “Anne, dunia ini tidak sepolos dan sesempit itu. Kau tak perlu munafik di depanku.” Kalimat itu seperti tamparan yang amat menyakitkan. Anne berusaha tetap tenang, meneguhkan hati demi keputusan yang perlahan disesalinya. “Aku tidak pernah menyentuh pria lain.” Suara gadis itu terdengar rendah, namun penuh ketegasan. “Aku tidak bilang kau melakukannya dengan pria lain.” Max mengangkat bahu, penuh keengganan. “Aku kan hanya bilang kemungkinan itu selalu ada. Jangan sensitif. Jangan memutarbalikkan perkataanku.” Anne menelan ludah, sebuah senyum pura-pura tergambar di wajahnya. “Kau yang memintaku menyerahkan diri,” ungkapnya pelan, kata-kata itu lolos dengan nada sarat ketidakpercayaan. “Sebulan yang lalu. Kau bilang kau mencintaiku. Kau bilang aku milikmu. Kau bilang ... aku harus menyerahkan diri padamu sebagai bentuk rasa cintaku. Aku melakukan semua yang kau minta.” Max tersenyum samar, lalu mengangguk-anggukkan kepala. “Memang. Aku memang mencintaimu. Tapi justru karena itu aku tidak mau hidupmu hancur.” “Hidupku hancur?” “Ya. Bayangkan, kau hamil di usia delapan belas. Tanpa rencana. Usia yang amat sangat muda. Masa depanmu tidak akan jelas.” Suaranya terdengar lembut dengan nada membujuk, bahkan terlalu lembut hingga rasanya dia seolah peduli. “Aku menyelamatkanmu dari sebuah kesalahan besar, Anne.” “Menyelamatkanku? Dengan memintaku menggugurkan anakku?” “Anak itu bahkan belum tentu itu anakku,” koreksi Max cepat dengan suara yang nyaris tak terdengar, namun telinga Anne menangkap satu per satu kata itu dengan sangat jelas. Hening merayap sejenak ketika Anne tidak sanggup menemukan hal apa yang harus dia katakan lagi. Dia sudah kalah sejak awal. Harusnya dia tidak melakukannya. Harusnya dia tidak dengan mudahnya percaya pada Max. “Juga,” Max kembali melanjutkan kalimatnya setelah dia terlihat berpikir selama beberapa detik, “kau tahu, ukuran janinnya juga belum terlalu besar. Prosedur aborsi untuk janin sekecil ini amat cepat. Aku akan menanggung semua biayanya. Setelah itu, kita bisa melanjutkan kehidupan kita seperti biasa. Kau bebas, begitu pula diriku.” “Melanjutkan kehidupan seperti biasa? Kehidupan yang mana?” Anne semakin tak paham dengan arah pikiran Max. “Well, aku kuliah ke luar negeri, dan kau akan melanjutkan kuliahmu juga di sini. Kita bisa saling mencintai tanpa beban. Ini sudah solusi yang paling tepat, rasional, dan juga dewasa.” “Kau yakin itu solusi yang paling tepat?” “Tentu saja.” Max condong sedikit, menatap Anne dengan tajam. “Jangan egois, An. Jangan karena perasaanmu, masa depan kita berdua jadi hancur. Kau tidak menginginkannya, kan?” Egois? Tuduhan itu menusuk jauh lebih dalam dari kalimat mana pun. Anne mengangguk perlahan. Dia tahu apa yang harus dia lakukan usai berbicara panjang dengan Max. “Baiklah,” ungkapnya pada akhirnya. Terlihat kelegaan langsung terpancar di wajah Max. Dia tersenyum cepat. “Nah, begitu. Aku tahu kau pintar. Kau paling mencintaiku di dunia ini dan kau tidak akan mau melihatku menanggung beban ini terlalu cepat.” Anne mengangguk lagi, seolah dia membenarkan. “Ya. Aku akan menggugurkan janin ini.” Ekspresi wajah Max makin berbinar. “Bagus, An. Sekarang, kita bisa ke klinik atau ke rumah sakit. Aku punya beberapa kenalan,” katanya sambil mengutak-atik ponselnya, tidak melihat jika Anne bersiap untuk pergi. “Aku bisa buat janji temu sekarang atau ...” “Hubungan kita selesai!” potong Anne cepat. “Apa?” suara Max tajam, wajahnya terangkat menatap Anne. “Kau bilang apa barusan?” “Sejak kau memintaku menghilangkan nyawa anakku, sejak kau meragukanku, sejak kau menjadikan masa depanmu sebagai alasan untuk membunuh janin dalam perutku, saat itu juga kita selesai.” “Anne, tapi aku ...” “Aku tidak menyangka aku akan mencintai pria sepertimu.” Anne tersenyum mengejek dirinya sendiri. “Rupanya, dulu aku terlalu bodoh untuk memahamimu.” Rahang Max mengeras, dia ikut berdiri. “Kau terlalu dramatis, Anne. Semua yang ku katakan itu hanya alasan yang realistis. Kau tidak perlu sensitif seperti ini. Kalau memang hormonmu sedang ...” “Aku memang mencintai pria yang salah, dan itu kenyataan,” potong Anne cepat. Max menegang, dia meraih tangan Anne ketika gadis itu hendak pergi. “Katakan kau akan menggugurkannya, An. Kau tahu kan, tidak ada seorang pria pun yang menginginkan wanita hamil?” “Aku tak butuh pria untuk semua ini.” Anne melepas tangannya dengan kasar. “Ini tubuhku. Kau dan siapa pun tak berhak mencampurinya. Ini urusanku.” Anne berbalik. Langkahnya tegas keluar dari cafe tempatnya bertemu dengan Max. Namun, ketika dia sudah jauh dari pandangan pria itu, air mata yang sedari tadi ditahannya mendadak luruh. Butiran bening itu jatuh perlahan, semakin deras seiring dengan tatapannya yang semakin kabur. Dia tidak menyangka, pria yang mengatakan cinta padanya setiap hari itu hanyalah seorang pria yang tidak bertanggung jawab. “Pria brengsek!”Pintu lift bergerak perlahan sebelum akhirnya terbuka dengan bunyi ding yang nyaring. Jack memperbaiki posisi topinya sebelum dia keluar sambil bersiul ringan. Namun langkahnya langsung berhenti.Di depan unit apartemennya, bukan area lobi kosong yang menyambutnya, melainkan beberapa petugas kepolisian berseragam lengkap. Wajah Jack langsung mengeras. Tapi dia tetap tenang. Tidak ada yang tahu rencananya. Bisa saja mereka di sana untuk urusan lain.Hingga dia melihat Anne dan Zion, berdiri sedikit jauh dari para petugas. Kemarahan langsung menyambar seperti api yang disiram bensin. Anne berdiri di sana dengan santai, sedangkan Zion berdiri sedikit di depannya, dengan sadar menjadi tembok pelindung.Tangan Jack langsung mengepal. Untuk sesaat, jantungnya langsung berdegup cepat. Mereka tahu? Tapi dari mana? Rencana ini hanya ada di kepala Jack. Bahkan Vivian dan Mary disuruhnya pergi agar dia bisa melancarkan aksinya.Keduanya bahkan tidak tahu sama sekali. Tapi, kenapa mereka di sana
Anne tetap terjaga saat dia mendengar tarikan napas Zion panjang dan tenang. Pria itu telah tertidur, memeluk dirinya bagai guling. Anne masih belum bisa memejamkan mata walau dia tadinya ingin menyusul tidur.Pelan-pelan Anne mengangkat tangan Zion yang memeluknya. Dia bergeser turun dari ranjang, memakai kembali piyamanya yang tercampak di lantai.Lalu berjalan pelan menuju balkon.Anne memejamkan mata, menghirup udara malam dengan aromanya yang menenangkan. Saat itulah bayangan Summer muncul.Anak itu tersenyum padanya, lalu melambai. Anne cepat-cepat membuka matanya kembali. Napasnya memacu cepat, namun tidak lama, dia kembali tenang. Dan tersenyum. Summer sepertinya sedang memberikan restunya, dan Anne perlahan merasakan kelegaan di hatinya.“An …”Anne menoleh, Zion setengah bangun menatapnya.“Apa yang kau lakukan? Kau tidak tidur?”Anne melihat Zion turun dari ranjang. Cahaya remang lampu kamar bermain-main di tubuh atletis pria itu ketika dia berdiri memakai pakaiannya. Otot
Suara detik jam dinding terdengar lembut mengisi kekosongan ketika dua orang dalam ruangan itu diam. Angin malam perlahan berhembus lewat jendela yang belum sepenuhnya ditutup. Tirainya melambai pelan mengikuti arah angin.Anne masih terpaku menatap Zion, pria itu pun sama. Namun kini air mata Anne telah berhenti. Dia tidak menangis. Dia ingin mengatakannya dengan jelas.“Apa aku membuatmu sedih?” Anne menggeleng. “Kau membuatku mengerti betapa dalam kau mencintaiku.”Pria itu tersenyum tipis. Dia mengusap wajah Anne. Tepat sekali dugaannya. Melihat Anne tidak mengatakan apa pun lagi sejak tadi membuktikan jika semua itu hanya keinginan impulsifnya karena ingin segera menggantikan Summer.Walau ada sekelumit rasa kecewa, Zion belajar menahan diri. Dia tidak akan membebani Anne. Dia juga tidak mau Anne mengandung dalam keadaan terpaksa. Jika ingin membangun keluarga lengkap, dia ingin semua pihak bahagia.“Aku akan mandi. Kau tidurlah lebih dulu.”Zion langsung meninggalkan Anne. Pr
Waktu seolah tiba-tiba berhenti. Degupan jantung yang cepat usai mencium Anne mendadak hilang, atau justru makin memacu lebih cepat sampai Zion tidak menyadarinya.Anne tersenyum kecil. Dia mendorong tubuh Zion yang dan keduanya duduk berhadap-hadapan. Anne memegang kedua lengan Zion, mengatakan hal yang sama untuk kedua kalinya.“Zion, ayo punya anak.”Ekspresi Anne tenang, seolah kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya bukan sesuatu yang mampu menghentikan detak jantung seorang pria. Di depannya, Zion tidak mampu mengatakan apa pun. Mulutnya seolah terkunci rapat.“Kau … tidak senang? Kenapa wajahmu datar? Katakan sesuatu!”Zion menghembuskan napasnya pelan-pelan selagi dia mengatur ritme jantungnya. Jujur saja. Jangankan mengatakan sesuatu, bernapas saja rasanya dia susah.Sejak dia jatuh cinta pada Anne setelah menikah dengannya, beberapa kali terbersit keinginan itu. Zion, sebagai pria, tentu saja dia ingin punya anak dari Anne. Dia ingin membina keluarga yang utuh, membesark
“Ayo!”Zion mengulurkan tangan pada Anne ketika keduanya hendak turun. Anne menatap telapak tangan Zion yang lebar, lalu perlahan-lahan menyambutnya. Zion menggenggam tangannya erat, terlalu erat, sebagai bukti klaim kepemilikan pria itu.Jika dia adalah milik Anne seutuhnya.Zion tahu Vivian tidak
Ketika Don membuka mata, hal pertama yang dia sadari adalah dia tidak berada di apartemennya. Langit-langit berwarna putih bersih itu jelas bukan seleranya. Dia memicingkan mata, menarik napas dalam-dalam sambil menggosok pelipisnya.Kepalanya sakit bak dipukul gada. Kesadarannya belum sepenuhnya p
Don mulai merasakan kepalanya berputar-putar. Dia melirik Zion dan pria itu langsung paham. Vivian masih duduk disampingnya, seolah sedang menunggu. Dia terus menatap Zion tanpa henti seperti seekor rubah yang mengincar makan malamnya.“Aku rasa aku harus pergi,” bisik Don pada Zion.“Kemana? Denga
Entah kenapa, Anne tertidur sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Ada rasa lelah yang mendera, namun bukan lelah secara fisik. Tubuhnya terasa berat dan pikirannya kalang kabut. Hanya tidur yang membuatnya melupakan sejenak apa yang dia hadapi.Namun yang tidak dia ketahui adalah, Zion tidak membaw






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Mga Ratings
RebyuMore