Aroma teh Earl Grey yang mengepul dari cangkir porselen tipis itu seharusnya memberikan ketenangan, namun bagi Celestine, uap panasnya terasa seperti asap yang menyulut sumbu ledak di dadanya. Di hadapannya, duduk dengan keanggunan yang luar biasa menjengkelkan, Pangeran Alaric bersandar di kursi beludru ruang tamu utama Montclair. Ia tampak begitu seenaknya, begitu santai, seolah-olah ruangan ini adalah bagian dari takhtanya sendiri, bukan wilayah pribadi seorang Lady yang baru saja ia ganggu di tengah peluh latihannya.Celestine duduk tegak, punggungnya kaku seperti bilah pedang. Tangannya terlipat rapat di depan dada, menahan diri agar tidak melempar teko teh ke wajah tampan yang tanpa cela itu. Ia sengaja tidak menyentuh tehnya sendiri, ia tidak ingin memberikan kesan bahwa ini adalah jamuan sosial yang menyenangkan. Matanya yang berwarna amethyst berkilat tajam, menatap Alaric dengan tatapan yang secara eksplisit mengatakan 'Cepatlah pergi'."Teh ini luar biasa, Celestine. Perke
อ่านเพิ่มเติม